News

Banyak Drone Melanggar Aturan, Perusahaan Ini Ciptakan Alat Pembajak Drone “Nakal”

[Gambar: businesstech.co]
Pesawat terbang dengan radio-control seperti drone dewasa ini memang sangat marak. Tak hanya di kalangan penghobi, beberapa perangkat pun menggunakan drone untuk mempermudah membantu merekam adegan dari sudut-sudut tertentu dengan cara dipasangkan dengan action camera. Bahkan tak tanggung-tanggung, perusahaan pizza pun menggunakan drone untuk mengantar pesanan pelanggan.

Sayangnya, baik para penghobi maupun pengguna pesawat terbang, helikopter, dan pesawat dengan radio-control lainnya ini menyebabkan masalah. Pasalnya, banyak pemilik rumah yang terkadang merasa privasi mereka terganggu karena pesawat terbang, helicopter, dan pesawat terbang dengan R/C ini diterbangkan di dekat properti milik mereka.

Sudah umum diketahui bagi para pehobi drone, tak ada area terbang khusus untuk drone di dekat bandara. Namun demikian, tetap saja ada beberapa pengguna mengabaikan peraturan ini. Meningkatnya jumlah pengguna pesawat tak berawak dengan R/C di wilayah terlarang ini menyebabkan banyaknya insiden antara drone dan pesawat terbang. Kasus ini akan sangat berbahaya jika tak ditindaklanjuti.

Hal ini membuat Pimpinan regulator di AS dan Eropa mempertimbangkan undang-undang yang membatasi penggunaan perangkat tersebut. Dan karena banyaknya kasus serupa, beberapa pihak yang merasa bersalah bahkan dengan sukarela menonaktifkan drone mereka.

Banyak laporan datang dari masyarakat, termasuk polisi yang menembaki sampai jatuh drone yang melanggar aturan. Oleh karena itu, membajak drone dan mendaratkannya dengan aman tampaknya akan jadi solusi yang lebih baik untuk mengurangi pelanggaran yang mungkin dilakukan, dari pada menembaki drone dan merusaknya.

Jonathan Andersson, manajer dari Advanced Security Research Group di Trend Micro DVLabs, kabarnya tengah menemukan dan mengembangkan metode untuk membajak berbagai jenis radio, seperti pesawat terbang, helikopter, mobil, kapal dan perangkat lain yang menggunakan teknologi transmisi nirkabel.

Andersson tengah berupaya menargetkan “wideband, frekuensi protokol dengan sinyal 2.4GHz” yang disebut DSMx, protokol yang dapat digunakan pada radio-control (R/C) pada mainan, termasuk radio-control pada drone yang dimiliki oleh jutaan pengguna.

Andersson mengatakan bahwa teknik ini akan digunakan untuk memantau area di mana aktivitas drone tidak diperbolehkan. Tak hanya itu, penemuan Andersson ini pun mampu merekam ID drone dan bisa digunakan untuk mengidentifikasi pemiliknya.

Para peneliti tengah menciptakan sebuah perangkat bernama Icarus yang menggunakan komponen elektronik off-the-shelf dan software-defined radio (SDR). Mereka pun sedang mencarti cara untuk  mengambil alih kendali pesawat tak berawak dan perangkat dengan radio-control lain dan membajaknya dari sang pemilik hanya dalam hitungan detik.

 

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID