Tips & Guide

3 Alasan Mengapa Traffic Website yang Tinggi Tidak Menaikkan Nilai Konversi

[Foto: pixabay.com]
[Foto: pixabay.com]
Sebagai seorang digital marketer, tentu kita tidak asing dengan berbagai cara untuk meningkatkan traffic pada sebuah website. Apakah itu melalui search engine optimization (SEO), pembentukan brand yang ciamik, marketing influencer, bahkan iklan berbayar. Sayangnya, banyak yang lupa bahwa tujuan paling penting bagi sebuah bisnis adalah pada sales conversion.

Barangkali memang masih menjadi perdebatan seberapa jauh konversi ini dibutuhkan secara mutlak dalam dunia digital marketing. Logikanya seperti ini, memang tujuan bisnis dari tiap-tiap proses marketing barangkali bisa berbeda. Ada yang bertujuan untuk sekadar dikenal oleh masyarakat, ada pula yang memang ingin menjual sebuah produk tertentu sebagai barang untuk dikonsumsi. Namun, apapun bentuknya, fokus utama pada bisnis adalah meraih profit. Jadi, apapun itu produknya, apakah berupa barang atau jasa, tujuan utamanya adalah agar produk tersebut laku dan konsumen bersedia untuk menggunakannya.

Akan tetapi, sering ditemui dalam proses digital marketing di mana sebuah website memiliki traffic yang sangat tinggi, namun jumlah konversi yang dihasilkan tidak seberapa. Dengan kata lain, banyak orang yang tertarik untuk melihat produk kita dengan mengunjungi website atau mendownload aplikasi. Mungkin dari segi branding, kita sudah lumayan berhasil. Tetapi, kegiatan tersebut sayangnya hanya berhenti sampai sana. Orang hanya tertarik untuk melihat tanpa mau menggunakan atau mengeluarkan uang untuk membelinya.

Landing page, lagi-lagi landing page

Landing page memegang peran yang vital untuk tercapainya sales conversion dalam digital marketing. Di sini, fungsi landing page tidak hanya sekadar pemanis dan tempat untuk singgah calon customer. Lebih jauh, kita harus paham bahwa landing page adalah adalah alat pemersuasi paling efektif untuk menarik pengunjung melakukan transaksi. Entah untuk membeli suatu produk atau menggunakan jasa yang kita tawarkan. Sayangnya, kebanyakan website belum sepenuhnya mampu mendesain sebuah tampilan yang benar-benar meyakinkan pengunjung untuk melakukan apa yang kita inginkan.

Sebagian besar proses marketing stuck pada perbebatan antara keindahan design vs. tujuan bisnis. Benar jika dikatakan design berperan penting untuk menarik pengunjung mencapai konversi. Namun, tak jarang juga kasus yang menunjukkan bahwa terlalu fokus pada keindahan design kadang-kadang mengabaikan tujuan bisnis. Sebagai contoh, design carousel pada website bisa dikatakan sangat kekinian akhir-akhir ini. Tetapi, faktanya menunjukkan bahwa design website semacam itu ternyata tidak begitu familiar dengan para user, sehingga alih-alih mencapai konversi, user justru exit karena tidak tertarik dengan website yang ditawarkan.

Value proposition yang masih lemah

Banyaknya persaingan dalam bisnis menjadi satu hal yang tidak bisa dihindari lagi. Terlebih saat ini di mana startup sedang tumbuh dan gencar-gencarnya melakukan inovasi. Salah satu kekuatan dalam sebuah produk yang kita tawarkan terletak pada valuenya. Dalam artian, melalui produk kita, ada irisan yang cukup besar antara apa yang kita tawarkan dengan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh konsumen.

Banjir penawaran dan abai pada kebutuhan utama konsumen

Terkadang, berbagai penawaran yang kita berikan melalui landing page justru menjadi bumerang yang akan menurunkan angka konversi pada website. Fokus utama sebuah website semestinya adalah memahami kebutuhan konsumen. Mungkin dengan cara random memberikan penawaran bisa jadi peluang untuk menarik pengunjung melakukan transaksi. Namun, cara ini dinilai terlalu riskan. Sebab, di satu sisi, penawaran yang terlalu banyak justru membuat pengunjung bosan dan akhirnya memilih untuk exit sebelum melakukan transaksi.

Salah satu hal yang efektif untuk dilakukan sebuah website semestinya adalah menentukan satu call-to-action yang jelas. Sebagai contoh, katakanlah tujuan bisnis kita adalah melakukan penjualan, maka seharusnya landing page yang kita buat didesain dengan tools yang menggiring pengunjung untuk melakukan pembelian.

Ketiga poin tersebut barangkali buat satu-satunya penyebab rendahnya sales conversion dalam sebuah website. Masih terlalu banyak kemungkinan yang harus kita teliti satu per satu. Namun, setidaknya, ketiga hal tersebut memberikan kita penjelasan paling dasar untuk memahami apa saja hal-hal yang perlu dikoreksi ketika traffic dalam website cukup tinggi, namun tidak sebanding dengan nilai konversinya.

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID