Opinion

Bagaimana Cara Menarget Customer Perempuan di Indonesia?

[Foto: pexels.com]
Perempuan menjadi salah satu target market terbesar di seluruh dunia. Tak hanya di Barat, pasar Asia, bahkan Indonesia sebagian besar masih didominasi oleh perempuan. Tak heran jika kemudian kita menemukan produk ‘ladies-only’ menjamur di berbagai kategori. Dari mulai salon, tempat hiburan, hingga fashion.

Perempuan memang memiliki berbagai kebutuhan khusus yang membuatnya menjadi ‘target empuk’ marketing untuk berbagai produk. Meski kemudian kebutuhan laki-laki juga tak kalah beragam dan perempuan, tetapi itu hanya ditemukan pada kelompok khusus. Misalnya saja, kita akan sangat jarang melihat e-commerce yang hanya menjual produk laki-laki. Sebaliknya, jika e-commerce yang hanya menjual berbagai kebutuhan perempuan, jumlahnya sangat menjamur.

Sebuah laporan dari EY yang dirilis tahun 2013 menyebutkan perempuan akan menjadi konsumen terbesar untuk berbagai produk di dunia. Hal ini menyusul dengan kemajuan perempuan dalam berbagai bidang, terutama dari segi pendapatan, pengaruh dalam sosial, maupun kemampuan mereka dalam berbisnis.

Akan tetapi, para perempuan ini berbeda-beda satu sama lain, terutama menyangkut kultur dan latar belakang sosial tempat mereka berada. Misalnya saja jika kita berbicara konsumen perempuan, perlakuan yang kita berikan akan sangat berbeda antara perempuan di Barat dengan perempuan-perempuan di Asia seperti di Indonesia. Hal ini bisa dikarenakan berbagai perbedaan yang mendasari sudut pandang, cara berpikir, maupun pola konsumsi yang mengikutinya.

Baca Juga:  Instagram Stories Kelak Akan Diselipi Oleh Iklan Berbayar

Di Indonesia, paham feminisme masih dianggap sebagai sesuatu yang negatif dan tidak sesuai dengan budaya patriarkis yang sangat mengakar. Selain itu, isu-isu dominasi dan ketimbangan gender masih menjadi pembahasan utama di kalangan customer perempuan di Indonesia. Oleh karena itu diperlukan pendekatan-pendekatan khusus yang sedikit unik dari segi marketing.

Hargai perbedaan tanpa menghilangkan tradisi

Pada beberapa masyarakat di Indonesia, pandangan-pandangan tradisional masih mengakar kuat bahkan menjadi semacam kepribadian bagi orang-orangnya. Terlebih Indonesia dikenal memiliki keragaman budaya yang sangat kompleks. Di sini, tentunya diperlukan pendekatan yang sangat beragam untuk menjangkau seluruh customer yang potensial.

Sebagai implementasinya, konsep personalisasi marketing sangat efektif di sini. Sebab, bisa jadi nilai-nilai yang dianut oleh customer dengan budaya tertentu akan berbeda dengan customer lainnya, meskipun sama-sama berada di Indonesia. Pendekatan yang paling efektif juga apabila marketing dilakukan tanpa menghilangkan sisi kultural atau tradisi pada customer itu sendiri. Sebagai contoh, kita bisa melihat iklan-iklan produk rumah tangga umumnya diisi oleh peran perempuan sebagai figurnya. Akan sangat jarang kita temui, sebuah produk rumah tangga diiklankan oleh laki-laki. Meskipun lambat laun nilai-nilai ini juga akan tergerus seiring dengan tumbuhnya generasi millennial yang lebih modern dalam berpikir, setidaknya untuk saat ini, cara tersebut dipandang paling efektif.

Baca Juga:  Kolonisasi Mars Terbentur Finansial, Akankah Misi Ini Bakal Terwujud?

Jangan termakan stereotype, kecuali survey mengatakan demikian

Banyak orang berpikir bahwa customer perempuan di Indonesia adalah mereka yang sangat konvensional. Ada banyak sekali stereotype menyangkut perempuan yang pada akhirnya diterapkan dalam proses marketing. Padahal, jika kita mencari tahu lebih lanjut, tidak semua stereotype itu benar. Misalnya saja, perempuan lebih menyukai warna pink, sehingga tak jarang kita temui berbagai produk untuk perempuan yang mengusung pink sebagai corak utama dalam produknya.

Beberapa stereotype yang muncul terkait dengan perempuan tak semuanya benar. Satu hal yang harus Anda lakukan sebelum menerapkannya dalam marketing adalah melakukan survey atau riset untuk mengetahui kebenarannya.
Pada beberapa kasus, bisnis yang menerabas berbagai pakem ihwal perempuan ini justru mendapatkan hasil yang lebih memuaskan. Sebab, tanpa dilakukan riset atau percobaan terlebih dahulu, kita tidak akan mengerti performa dari sebuah marketing. Dengan terbuka terhadap setiap kemungkinkan, bisnis justru kemungkinan besar akan meraih customer yang selama ini belum terjangkau bisnis yang melakukan pendekatan secara konvensional.

Baca Juga:  Profesor Ini Menyarankan Agar Mimpi Jangan Diceritakan pada Orang Lain, Mengapa?