Opinion

Apa Saja yang Terjadi pada Media Sosial di Tahun 2017

[Foto: pixabay.com]
Media sosial hadir dan diakrabi banyak orang mulai sekitar 10 tahun lalu. Berawal dari rasa pesimis akankah tren ini terus-menerus hidup, faktanya hingga sekarang media sosial masih menjadi salah satu yang paling digemari pengguna internet di seluruh dunia. Tahun 2016 kemarin, menurut Kementrian Komunikasi dan Informasi, netizen di Indonesia sebagian besar menggunakan layanan internet untuk mengakses media sosial. Barangkali memang karena keberadaanya yang gratis dan bisa berfungsi untuk banyak hal membuat media sosial masih sangat diminati masyarakat di Indonesia.

Tahun 2017 diprediksi tren ini akan terus berlanjut. Bedanya, di tahun ini memang ada beberapa hal yang membedakan kecenderungan masyarakat menggunakan media sosial dengan tahun-tahun sebelumnya. Beberapa di antaranya terangkum dalam poin-poin berikut ini.

1. Masyarakat menjadi lebih gemar pada konten video

Dua atau tiga tahun lalu konten video barangkali sudah cukup populer di kalangan netizen. Namun, sebagian besar masih mengandalkan desktop dan layanan internet kabel untuk mengaksesnya. Tahun 2017 ini, seiring dengan maraknya produsen ponsel 4G yang memasarkan produknya dengan harga sangat terjangkau, masyarakat pun berubah dalam hal menikmati konten. Kini, video menjadi lebih bisa dinikmati untuk banyak hal. Mereka pun mengakses video tidak hanya dari desktop tetapi juga ponsel, karena sekarang sangat memungkinkan untuk kita streaming cepat di mana saja dan kapan saja. Yang paling membedakan dengan tahun-tahun sebelumnya adalah di tahun 2017 ini masyarakat mulai memanfaatkan media sosial dengan konten video untuk menampilkan live streaming.

Baca Juga:  Oculus Berkolaborasi Dengan Disney Untuk Produksi Konten Virtual Reality

2. Chatbot menjadi hal yang lumrah

Teknologi machine learning lambat laut mengubah banyak hal dari kehidupan di internet. Salah satunya adalah percakapan. Kini, chatbot atau robot chat menjadi produk yang dipakai hampir untuk semua lini. Pengembangan chatbot sendiri di Indonesia mulai getol dilakukan para pegiat startup, salah satunya di bidang e-commerce. Chatbot digunakan untuk fungsi percakapan menggantikan tugas customer service. Penggunaan chatbot ini dimaksudkan untuk mengurangi effort berlebih menanggapi setiap order maupun keluhan customer yang berulang-ulang. Tak mau kalah menyikapi hadirnya teknologi ini, media sosial seperti Facebook akhirnya membangun sebuah platform messenger berupa chatbot untuk penggunanya. Produk yang diberi nama Chotu ini diumumkan Mark Zuckerberg pada April 2016.

3. Content yang memiliki jangka waktu tertentu

Hadirnya media sosial Snapchat yang memfasilitasi usernya untuk membuat konten dan otomatis menghapusnya untuk jangka waktu tertentu menimbulkan satu gebrakan baru di dunia media sosial. Expiring content atau konten yang kadaluarsa dalam jangka waktu tertentu akan semakin diminati di tahun 2017. Tak heran jika media sosial raksasa seperti Instagram maupun LINE kini mulai membawa fitur ini sebagai salah satu bentuk penyikapan terhadap trend yang akan terjadi di tahun 2017.

Baca Juga:  4 Mitos Tentang Mentor yang Perlu Diketahui Setiap Founder Startup

4. Traffic dari sumber organik akan semakin sulit didapat

Jika dulu para pedagang online menggemari media sosial karena semua hal bisa didapat secara gratis, kini mereka sepertinya butuh usaha lebih untuk tetap mengeksiskan produknya. Pasalnya, kini hampir semua media sosial menyediakan fasilitas iklan berbayar yang memungkinkan sebuah post untuk tampil dalam posisi teratas pada timeline penggunanya. Kini, post dengan konten reguler akan terancam untuk tidak mendapatkan posisi teratas. Marketer harus melakukan usaha ekstra apabila ingin tetap mempertahankan traffic dari sumber organik untuk akun media sosialnya.

5. Otomatisasi menjadi mainstream

Tak hanya mengubah cara orang berkomunikasi dalam media sosial, teknologi machine learning juga mampu mengubah cara orang mengoperasikan sebuah media sosial. Tahun 2017 adalah waktu di mana media sosial digunakan untuk hampir semua kegiatan bisnis. Oleh karena itu, penggunaannya dengan cara-cara manual dipandang kurang efektif sehingga muncullah tren otomatisasi di bidang media sosial.