News

Angkut Defibrilator, Drone Dianggap Bisa Bantu Tangani Secara Cepat pada Penderita Henti Jantung

[Foto: voanews.com]
Kini, drone semakin sering diuji atau digunakan dalam berbagai macam lingkungan. Misalnya, mengirim barang-barang eceran ke konsumen di daerah-daerah terpencil, mencari pendaki yang hilang, hingga membantu polisi memantau lalu lintas atau kerumunan orang.

Baru-baru ini, sejumlah peneliti menguji drone dalam mengangkut alat defibrilator jantung. Gagasan ini bertujuan untuk membantu pejalan kaki memulihkan orang yang mengalami henti jantung. Studi ini dilakukan bulan Oktober lalu dan dipublikasikan hari Selasa di The Journal of The American Medical Association.

Dalam uji coba tersebut, para peneliti menemukan drone tiba di lokasi kejadian 18 insiden henti jantung dalam waktu lima menit setelah diluncurkan. Waktu tersebut rata-rata lebih cepat 17 menit dibandingkan ambulan. Ini sangat berarti untuk kondisi dimana hitungan menit bisa bermakna hidup atau mati.

“Pada studi pendahuluan, alat-alat yang dikirim oleh drone tidak digunakan pada pasien. Namun, hasilnya “cukup berarti” dan membuktikan bahwa gagasan tersebut layak digali,” ujar Dr. Clyde Yancy, mantan ketua American Heart Association yang tidak terlibat dalam studi ini, sebagaimana dikutip dari laman VOA News.

Baca Juga:  Pasca Status Planet Pluto Dicabut, Kini Astronom Gencar Berburu Planet Baru

Sebagai informasi, henti jantung adalah penyebab utama kematian di seluruh dunia, yang sudah merenggut nyawa lebih dari 6 juta orang setiap tahunnya. Sebagian besar insiden terjadi di rumah atau di lingkungan non medis lainnya, dan sebagian besar pasien tidak mampu bertahan hidup.

“90 persen orang yang ambruk di luar rumah sakit tidak bisa bertahan. Ini adalah krisis dan saatnya kita melakukan sesuatu yang berbeda untuk mengangkat permasalahan ini,” ujar Yancy, kepala bidang kardiologi di sekolah kedokteran di Northwestern University di Chicago.

Setelah menganalisis data kasus henti jantung di Swedia, para peneliti mencapai kesimpulan yang sama. Mereka fokus pada kota dekat Stockholm yang tidak memiliki cukup sumber fasilitas darurat medis untuk melayani para wisatawan selama musim panas.

“Analisis menemukan, waktu untuk merespon keadaan darurat hampir 30 menit dan tingkat kemampuan pasien bertahan hidup nol,” kata peneliti utama Andreas Claesson, seorang peneliti di The Center for Resuscitation Science di Karolinska Institute, Stockholm.

Untuk mengetahui apakah perawatan bisa ditingkatkan lagi, tim Claesson berpaling ke drone. “Tampaknya, menggunakan drone untuk mempercepat perawatan medis adalah langkah yang lebih logis,” ujar Claesson.

Baca Juga:  Perusahaan Jepang Ciptakan Alat Pembaca Emosi Anjing Peliharaan

Luncurkan drone dari stasiun pemadam kebakaran

Henti jantung terjadi ketika denyut listrik yang mengatur ritme pompa jantung tiba-tiba bermasalah. Denyut jantung tiba-tiba tidak beraturan atau berhenti, mencegah darah mencapai organ-organ vital. Tanpa adanya perawatan atau usaha untuk memulihkan denyut jantung normal, kematian bisa terjadi dalam hitungan menit. Lebih idealnya adalah resusitasi jantung dan penggunaan defibrilator.

Dalam uji coba, para peneliti menggunakan sebuah defibrilator jantung berukuran kecil berbobot kurang dari satu kilogram, dengan fitur suara elektronik yang memberikan instruksi cara penggunaan alat. Alat itu dikaitkan ke drone berukuran kecil dengan empat baling-baling, sebuah GPS, dan kamera.

Mereka meluncurkan drone tersebut dari sebuah stasiun pemadam kebakaran, yang terletak dalam jarak 10 kilometer dari rumah-rumah orang yang pernah mengalami insiden henti jantung.

Dalam sebuah rekaman video dari studi simulasi penyelamatan, sebuah drone melayang di atas atap perumahan, lalu mendarat dengan mulus di halaman belakang. Seorang pria berlari keluar dari rumah, dan mengambil alat defibrilator dan membawanya ke dalam rumah.

Baca Juga:  Penelitian NASA Ungkap Kentang Mungkin Bisa Ditanam di Mars

“Selama uji coba, tidak ada drone yang jatuh atau insiden lainnya,” kata Claesson. Ia merencanakan studi lebih lanjut untuk menguji pengiriman defibrilator melalui drone ke pejalan kaki. Tujuannya adalah untuk digunakan dalam situasi henti jantung yang nyata.

Claesson mengatakan, hasil uji coba ini menunjukkan potensi yang menjanjikan untuk penyelamatan nyawa.