Tips & Guide

Beberapa Hal Dasar dalam A/B Testing yang Harus Dipahami

[Ilustrasi: pixabay.com]
Pernahkah Anda membayangkan bagaimana jadinya jika Anda memiliki satu jenis makanan favorit dan makanan itu disajikan setiap hari dengan porsi yang sama, bentuk yang sama, dan cara yang sama? Setiap Anda akan makan, Anda diberikan menu tersebut. Katakanlah dalam satu hari Anda makan tiga kali sehari, maka Anda akan dihadapkan pada makanan tersebut sebanyak tiga kali dalam sehari. Sekarang bayangkan bagaimana jika Anda mengonsumsi makanan tersebut tiga kali sehari selama satu tahun?

Hmm terdengar mengerikan bukan? Kendati makanan tersebut adalah makanan favorit Anda, tetapi jika Anda dihadapkan pada menu yang sama setiap kali Anda ingin makan dan berlangsung selama kurun waktu yang cukup panjang, saya yakin rasanya akan mengerikan.

Hal itu pula lah yang sebenarnya dialami oleh customer Anda ketika Anda menyajikan satu “menu” yang sama selama kurun waktu yang lama tanpa ada perubahan atau variasi. Tentu saja, seperti halnya Anda customer akan merasa bosan. Tidak peduli apakah produk Anda itu adalah makanan favoritnya atau bukan.

Baca Juga:  Cara Mudah Mencetak Melalui Ponsel atau Tablet Android Anda

Salah satu yang bisa Anda lakukan tentu saja adalah melakukan perubahan. Namun, perubahan yang terjadi tiba-tiba tentunya adalah keputusan yang terlalu berani bagi sebuah bisnis. Terlebih apabila Anda telah memiliki customer yang biasa mengonsumsi produk Anda tersebut. Bagaimana jika tidak laku? Bagaimana jika customer tidak suka? Berbagai pertanyaan tersebut tentu saja kerap menghantui Anda dan tim ketika akan melakukan perubahan.

Dari permasalahan-permasalahan tersebut, A/B Testing hadir sebagai salah satu solusi yang wajib untuk dipraktikkan. A/B Testing atau split testing merupakan suatu metode pengujian performa dari suatu landing page atau halaman sebuah website yang memiliki dua variasi. Tujuannya adalah untuk mengetahui mana dari keduanya yang memiliki performa paling baik, misalnya memiliki conversion rate yang lebih tinggi atau lead generation yang lebih banyak. A/B Testing merupakan solusi dari kegalauan para marketer yang ingin melakukan ekperimen dari suatu perubahan pada produknya.


Bagi Anda yang baru-baru ini mencoba metode A/B Testing untuk mengetes produk atau bahkan masih dalam tahap rencana untuk menggunakan metode ini, ada beberapa hal dasar yang wajib untuk diketahui.

Baca Juga:  Aplikasi Android Terampuh untuk Selamatkan Data Anda yang Terhapus

1. Elemen-elemen yang biasa dites

A/B Testing sebenarnya bisa diaplikasikan untuk berbagai hal, dari mulai uji coba produk yang masih dalam tahap pengembangan atau bahkan dalam campaign di proses marketing. Dalam A/B Testing, ada beberapa hal yang umum untuk dites, di antaranya headline, subject line untuk email, Call-to-Action (CTA), promosi, layout atau design, dan juga foto. Masing-masing elemen tersebut memiliki berbagai pengaruh untuk tiap-tiap metrics yang ingin kita ukur.

2. Adanya perubahan yang meningkat atau signifikan

Fakta di lapangan yang terjadi pada sebagian orang yang melakukan A/B Testing adalah mereka tidak menemukan hambatan yang berarti pada jumlah traffic yang didapat sebuah landing page. Namun, yang menjadi masalah adalah ketika traffic tersebut sama sekali tidak menghasilkan conversion atau menghasilkan tetapi nilainya sangat rendah, misalnya hanya 1%-3%.

Ketika melakukan A/B Testing, pastikan bahwa bisnis Anda mengalami perubahan yang meningkat atau signifikan. Jika data yang Anda peroleh adalah 97% pengunjung di website Anda tidak mencapai conversion, berarti ada sesuatu yang salah dalam bisnis Anda dan hal itu harus dibenahi terlebih dulu.

Baca Juga:  Perlukah Menggunakan Semua Jenis Keyword dalam Campaign di AdWords?

3. Mengimplementasikan hasil

Dari sekian banyak bisnis yang ada, hanya sekitar 22% yang puas dengan capaian conversion rate yang didapat dari bisnisnya. Hal ini bisa dikarenakan (1) mereka tidak melakukan A/B Testing untuk mengetahui mana variasi yang paling meningkatkan conversion rate pada bisnis, (2) mereka melakukan A/B Testing tapi tidak cukup banyak sehingga tidak mendapatkan hasil yang optimal, (3) mereka melakukan cukup banyak A/B Testing tetapi tidak mengimplementasikan hasil yang didapat dari percobaan-percobaan tersebut.

Bagian terpenting dalam A/B Testing sebenarnya adalah implementasi hasil dari percobaan yang telah dilakukan. Bagaimanapun tanpa implementasi, data hanya akan menjadi data dan insight hanya akan tetap menjadi insight. Jadi poin ini adalah yang terpenting bagi Anda yang ingin menggunakan A/B Testing untuk mencapai hasil yang optimal dalam bisnis. Selamat mencoba!