News

Astronom Berhasil Rekam Awal Proses Meledaknya Bintang untuk Pertama Kalinya

[Foto: Wiki Images/Pixabay.com]
ketika bintang mengakhiri masa hidupnya, mereka meledak dengan letusan dahsyat yang menggema nyaring. Ledakan tersebut disebut supernova. Seperti dilansir dari USA Today, Selasa, 14 Februari 2017, untuk pertama kalinya, para astronom berhasil merekam tahap-tahap awal dari proses supernova atau ledakan yang melenyapkan sebuah bintang.

Saking dahsyatnya ledakan yang menandai akhir “kehidupan” bintang tersebut, para astronom memggambarkannya dengan kalimat hiperbolik “going out with a bang.”

Hasil kerja astronom yang berhasil mengabadikan proses awal supernova tersebut dipublikasikan Senin, 13 Februari 2017 lalu di jurnal Nature Physics.

Bintang yang tengah menjalani masa akhir hidupnya cenderung membengkak dan membesar menjadi apa yang disebut red supergiant, hingga akhirnya bagian pusatnya runtuh dan bergetar hebat, berpijar bagaikan bola api raksasa hingga akhirnya meledak. Proses inilah yang disebut supernova.

Ledakan bintang tersebut merupakan ledakan super dahsyat yang terlihat terang sehingga bisa dilihat dengan mata telanjang dari bumi. Bintang yang sedang mengalami Supernova biasanya terlihat terang berpijar dari Bumi. Sementara, supernova paling dahsyat terlihat bahkan saat siang hari, terjadi di tahun 1604.

Baca Juga:  Kelak Smartphone Tidak Perlu Lagi Menggunakan Baterai

Pada tanggal 3 Oktober 2013, sebuah alat pemindai langit otomatis yang ada di Palomar Observatory di California, Amerika Serikat menemukan sesuatu dalam galaksi NGC 7610 pada arah bintang Pegasus, sekitar 160 juta tahun cahaya jauhnya. Ketika peringatan dikirimkan, beberapa teleskop ruang angkasa di berbagai tempat langsung mengarahkan fokus kepada obyek tersebut, dan menemukan bahwa itu adalah sebuah bintang merah raksasa yang baru saja meledak dalam sebuah supernova beberapa jam sebelumnya.


Namun walaupun astronom di Bumi melihat ledakan Supernova dan mengidentifikasinya baru saja terjadi beberapa jam lalu, sesungguhnya ledakan tersebut bisa jadi terjadi jutaan tahun yang lalu. Pada kasus di atas, supernova tersebut terjadi ketika Bumi masih dalam periode Jurassic, namun imajinya baru bisa terlihat dari planet kita pada tanggal  ketika sistem otomatis tersebut mengidentifikasinya.

Hasil observasi dari supernova iPTF13dqy, yang juga bersamaan dengan SN2013fs, adalah hasil observasi pertama yang menunjukkan proses-proses awal dari terjadinya supernova. Biasanya astronom baru menemukan supernova ketika bintang tersebut telah meledak selama beberapa hari. Penemuan ini akan membantu ilmuwan dalam mengetahui keadaan bintang di hari-hari dan jam-jam terakhirnya.

Baca Juga:  Apple Patenkan Teknologi yang Bisa Cegah Anda Merekam Video Pada Saat Konser

“Observasi langsung di tahap-tahap awal sebelum bintang dan ruang di sekitarnya melebur dalam ledakan dan dipenuhi debu ledakan supernova secara signifikan telah meningkatkan pemahaman kami terhadap tahap-tahap akhir di mana terjadi evolusi fisik dari bintang raksasa (komposisi, kepadatan, dan pengurangan massa) khususnya pada saat-saat terakhir sebelum supernova dimulai,” kata ahli astrofisika Ofer Yaron dari Weizmann Insitute of Science di Israel.

Menurut para astronom, perbedaannya adalah seperti melihat gedung yang telah hancur karena di bom dengan melihat gedung itu sesaat setelah meledak ketika gelombang ledakan masih terjadi dan membuat jendela-jendela retak di bangunan sekitarnya.

Dari informasi yang dikumpulkan dari observasi awal, tim tersebut juga berhasil menentukan bahwa bintang yang meledak telah menjadi sebuah red supergiant sebelumnya, mengafirmasi teori-teori yang ada sebelumnya tentang proses supernova.

Tahun lalu, para ilmuwan mengumumkan bahwa Supernova yang dianggap paling terang yang pernah ditemukan sesungguhnya adalah sebuah bintang yang hancur ditelan oleh lubang hitam.

Melalui berbagai temuan mengenai ledakan bintang, kita bisa memahami bahwa angkasa luar adalah sebuah tempat yang keras. Dengan adanya pengetahuan ini kita bisa memahami alam semesta secara lebih mendalam.

Baca Juga:  Stephen Hawking: 1000 Tahun Mendatang, Manusia Tidak Bisa Lagi Hidup di Bumi