Opinion

Apakah Pilihan Magang di Startup Bagus untuk Mahasiswa?

loading...

people-office-group-team
[Foto: pexels.com]
Menjalani beberapa tahun proses perkuliahan, tidak lengkap rasanya jika tidak diimbuhi dengan pengalaman magang. Beberapa kampus bahkan mewajibkan mahasiswanya untuk menjalani program magang sebagai syarat kelulusan. Tentu saja melalui program ini diharapkan mahasiswa matang secara pengetahuan teoritis maupun keahlian praktis.

Dalam proses menentukan pilihan di mana seorang mahasiswa akan menjalani magang, ada satu pertanyaan terbesar yakni, apakah ingin magang di perusahaan besar dengan struktur lengkap dan mapan atau magang di startup yang baru dirintis? Sepintas, pertanyaan ini terasa mudah untuk dijawab. Tapi tunggu dulu.

Jika beberapa orang menganggap proses magang di suatu tempat dipertimbangkan dari prestise, sekarang, startup pun tidak kekurangan prestise loh. Terlebih saat ini usaha untuk membangun startup sangat digencarkan dan didukung baik di kampus-kampus maupun oleh pemerintah melalui Gerakan 1000 Startup Digital. Kemudian apabila pertimbangannya adalah soal gaji, hmm ada yang berani menjamin gaji di startup itu lebih kecil daripada kerja di perusahaan besar?

Well, lupakan soal prestise dan jumlah gaji. Tujuan utama mahasiswa menjalani magang adalah untuk belajar. Apakah akan magang di korporasi atau startup, belajar bisa dilakukan di mana saja —nggak harus magang pun bisa belajar! Tetapi setidaknya beberapa hal di bawah ini bisa kamu jadikan pertimbangan apabila kamu ingin magang di startup.

1. Di startup kamu bisa belajar langsung dengan para foundernya

Yup, ini adalah keuntungan terbesar bila kamu memutuskan magang di startup. Struktur yang kecil, ditambah kantor yang menggunakan prinsip co-working space, memungkinkan kamu untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan siapa saja, termasuk para foundernya. Saat bekerja di startup, hal-hal yang tidak kamu pahami bisa langsung kamu tanyakan pada mereka.

Baca Juga:  Anak Muda Indonesia di Industri Digital: Peluang dan Tantangannya

Biasanya, orang yang menjadi founder di startup ini juga bukan orang sembarangan lho. Sebelum akhirnya menjadi founder, mereka biasanya memiliki banyak pengalaman dan ilmu berharga yang bisa kamu serap dengan maksimal. Kamu akan merasakan seperti punya mentor ketika bekerja bersama mereka. Tentu saja hal ini menjadi perbedaan mencolok dibandingkan ketika kamu bekerja di perusahaan yang memiliki hierarki yang rumit. Jangankan diajari langsung oleh direkturnya, bertemu atau ngobrol saja mungkin jarang-jarang.

2. Ekosistem startup sangat nyaman untuk belajar

Selain model kantor yang terbuka, jam kerja yang fleksibel, dan cara kerja yang cenderung dinamis, startup biasanya terdiri dari orang-orang yang sebaya dengan kamu. Usia mereka yang bekerja di startup berkisar di angka 20an tahun. Sehingga, dalam keseharian hampir tidak ada rasa canggung karena kamu seperti bekerja dengan teman sendiri.

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID