Opinion

4 Hal yang Membuat Transaksi E-Commerce Sulit Tercapai

[Ilustrasi: huffingtonpost.com]
[Ilustrasi: huffingtonpost.com]
Di tengah bisnis startup yang tengah naik-turun, ranah e-commerce menjadi satu bidang tersendiri yang bisa dibilang istimewa. Sebab selain membutuhkan modal yang cukup besar, startup bidang e-commerce juga membutuhkan kelihaian tersendiri dalam membangunnya. Membuat e-commerce tak sesederhana mampu membuat website dan menjual berbagai produk. Lebih dari itu, dibutuhkan banyak faktor penunjang yang akan menjadi penentu berhasil atau tidaknya bisnis e-commerce itu sendiri. Maka, selain dari kekuatan modal, keunikan dalam marketing, e-commerce juga memerlukan berbagai perhatian khusus misalnya dari segi user experience, user interface, hingga metode pembayaran.

Untuk konsumen di Indonesia sendiri, perlu usaha tersendiri untuk membentuk kebiasaan mereka dalam berbelanja online. Karena seperti yang kita tahu, kendati sebagian besar masyarakat di Indonesia telah terbiasa dengan gadget dan internet, tetapi penggunaan internet untuk tujuan e-commerce kurang dari setengahnya. Selain itu, ada beberapa hal lain yang menjadi penyebab e-commerce sulit untuk berkembang, dalam arti penjualannya buruk atau bahkan tidak ada sama sekali.

Kualitas gambar dan deskripsi produk yang buruk

Gambar dan deskripsi produk memegang peranan tersendiri bagi kesuksesan sebuah e-commerce. Hal ini dikarenakan gambar produk merupakan hal pertama yang menarik konsumen untuk melakukan kegiatan belanja. Tak hanya dari segi gambar, deskripsi untuk produk juga merupakan satu hal yang tidak boleh dilewatkan. Selain memberikan kejelasan pada calon konsumen terhadap kejelasan produk yang akan dibeli, deskripsi produk juga memberikan pengaruh pada kualitas Search Engine Optimization (SEO) website e-commerce itu sendiri. Bagaimanapun, algoritma Google sejauh ini masih hanya mendeteksi konten berupa teks sehingga pemberian deskripsi pada produk sangat diperlukan. SEO juga memiliki peran tersendiri pada bisnis e-commerce karena mendorong website tersebut muncul di kolom pencarian Google.

Informasi kontak yang tidak jelas

Pada prinsipnya, e-commerce tak jauh beda dengan toko konvensional, ada pelanggan dan ada servis yang memuaskan, termasuk pada layanan di mana pembeli bisa bertanya-tanya lebih lanjut. Di sinilah fungsi kontak harus tersedia. Tujuannya selain memberikan kejelasan pada user, juga sebagai customer service apabila calon pembeli ingin bertransaksi. Ketidakjelasan pada kontak yang dicantumkan dapat menimbulkan kebingungan pada user, yang berujung pada kegagalan pencapaian konversi atau dalam hal ini adalah proses transaksi.

Proses checkout yang rumit

Hal lain yang harus dipahami dari customer adalah mereka menyukai hal-hal yang praktis. Itulah salah satu alasan besar yang melatarbelakangi mengapa customer memilih berbelanja online daripada offline, karena menyangkut proses yang lebih simpel. Mereka cukup mengakses gadget dari rumah, memilih barang, melakukan pembayaran, dan mendapatkan barang. Proses checkout bisa dibilang sebagai salah satu tahapan paling krusial dalam user experience, karena ini proses ini menyangkut pada decision making apakah proses transaksi akan berlanjut atau dibatalkan.


Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID