News

Amazon Akan Buka Lebih Dari 100 Ribu Lowongan Kerja Baru di AS

[Foto: huffingtonpost.com]
Reuters melaporkan bahwa Amazon.com akan membuka lebih dari 100 ribu lowongan pekerjaan baru di Amerika Serikat selama 18 bulan ke depan. Ini artinya tenaga kerja Amazon akan meningkat hingga ke angka 280 ribu orang. Posisi yang ditawarkan sangat beragam, mulai dari pengembang software hingga posisi entry level.


Langkah ini tidaklah mengejutkan, mengingat usaha Amazon kini memang mulai merambah berbagai macam bidang mulai dari fashion, minimarket, video, hingga layanan cloud. Untuk memenuhi permintaan konsumen yang semakin memuncak, Amazon pun akhirnya memutuskan untuk berinvestasi pada warehouse baru agar mereka bisa menyetok barang lebih dekat dengan konsumennya sekaligus memberikan pelayanan yang lebih cepat dan lebih murah. Peningkatan angka pekerja ini kelak akan menjadi kunci utama dari komitmen Amazon untuk memberikan pelayanan pengiriman dua hari sampai untuk anggota Amazon Prime. Dilaporkan Setidaknya 16 fulfillment center (FC) tengah dipersiapkan pada tahun ini dan tahun depan. Amazon mengatakan bahwa mereka menawarkan pekerjaan dengan bayaran yang kompetitif, asuransi kesehatan, asuransi disabilitas, rencana simpanan pensiun, dan saham perusahaan.

Baca Juga:  Huawei Tuntut Samsung Karena Tuduhan Pelanggaran Paten

Sebelumnya, Presiden terpilih AS Donald Trump memang sudah menjadikan pembukaan lapangan pekerjaan sebagai landasan dari agenda kerjanya. Pekan lalu saja, Ford Motor mengurungkan rencananya untuk mebangun pabrik senilai $1,6 milyar di Meksiko, lalu mengumumkan bahwa pihaknya akan membuka 700 lowongan pekerjaan baru di Michigan serta menerima kritik dari Trump.

Seorang juru bicara dari tim transisi Trump menyatakan bahwa presiden terpilih AS sangatlah mempengaruhi dibukanya lowongan pekerjaan secara besar-besaran oleh perusahaan-perusahaan tersebut. “Presiden terpilih AS telah melakukan pertemuan dengan kepala dari berbagai perusahaan teknologi dan mendesak mereka untuk mempertahankan lowongan pekerjaan dan produksi agar tetap berada di dalam Amerika Serikat.”