Tips & Guide

4 Hal yang Harus Kamu Perhatikan Sebelum Pitching ke Investor

loading...

[Foto: knowstartup.com]
[Foto: knowstartup.com]
Bagi sebuah startup, mendapatkan kucuran dana dari investor bisa jadi sebuah angin segar. Meski tidak semuanya memberikan dampak yang positif, tetapi pada kenyataannya sebagian besar startup yang mendapatkan invest terbukti terus tumbuh dan berkembang menjadi besar. Investor barangkali memang bukan satu-satunya tujuan bagi setiap startup. Idealnya, startup harus mampu menghasilkan revenue sendiri tanpa bergantung pada investor. Namun, lagi-lagi kehadiran investor sangat berperan sebagai “supporter” yang akan membantu kita mengembangkan bisnis dengan berbagai bantuan baik dana maupun hal-hal lain di luar itu.

Maka sebagai founder, penting bagi kamu untuk memperhatikan dengan seksama hal-hal di bawah ini sebelum melakukan pitching ke investor. Tujuannya barangkali tidak hanya sebagai persiapan agar mendapatkan pendanaan. Namun, juga untuk lebih jauh memahami seberapa siap startupmu untuk mendapatkan suntikan dana dan seberapa butuh kamu untuk bertemu dan pitching di depan investor.

1. Pertanyakan sekali lagi, apakah kamu butuh venture capital?

Pendanaan untuk startup bisa bersumber dari berbagai lini. Tidak hanya melalui venture capital, sebuah startup bisa saja mendapatkan dana dari perorangan atau biasa disebut angel investor. Beberapa yang lain bahkan tidak memerlukan investor untuk bisnisnya dan hanya mengandalkan uang pinjaman dari bank atau bahkan modal pribadi.

Baca Juga:  3 Alasan Mengapa Traffic Website yang Tinggi Tidak Menaikkan Nilai Konversi

Intinya, pendanaan yang didapatkan oleh startup tidak melulu besumber dari venture. Sebelum memutuskan pitching di hadapan investor, ada baiknya kita mempertanyakan kembali, benarkah startup kita memerlukan pendanaan dari venture capital? Bisa jadi jawabannya ya. Namun, bisa juga tidak. Lagi-lagi hal itu tergantung pada tujuan bisnis dan juga ukuran seberapa besar bisnis tersebut membutuhkan pendanaan.

2. Ketahui ada di fase mana startup yang kamu buat

Dalam membangun startup, ada beberapa fase yang harus dilewati. Yakni fase pembentukan, validasi, dan terakhir adalah scale-up. Idealnya, sebuah startup dibentuk melalui berbagai tahapan tersebut. Bermula dari ide, pembentukan tim founder, penyatuan visi dan misi, hingga memutuskan satu produk yang akan dibangun. Kemudian fase ini beralih ke tahap validasi, yakni proses di mana ide yang telah kita kembangkan diujicoba pada pasar. Di sini minimum viewable product dihasilkan dan dilakukan berbagai macam tes hingga akhirnya menemukan satu kesimpulan, apakah validated atau bahkan harus pivot. Baru setelah tervalidasi, startup memasuki fase pengembangan di mana proses akuisisi user dilakukan dan berakhir ke tahap scale up yang tujuannya adalah memperbesar haluan dari startup itu sendiri.

Baca Juga:  4 Mitos Tentang Mentor yang Perlu Diketahui Setiap Founder Startup

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID