Home  »  Opinion   »  
Opinion

Menabung Secara Paksa untuk Pekerja Pemula atau Fresh Graduate

Kenapa judulnya Menabung secara Paksa? Iya, karena seringkali seorang pekerja pemula atau fresh graduate memang harus dipaksa biar mau menabung. Banyak yang berpikir kalau menabung itu nanti saja, setelah gaji tersisa. Sisa itu yang kemudian ditabungkan. Masalah yang sering terjadi justru gaji tersebut selalu habis berapapun jumlahnya. Oleh karena itu, begitu dapat penghasilan atau gaji bulanan, paksakan diri anda untuk mengalokasikan sejumlah uang ke tabungan yang anda punya.

Nah, kenapa menabung bukan investasi? Menabung memang berbeda dengan investasi, dan sebagai pemula dengan gaji yang mungkin masih pas-pasan, saya ingin mengajak fresh graduate belajar menabung terlebih dahulu. Setelah terbiasa dan sudah bisa berkomitmen, selanjutnya belajar mengenal dan memulai investasi.

Secara sederhana, berikut perbedaan menabung dan investasi.

  • Menabung adalah tindakan memisahkan sejumlah uang untuk disimpan dalam jangka pendek, dan uang tersebut masih dapat digunakan sewaktu-waktu jika diperlukan. Investasi adalah tindakan menanamkan modal pada instrumen investasi dengan harapan mendapatkan pertumbuhan nilai di kemudian hari dan menambah penghasilan. Jangka waktu investasi biasanya lebih lama, minimal 5 tahun.
  • Resiko menabung relatif kecil. Demikian juga hasil berupa bunga sangat kecil, bisa jadi hanya cukup untuk membayar biaya aministrasi tabungan di bank. Sedangkan resiko investasi biasanya lebih tinggi. Semakin tinggi imbal hasil investasi semakin tinggi pula resikonya.

Sebagai mantan fresh graduate yang mulai bekerja 10 tahun lalu, saya ingin membagikan beberapa tips dan trik menabung yang berhasil saya lakukan dan menurut saya masih relevan hingga saat ini.

The Power of Sisa

Saya menyebutnya ‘The Power of Sisa’ oleh Marrisa Girsang, tips menabung yang saya ciptakan sendiri ketika awal bekerja tahun 2007 di Jakarta. Dengan gaji yang masih pas-pasan, saya menetapkan anggaran harian Rp 40 ribu untuk biaya makan dan transportasi. Jika ada lunch meeting dengan klien dan lembur di kantor, praktis saya hanya mengeluarkan biaya sarapan. Demi berhemat, saya mengusahakan jalan kaki dari kosan ke kantor sekitar 4 s/d 5 km (pulang pergi), lumayan ya? hehe. Saat itu motivasi utama saya memang untuk berhemat, bukan untuk berolahraga. Tapi mungkin karena itu jugalah saya selalu fit dan jarang sakit. Saya juga sering kunjungan lapangan (project site visit) ke luar kota, sehingga otomatis seluruh biaya hidup ditanggung oleh perusahaan selama perjalanan dinas tersebut. Makan enak, berkunjung sambil jalan -jalan ke berbagai tempat baru, gratis pula. Saya menganggapnya sebagai rejeki kerja jadi konsultan yang memang hampir 30-40% waktu kerja adalah meeting dengan klien dan site visit, hehe.  Untuk akhir pekan, saya menetapkan anggaran lebih untuk refreshing seperti menonton, karoke, atau aktivitas lainnya bersama teman-teman.

Setiap hari, saya mencatat pengeluaran harian dan menghitung selisih antara anggaran dengan pengeluaran aktual. Jika positif (pengeluaran lebih kecil daripada anggaran), maka sisanya ditabung ke celengan. Jika negatif, berarti tidak ada yang diceleng dan sebagai pengingat agar besok atau lusa pengeluaran dijaga agar lebih kecil atau minimal sama dengan anggaran.


