Opinion

Apa yang Harus Dipersiapkan Menghadapi Tren Mobile Ads di 2017?

[Foto: pixabay.com]
Jika Anda bertanya pada orang-orang di sekitar Anda, “Kapan terakhir kali membuka ponsel?” Besar kemungkinan Anda akan mendapat jawaban, “Beberapa waktu lalu.” Paling tidak Anda akan menemukan jawaban yang mengerucut pada, hampir setiap orang membuka ponselnya setiap beberapa jam atau bahkan beberapa menit sekali. Uniknya, kebiasaan ini tak hanya terjadi pada orang-orang dengan tingkat mobilitas tinggi seperti pebisnis atau pekerja kantoran, namun hampir terjadi pada setiap orang.

Melihat berbagai perubahan behavior yang muncul pada masyarakat seiring dengan perkembangan teknologi ini, tak heran jika kemudian para marketer di seluruh dunia menyikapi hal ini dengan langkah strategis. Salah satunya adalah melalui mobile advertising.

Istilah mobile advertising atau mobile ads menjadi sangat familiar akhir-akhir ini. Penggunaannya pun mulai banyak di berbagai lini. Jika menilik ke belakang, kemunculan mobile advertising barangkali diawali dengan kemunculan smartphone yang membanjiri pasar di seluruh dunia sekitar satu dekade lalu. Hal ini kemudian diikuti dengan munculnya berbagai banner yang mobile-friendly di setiap website yang menyediakan slot iklan. Kemudian, teknologi terus berkembang dan muncullah berbagai model mobile advertising. Dari mulai banner yang bisa dikatakan paling konvensional hingga call-only ads dan berbagai jenis iklan digital lain yang tersedia dalam teknologi mobile.

Baca Juga:  Peneliti Berhasil Ciptakan Embrio Gabungan Manusia dan Babi

Tahun 2017 menjadi angin segar bagi dunia digital marketing di Indonesia, terutama jika Anda menggunakan teknologi mobile untuk tujuan meningkatkan revenue yang ingin diraih dalam sebuah bisnis. Hal ini bisa dipastikan, mengingat berbagai tren konsumen digital di Indonesia yang terjadi selama setahun terakhir menunjukkan beberapa gejalanya. Di antaranya adalah kebiasaan user di Indonesia mengakses ponsel untuk berbagai kegiatan mereka sehari-hari, hingga gempuran produk smartphone murah di Indonesia yang semakin masif.


Beberapa marketer memilih strategi untuk mengalokasikan budget lebih banyak untuk channel mobile. Ada pula yang mengubah total model bisnisnya menjadi lebih mobile-friendly sehingga bisa menjangkau lebih banyak konsumen di tahun 2017. Namun, meski demikian tahun 2017 tak sekadar waktu untuk menggelontorkan lebih banyak budget untuk beriklan secara agresif, tetapi juga perlu melakukan beberapa hal yang menjadi pelengkapnya.

Sudah bukan waktunya membombardir audiens dengan iklan

Meski kuantitas kemunculan iklan mempengaruhi konsumen, paling tidak dari tingkat awarenessnya, tetapi dalam hal mobile advertising, hal ini harus dipahami sedikit berbeda. Smartphone dalam kehidupan setiap orang diibaratkan seperti bagian dari dirinya. Sebagian masyarakat menghabiskan waktu dengan ponselnya, mereka makan bersama ponsel, tidur bersama ponsel, bangun yang dicari pertama adalah ponsel, dan lain sebagainya. Smartphone menjadi bagian yang tak terpisahkan dari audiens yang kita targetkan sebagai konsumen. Oleh karena itu kemunculan iklan yang brutal dapat dipastikan akan mengganggu kenyamanan mereka.

Baca Juga:  Pedoman Berbagai Warna untuk Kebutuhan Branding

Sedikit berbeda dengan pengguna desktop yang membuka gadget hanya di saat-saat tertentu, pengguna mobile hampir bisa dipastikan membuka gadgetnya sepanjang waktu. Itulah kenapa memborbardir mereka dengan iklan sudah bukan waktunya lagi. Diperlukan timing serta personalisasi iklan yang lebih baik, alih-alih menyamaratkan setiap audiens sebagai pengguna mobile yang memiliki kebiasaan sama, yakni mengakses ponselnya.

Mendesain iklan sealami mungkin

Mendesain iklan dengan unik dan tertarget barangkali telah dipahami oleh setiap marketer di dunia. Namun, ada satu lagi pekerjaan rumah bagi mereka di tengah tren mobile advertising ini, yakni bagaimana mereka mampu mendesain sebuah iklan yang alami. Alami di sini dimaksudkan sebagai sebuah iklan yang dikemas dengan sangat rapi sehingga hampir tidak bisa dikenali sebagai sebuah iklan. Alih-alih hanya berupa ajakan atau banner berisi iming-iming untuk membeli produk Anda, sebaiknya mulai sekarang Anda harus berpikir lebih kreatif untuk mendesain iklan yang smooth dan tidak mudah ditebak oleh audiens sebagai iklan. Konsep story telling dan creative yang baik sangat diperlukan untuk meraih perhatian audiens yang maksimal.

Baca Juga:  Menelusuri Jejak Asteroid, Inilah 10 Kawah Meteor Terbesar di Bumi

Dengan memperhatikan dua hal tersebut, bisa dipastikan proses digital marketing Anda akan berjalan lebih baik di tahun 2017. Selamat mencoba!