Opinion

4 Hal yang Dicari Top Employee dalam Sebuah Pekerjaan

[Foto: pixabay.com]
Di dunia yang penuh dengan kompetisi, persaingan tidak hanya menjadi milik para employee yang membutuhkan pekerjaan, tetapi juga para employer. Ada sebuah fakta yang cukup menarik dalam dunia rekrutmen, terutama di dalam pekerjaan berbasis teknologi dan digital, yakni recruiter merasa kesulitan untuk menemukan talent yang sesuai dengan apa yang mereka cari.

Permasalahan gap antara skill yang dibutuhkan dengan ketersediaan human resource di dalam dunia kerja, khususnya dalam bidang teknologi dan digital memang menjadi perbincangan yang seru. Dalam hal ini, sebenarnya ada banyak pihak yang perlu dievaluasi. Entah dari sisi pemerintah yang mematok kurikulum dalam pendidikan, institusi yang menjalankan proses pendidikan sebagai salah satu cara menyiapkan human resource, atau dari individunya itu sendiri.

Yang perlu digarisbawahi kemudian adalah tak hanya munculnya gap yang memicu kesenjangan antara mereka yang mencari pekerjaan dengan mereka yang membutuhkan talent untuk menyelesaikan suatu pekerjaan, masalah lain adalah orang-orang yang telah memenuhi kualifikasi tertentu terlalu sulit untuk dipertahankan. Memang menjadi sebuah isu tersendiri dalam dunia human resource, di mana orang-orang dari generasi millennial ini sangat sulit untuk dipekerjakan atau dilibatkan dalam suatu pekerjaan yang telah memiliki struktur tertentu. Umumnya, para pekerja dari generasi millennial ini sulit untuk dikendalikan, memiliki aturannya sendiri, dan mudah bosan dengan apa yang dikerjakan. Karakteristik-karakteristik ini tentunya sangat berbeda dengan pekerja dari generasi sebelumnya yang bahkan mampu bertahan hingga puluhan tahun di satu bidang pekerjaan yang dijalani.

Baca Juga:  Intel Capital Telah Suntikkan Dana Lebih Dari Rp 494M Untuk 12 Startup Teknologi

Ada banyak riset yang menyebutkan bahwa pekerja dari generasi millennial ini paling lama bertahan di satu pekerjaan dalam satu hingga tiga tahun. Oleh karena itu, untuk mempertahankan mereka juga membutuhkan effort khusus dari pihak employer.


Perlu diketahui bahwa dalam benak para millennial ini, pertimbangan untuk memilih suatu pekerjaan tak melulu cuma soal gaji, ada beberapa hal yang lebih dicari oleh para employee, khususnya mereka yang benar-benar berkompeten dalam suatu bidang, seperti dijelaskan berikut ini.

1. Tujuan

Alih-alih mencari pekerjaan sebagai sebuah hubungan timbal-balik di mana seseorang bekerja kemudian mendapat gaji, top employee dari generasi millennial lebih mengutamakan pada tujuan-tujuan khusus yang ingin dicapainya. Umumnya para millennial hidup dengan mimpi-mimpi untuk membuat dunia lebih baik, berguna untuk orang banyak, dan hal-hal itulah yang berusaha diwujudkannya dalam pekerjaan. Tapi sayangnya tidak banyak company yang sadar bahwa sebenarnya tujuan-tujuan inilah yang ingin dicapai employee dalam pekerjaan. Alih-alih menciptakan environment yang memberikan ‘kesempatan’, company kebanyakan menganggap relasi pekerjaan itu hanyalah hubungan timbal-balik antara apa yang sudah dikerjakan employee dengan gaji yang diberikan pada mereka, sehingga kebanyakan employee akan merasa bosan dan tidak bertahan lama.

Baca Juga:  Beberapa Hal Dasar dalam A/B Testing yang Harus Dipahami

2. Autonomi

Tujuan lain yang ingin dicapai oleh mereka yang memiliki skill khusus adalah adanya kebebasan dalam bekerja. Para millennial ini berharap mereka akan diberikan arahan seperlunya. Selanjutnya, mereka diberikan keleluasaan untuk menyelesaikan permasalahan sesuai dengan caranya masing-masing. Sistem mendikte yang banyak diterapkan di perusahaan-perusahaan besar dengan struktur yang gendut tentunya akan membuat para millennial ini merasa bebas dan akhirnya memilih untuk mengundurkan diri.

3. Dampak

Seperti yang telah disinggung di atas, para millennial ini adalah mereka yang sepanjang hidupnya terpapar segala jenis informasi yang tidak ada batasannya. Keterbukaan ini secara tidak langsung mengubah juga pola pikir mereka, bahwa ada banyak hal yang bisa mereka lakukan untuk membuat dunia ini lebih baik. Salah satu yang akhirnya mereka cari dalam pekerjaan adalah dampak. Artinya, mereka berharap apa yang mereka kerjakan memiliki andil terhadap perubahan yang dialami orang lain atau secara khusus memiliki dampak pada banyak orang.

4. Salary dan keuntungan-keuntungan lain

Baca Juga:  Membangun Relasi dengan Media Bagi Startup ala iPrice

Meski bukan menjadi satu-satunya pertimbangan, namun hal ini juga tidak dilewatkan oleh para millennial yang cenderung oportunis. Dengan sedikit tawaran yang lebih tinggi, mereka tidak segan-segan keluar dari pekerjaannya saat ini. Untuk itu, salah satu yang harus dipahami oleh para employer bagaimana salary dan berbagai keuntungan dalam bentuk apapun ini bisa didapatkan oleh employee. Misalnya saja melalui pekerjaannya, employee bisa belajar dan mengembangan kapasitas dirinya.