Dalam setahun bekerja, saya bisa menabung sekitar Rp 4 juta, angka yang cukup lumayan ya? Itulah kenapa saya mengatakannya “The Power of Sisa”. Awalnya, sisa anggaran harian yang ditabung setiap hari terlihat kecil dan sepele, tapi ternyata jumlah yang terkumpul selama setahun lumayan besar apalagi jika bisa komit untuk menjaga agar pengeluaran lebih kecil daripada anggaran. Tips ini melatih saya untuk mengontrol pengeluaran. Dana yang terkumpul, saya tabung di rekening terpisah dari rekening gaji dan disimpan sebagai dana darurat. The Power of Sisa really works for me ! 🙂 

Tabungan Rencana

Ini salah satu jenis tabungan yang menurut saya cocok untuk fresh graduate sebagai langkah awal menabung. Sesuai namanya, anda diberi kebebasan merencanakan nominal tabungan yang akan ditarik otomatis (autodebet) oleh pihak bank pada tanggal yang anda tentukan sendiri, rutin setiap bulannya. Tahun 2007, saya memulai dengan nominal Rp 200 ribu per bulan. Setelah lulus masa percobaan (probation) selama 6 bulan dan mendapatkan kenaikan gaji, saya meningkatkan saldo menjadi Rp 500 ribu per bulan. Saat ini, hampir semua bank memiliki produk tabungan rencana, dengan nominal saldo mulai Rp 100 ribu per bulan. Sesuaikan nominal tabungan dengan penghasilan anda. Jangka waktu juga fleksibel, tersedia jangka pendek bahkan jangka panjang hingga 20 tahun.

Selain  tanpa biaya adimistrasi dan suku bunga yang relatif lebih tinggi dari tabungan biasa, tabungan rencana biasanya dilengkapi dengan perlindungan asuransi. Saran saya, pilih tanggal penarikan otomatis maksimal 3 hari setelah tanggal gajian, sehingga anda terpaksa menabung sejak awal. Dengan sistem penarikan otomatis ini, anda tidak punya alasan lupa membayar dan memaksa anda menyisihkan sebagian uang serta mencukupkan diri dengan penghasilan anda yang telah dikurangi tabungan rencana tersebut.

Deposito Berjangka

Tahun 2007, ketika saya mulai bekerja, minumum saldo deposito di salah satu bank yang saya pilih adalah berkisar Rp 6 juta. Berhubung belum memiliki uang sebesar itu, saya menunggu hingga 1 periode (1 tahun) tabungan rencana selesai, uang yang terkumpul selanjutnya ditabung ke deposito. Tips dari saya: pilih deposito yang bisa dicairkan tanpa biaya penalti, tapi tetap tanamkan dalam hati anda bahwa pencairan sebelum jatuh tempo dilakukan hanya ketika benar-benar dibutuhkan (kondisi darurat). Dana deposito menjadi salah satu dana darurat bagi saya.

Celengan 20 ribu

Saya mengenal tips ini dari seorang perencana keuangan profesional, yaitu menyisihkan dan menabung setiap lembaran Rp 20 ribu yang ditemukan, kemudian disimpan di botol selai kaca bening. Menurut saya kenapa yang dipilih nominal 20 ribu adalah karena uang 20 ribu tidak terlalu sering ditemukan pada saat transaksi dan secara nominal nilainya lumayan. Ketemu 10 lembar saja dalam sebulan, uang yang terkumpul mencapai Rp 200 ribu. Kalo yang ditabung pecahan Rp 50 ribu bisa gawat, karena berarti setiap ngambil ATM uang pecahan 50 ribu, langsung dicelengin semuanya donk,hehe . Senang dan mata jadi ijo setiap melihat warna hijau lembaran uang 20 ribu yang semakin hari semakin menumpuk di dalam botol kaca bening tersebut, hehe. Satu botol penuh jumlah yang terkumpul sekitar Rp 2 juta, dan yang mengejutkan terkadang sudah penuh walau belum genap 1 tahun. Uangnya mau dikemanain? Saran saya jika memang anda masih dalam tahap mengumpulkan dana darurat, simpan uang tersebut sebagai dana darurat. Ataupun jika ingin membeli sesuatu, belilah barang yang memang benar-benar anda butuhkan. Ingat sebagai fresh graduate, saat ini fokus Anda belajar menabung dan mengumpulkan dana darurat.

Koperasi Karyawan

Jika perusahaan tempat anda bekerja ada koperasi karyawanya, ikut keanggotaannya dan rajinlah menabung. Berdasarkan pengalaman pribadi saya, imbal hasil berupa SHU (Sisa Hasil Usaha) koperasi malah lebih tinggi dari bunga deposito bank.Tingkatkan jumlah simpanan seiring kenaikan gaji yang Anda terima dari perusahaan. Saya sendiri baru ikut koperasi karyawan di perusahaan ke-2 tempat saya bekerja.

Merencanakan keuangan, menabung, dan berinvestasi adalah tahapan pembelajaran. Miliki niat dan motivasi yang kuat untuk menabung, agar ke depannya Anda bisa berkomitmen dan disiplin untuk berinvestasi.  Untuk pengenalan dan pembahasan mengenai investasi seperti reksadana, saham, dan properti, akan dilakukan pada tulisan-tulisan berikutnya.