Review

6 Percobaan Listrik Gratis yang Pernah Dilakukan Para Ilmuwan Namun Akhirnya Gagal

[Foto: solairandenergy.com]
Selama ini, para ilmuwan sudah banyak melakukan upaya untuk membuat sumber energi listrik yang bisa dimanfaatkan secara luas dengan harga murah hingga gratis. Namun sayangnya, upaya tersebut tidak terlihat atau hilang begitu saja.

Meski kini tidak ada lagi ‘jejak’ dari hasil upaya tersebut, namun tidak ada salahnya jika kita kembali mengulasnya. Apalagi, upaya yang mereka lakukan ini merupakan jasa yang besar untuk memberi kemudahan manusia dalam mendapatkan energi murah. Berikut ulasannya, sebagaimana dikutip dari laman Merdeka.

Mengisi daya smartphone dengan petir

Pada beberapa tahun lalu, Nokia bersama Microsoft membuat solusi gratis untuk mengisi daya smartphone. Bekerja sama dengan University of Southampton, mereka menciptakan charger bertenaga petir.

Cara membuat petir buatan dan langsung menyalurkannya ke baterai adalah dengan membuat baut yang terkontrol secara aman. Dalam tahap uji coba, hal ini berhasil dilakukan. Namun masalahnya, teknologi ini tidak diproduksi secara massal karena terlalu rumit.

Smartphone dengan tenaga urin

Para peneliti dari University of Bristol menggunakan urin sebagai sumber tenaga. Hal ini dilakukan dengan cara membuat sel bahan bakar berbasis bakteri yang bisa memecah bahan kimia dalam urin. Proses tersebut mampu membangun muatan listrik yang kemudian disimpan dalam kapasitor.

Baca Juga:  Ganti Smartphone Android? Begini Cara Kembalikan Aplikasi dan Pengaturan dari Ponsel Lama ke Ponsel Baru

Tenaga baterai ini terbukti bisa digunakan untuk menyalakan sebuah ponsel, yang kemudian bisa digunakan untuk mengakses internet dan SMS. Masalah terbesarnya adalah kapasitor baterai yang memiliki ukuran sebesar aki mobil.


Lampu bertenaga bakteri

Mahasiswa pascasarja di University of Wisconsin berhasil mengembangkan sebuah alat bernama Biobulb. Alat ini mampu menghasilkan cahaya murni dari kekuatan bakteri.

Bakteri yang terlibat adalah bakteri E. coli, yang sudah direkayasa ulang dengan gen untuk bioluminesen. Setelah melakukan hal ini, bakteri yang terkandung di dalamnya akan bercahaya seperti kunang-kunang ataupun ubur-ubur. Cahayanya juga akan terisi ulang dengan cahaya sekitar. Sayangnya, praktik yang mahal membuat teknologi ini hanya sekedar uji coba saja.

Motor bertenaga partikel yang bisa berubah bentuk

Sebuah materi atau senyawa baru diketahui memiliki kemampuan untuk berubah bentuk, lalu kembali ke bentuk sebelumnya. Senyawa tersebut berkontraksi saat terkena sinar ultraviolet dan mengembang kembali ke ukuran aslinya saat terpapar cahaya normal. Hal ini bisa terjadi selama 30 jam terus menerus.

Baca Juga:  Robot Canggih Pembuat Pizza, Menggeser Pekerjaan Manusia?

Menariknya, partikel tersebut merupakan sumber tenaga alami karena kemampuannya berubah bentuk dan material. Setelah diuji, partikel ini mampu memberi tenaga sebuah motor yang bisa menggerakkan tirai membuka dan menutup. Namun, karena tenaga yang dihasilkan sangat bergantung dari suhu, maka kita tidak bisa mengontrol jumlah dayanya.

Energi berasal dari panas tubuh manusia

Seorang ilmuwan bernama Ann Makosiniki berhasil membuat alat bernama ubin Peltier. Alat itu bisa mendapatkan energi thermal yang melekat di tangan manusia untuk mengalirkan listrik. Energi dari tangan manusia pun sudah cukup untuk menyalakan senter.

Selain Ann, sekelompok peneliti dari Southamptons Electronic and Computer Science Department juga pernah mengembangkan sebuah materi yang memanfaatkan panas di celana untuk mengubahkan jadi listik. Alat ini peka terhadap hangat dan energi thermal bisa diubah jadi aliran listrik. Kekuatan baterai ini juga bisa mengisi daya smartphone.

Transfer listrik nirkabel

Sang penemu terkenal dunia, Nikola Tesla, berhasil mentransfer listrik secara nirkabel. Ia mengklaim, akan mampu memperkuat temuannya dengan bisa memberi pasokan listrik pada suatu area tertentu hanya dengan menara tunggal. Meski demikian, Tesla tidak mampu lagi mendanai temuan ini. Berbagai prototip dan rencananya pun mendadak hilang.

Baca Juga:  NASA Gunakan Laser Luar Angkasa Untuk Selamatkan Ekosistem Lautan di Dunia