Opinion

Alasan Ilmiah Mengapa Pria Lebih Sulit Menangis Dibandingkan Wanita

[Foto: news.com.au]
Bagi manusia, air mata bisa timbul karena berbagai alasan. Misalnya karena sedih, bahagia, marah, rasa bersalah, rasa lega, rasa syukur, penyesalan, dan lainnya. Berbicara soal menangis, seperti kita ketahui bahwa dibandingkan pria, wanita lebih diidentikkan sebagai makhluk yang mudah menangis dan mengeluarkan air mata. Lantas, apa yang membuat pria sulit untuk menangis?

Beberapa penelitian yang sudah mempelajari kekuatan biologis dan proses menangis menunjukkan, ada berbagai jenis air mata dan perbedaan dalam cara menangis laki-laki dan perempuan.

“Pria juga diajarkan untuk tidak menangis. Ternyata, hal ini cukup terbantu dengan adanya hormon testosteron yang membantu meningkatkan ambang antara stimulus emosional dan keluarnya air mata,” ujar Dr. Louann Brizendine, seorang neuropsikiatri di University of California, San Francisco, seperti dilansir dari laman Wall Street Journal.

Secara biologis, wanita memang lebih mudah meneteskan air mata dibandingkan pria. Berdasarkan penelitian di bawah mikroskop, diketahui bahwa hal ini karena adanya perbedaan pada sel-sel kelenjar air mata.

Selain itu, saluran air mata pria lebih besar dari wanita. Sehingga jika pria dan wanita menangis secara bersamaan, maka air mata wanita akan lebih cepat mengalir di pipi ketimbang pria.

Baca Juga:  Teknologi Ini Bisa Sulap Kulit Anda Jadi Layar Sentuh Smartwatch

Menangis merupakan salah satu proses yang kompleks. Sementara itu, air mata yang keluar ada dua jenis, yaitu air mata iritasi yang membantu mencuci mata dari debu, serta air mata emosional yang dikeluarkan untuk merespons stimulus emosional dan rasa sakit secara fisik.

Saat seseorang menangis, air mata yang keluar mengandung protein, garam, hormon dan zat lain. Namun pada air mata yang keluar karena emosional, maka itu mengandung kadar protein yang lebih tinggi.


Salah satu hormon yang keluar saat menangis adalah hormon prolaktin yang merupakan katalis laktasi (menyusui). Pada wanita yang sudah mencapai usia 18 tahun, tingkat hormon prolaktin ini meningkat 50-60 persen lebih tinggi dibandingkan dengan pria.

“Kami percaya bahwa ini menjadi salah satu alasan wanita lebih mudah menangis,” ujar Dr William H Frey II, seorang ilmuwan saraf dan biokimia dari Regions Hospital di St. Paul, Minnesota.

Penelitian tentang rasio menangis antara pria dan wanita

Profesor Ad Vingerhoets melakukan beberapa penelitian di Belanda untuk lebih memahami air mata manusia. Dalam penelitian ini, ia membandingkan rasio air mata pria dan wanita. Hasilnya, wanita ternyata menangis antara 30 dan 64 kali setahun, sedangkan pria hanya menangis antara 6 sampai 17 kali setiap tahun.

Baca Juga:  Peneliti Ciptakan “Kulit Bionik” yang Bisa Mempersatukan Manusia dan Robot

Sementara itu, psikolog Georgia Ray menjelaskan bahwa ada beberapa alasan sosiologis dan fisiologis yang sangat jelas mengapa pria menumpahkan sedikit air mata daripada wanita. “Pria lebih sedikit menangis  karena alasan yang terkait dengan sifat dan pengasuhan,” katanya.

“Laki-laki memiliki tingkat prolaktin (hormon yang ditemukan dalam air mata emosional) yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan wanita,” tambahnya.

Jadi, penjelasan fisiologisnya adalah hormon yang saling berhubungan. Namun, ada juga alasan lain yang cukup jelas, yakni budaya. “Stereotip dan harapan masyarakat membuat pria enggan menunjukkan air mata secara emosional,” kata Ray.

Dengan kata lain, pria memiliki lebih sedikit hormon yang memungkinkan manusia menangis, dan ketika mereka melakukannya, lingkungan sosial akan menghakimi.

Sementara itu, sebuah teori yang diketahui berasal dari Dr. William Frey mengatakan bahwa menangis adalah bagian dari pelepasan racun alami tubuh. Ia mengatakan bahwa air mata emosional “membawa lebih banyak protein” daripada air mata non-emosional. Dan ini memicu proses penyembuhan bagi manusia.

Baca Juga:  Inilah 5 Bahaya Keamanan yang Mengintai di Balik Situs Porno

Jika dilihat, teori ini mirip dengan hasil penelitian dari Dr. Louann Brizendine.

Namun, profesor Vingerhoets sudah mencoba meniru studi William Fey beberapa kali dan gagal. Jadi, ia menyakini bahwa penalaran ini tidak valid.