Opinion

Apa Saja yang Dibutuhkan oleh Seorang UX Researcher?

[Foto: pixabay.com]
[Foto: pixabay.com]
Di era startup digital ini, kita semakin sering mendengar istilah-istilah aneh berkaitan dengan posisi kerja. Misalnya saja kita mendadak akrab dengan profesi bernama growth hacker, UI designer, hingga UX researcher. Tiga contoh profesi di atas sebenarnya jika dipikir-pikir tak jauh beda dengan profesi-profesi yang sejak dulu kita kenal. Bedanya hanya di era startup digital ini, kemampuan mereka lebih dipertajam untuk kasus-kasus tertentu.

Misalnya saja UI designer. UI designer umumnya adalah mereka yang ngedesign. Tak jauh beda dengan profesi graphic designer yang sebelumnya telah lama kita kenal. Namun, bedanya di sini UI designer memang hanya berfokus pada pekerjaan UI atau user interface. Hal ini berkaitan dengan bermunculannya berbagai aplikasi dan website yang membutuhkan design khusus sebagai tampilannya. Sementara, growth hacker umumnya tak beda dengan pelaku bisnis lainnya. Ia semacam kombinasi dari business person dengan kemampuan hacker. Jadi tugas utamanya adalah meningkatkan nilai sebuah bisnis dengan cara-cara singkat dan menerabas aturan konvensional seperti layaknya seorang hacker.

Yang tak kalah unik adalah posisi UX researcher. Beberapa perusahaan menyebut posisi UX researcher adalah sebagai UX designer, karena memang kebanyakan dari mereka juga berfungsi untuk mendesain produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Tetapi, ada yang lebih spesifik dari seorang UX researcher, yakni pada kemampuannya melakukan riset. Secara umum ada beberapa hal yang harus dikuasai jika seseorang ingin menjadi UX researcher seperti yang tertulis berikut ini.

Fokus pada user

Seorang UX researcher haruslah fokus pada user. Mereka memahami dengan jelas siapa user dari produk yang sedang dikembangkan, apa yang mereka butuhkan, dan apa saja permasalahan yang dihadapi oleh user, kaitannya dengan penggunaan produk. UX researcher harus selalu melihat problem dari kacamata user, sehingga mereka dapat dengan sepenuh hati memahami user dan memberikan service yang memuaskan pada mereka.

Kemampuan untuk menyelesaikan masalah dari berbagai sisi

UX researcher tak hanya memerlukan kemampuan design, coding, atau bahkan menyusun metodologi. Lebih dari itu, ia harus mengetahui segalanya. Di sini dibutuhkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah dari berbagai sisi. Apakah dari segi design, coding, atau bahkan dari teks. Dengan demikian, diharapkan hasil UX research akan lebih komprehensif dalam menemukan jawaban permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh user.

Berpijak pada data

Sama halnya seperti ilmuan, seorang UX researcher juga haruslah mereka yang dalam bertindak memiliki data yang cukup. Ketika memulai sebuah penawaran solusi, mereka berpijak pada data yang ditemukan di lapangan. Semuanya berawal dari data, sehingga tidak ada asumsi dalam setiap tindakan. Kalau mereka ragu, mereka akan mengecek data sekali lagi, sehingga diharapkan hasilnya akan lebih akurat dan dapat dipertanggung jawabkan.

Berpikir simpel dalam memberikan solusi

User tidak menyukai sesuatu yang berbelit-belit. Jika menawarkan sesuatu pada user, maka fokus pada penawaran itu. Tidak lupa, UX research juga harus fokus pada problem utama yang diangkat. Intinya, mereka menawarkan sesuatu yang simple sehingga user bisa dengan mudah menerimanya.

Never settle

Hal yang paling dibutuhkan oleh seorang UX researcher adalah ketidakpuasan pada apa yang ada. Maka, settle menjadi sesuatu yang hampir mirip sifatnya dengan dosa –ia harus dihindari. Proses UX research adalah mengulang dan mengecek kembali proses yang telah dilakukan. Apa yang bisa diperbaiki harus diperbaiki dan berupaya agar produk tersebut terlihat makin sempurna. Kunci yang harus dimiliki seorang UX researcher adalah tidak pernah puas pada hasil kerjanya.

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID