Opinion

4 Tanda-Tanda Anda Harus Melakukan Layoff pada Karyawan Startup Anda

[Ilustrasi: pymnts.com]
[Ilustrasi: pymnts.com]
Layoff yang banyak terjadi di kalangan pekerja startup bidang e-commerce beberapa waktu lalu menyisakan berbagai pertanyaan besar. Salah satunya mengenai alasan di balik pemecatan ratusan karyawannya. Beberapa dari mereka mengatakan terus terang bahwa alasan utama adalah permasalahan keuangan, di mana dana investor semakin menipis dan oleh karenanya mereka butuh mengurangi pengeluaran salah satunya untuk gaji karyawan.

Meski dapat menjadi alasan kuat, tetapi kenyataannya satu-satunya alasan melakukan layoff pada karyawan startup tidak melulu soal gaji. Meski hal ini tentu sangat tidak direkomendasikan terjadi pada startup yang kamu kelola, namun tetap ada hal-hal yang membuat kamu justru harus melakukan layoff terhadap anggota timmu. Salah satunya adalah karena beberapa hal berikut ini.

1. Mereka hilang tanpa kabar

Setiap orang berhak memiliki waktu untuk sendiri, tak terkecuali pada karyawan di startup. Terlebih kita sama-sama tahu, bekerja di startup memiliki tingkat stress yang cukup tinggi karena load pekerjaan yang melebihi kapasitas. Di startup, seorang Chief Operating Officer berarti juga seorang Human Resource Development, merangkap trainer bagi anak buahnya. Tak heran bila kemudian beban pekerjaan ini membuat seorang pekerja di startup kadang-kadang butuh “menghilang”.

Cuti adalah satu hal yang sebenarnya boleh-boleh saja dilakukan oleh pekerja startup, namun dengan risiko pekerjaan yang menumpuk. Itupun harus dengan pemberitahuan kepada rekan lain, agar mereka mengantisipasi hal-hal yang terjadi apabila ada rekan mereka yang cuti. Yang sangat salah adalah ketika seorang karyawan “menghilang” tanpa kabar yang jelas. Mereka sangat berpotensi untuk mengacaukan kerja startup. Sekali dua kali, mungkin masih ditolerir. Tetapi juga sudah langganan, ini tandanya kamu sebagai pemimpin harus tegas dengan melakukan layoff dan mencari penggantinya.

2. Tidak mampu menerima perubahan

Bekerja di startup berarti siap untuk semua dinamika pekerjaan yang akan dihadapinya. Startup tidak seperti perusahaan besar yang telah memiliki SOP jelas untuk setiap posisi atau pekerjaannya. Jika umumnya seorang account manager bertanggung jawab untuk pengelolaan campaign, maka di startup ia bisa saja ditugasi untuk melakukan pencatatan invoice atau bahkan melakukan data-entry untuk membantu software engineer yang akan melakukan migrasi server.

Intinya bekerja di startup berarti harus siap dengan semua perubahan, termasuk pada job desc, peran, atau bahkan posisi di startup itu sendiri. Jika ada anggota timmu yang sama sekali tidak mampu menerima perubahan, itu adalah salah satu pertanda kuat bahwa dia tidak cocok ada di startup.

3. Menyebabkan kekacauan dalam tim

Tim menjadi hal mutlak dalam menjalankan startup. Oleh karenanya dibutuhkan orang-orang yang saling mengisi dan mendukung satu sama lain demi berlangsung perusahaan yang sedang dirintisnya. Hadirnya seorang “pengacau” dalam tim berpotensi untuk tidak hanya menurunkan produktivitas, namun juga masa depan startup itu sendiri. Pengacau ini bisa hadir dalam berbagai jenis. Ada pengacau yang memang sifatnya selalu menjadi distraktor untuk teman-temannya, ada pula pengacau yang kerjaannya mengadu domba dan membuat kerusuhan antar sesama tim.

4. Tidak ada improvement sama sekali

Selain siap menerima perubahan, satu hal yang mutlak diperlukan oleh pekerja startup adalah improvement. Improvement ini mencakup banyak hal, seperti improvement dalam pekerjaan ataupun keahliannya sendiri. Memiliki tim yang hanya terima “disuapi” sangat tidak direkomendasikan untuk sebuah startup. Maka, jika salah satu anggotamu di tim selama ini tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan untuk dirinya sendiri, itu artinya kamu harus mulai tegas mengambil sikap untuk mengeluarkannya dari tim.

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID