Opinion

Bedah Kasus “Kopi Sianida” Jessica dari Sisi Digital Forensic

[Sumber Gambar: Akun YouTube Kompas TV]
Hampir dua bulan sejak dimulainya sidang kasus Jessica disaksikan melalui siaran langsung pada salah satu TV swasta nasional. Hingga saat ini kasus ini masih saja menarik banyak perhatian masyarakat, penegak hukum (aparat/jaksa), para advokat dan juga para IT Professional maupun para anggota Asosiasi Forensik Digital Indonesia. Masyarakat sepertinya cukup antusias mengikuti kasus ini karena selain disiarkan secara langsung, masyarakat juga dapat menonton rekamannya di media online Youtube.

Saksi Ahli yang Saling Bertolak Belakang

Sidang kasus Jessica ini memang sangat menarik, selain mendatangkan saksi saksi dan ahli yang super banyak, baik dari dalam negeri, juga berasal dari Luar Negeri. Menariknya para saksi ahli yang dihadirkan memiliki profesi yang hampir sama, dari sisi Jaksa Penuntut Umum  (JPU) maupun Penasehat Hukum Terdakwa (PH). Mulai dari Professional dibidangnya hingga berasal dari para Akademisi.  Celakanya, banyaknya saksi ahli yang dihadirkan dipersidangan dengan pandangan masing masing yang inti pendapatnya sangat bertolak belakang antara ahli yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dengan yang dihadirkan Penasehat Hukum Terdakwa (PH).

Hal ini tentu saja membuat banyak masyarakat yang mengikuti jalannya persidangan menjadi kebingungan atau tidak memahami pendapat ahli mana yang benar. Hal ini juga mempengaruhi banyak media akhir-akhir ini mulai ikut-ikutan memberitakan hal-hal yang mungkin dapat dikategorikan sebagai penggiringan opini terkait kasus Jessica.

Ahli Digital Forensic dari Dua Kubu

Pada persidangan kasus Jessica yang lalu turut dihadirkan beberapa Ahli Digital Forensic untuk memaparkan hasil analisisnya terhadap barang bukti yang didapatkan dari penyidik. Barang bukti tersebut berupa USB Flashdisk yang menyimpan video CCTV hasil ekstraksi dari DVR sistem monitoring CCTV di Cafe Olivier (TKP).

Pada perjalanan sidang ke 21, ternyata Pihak PH juga mengajukan seorang Ahli (IT)  yang berasal dari Akademisi, pada persidangan tersebut, si Ahli  (IT) yang didatangkan PH mengungkapkan dan menyatakan dugaan (atau “tuduhan”) bahwa video CCTV yang  digunakan oleh Ahli Digital Forensic kubu JPU sudah melalui proses tampering yang bertujuan tidak baik. Dan pernyataan dan pendapat Ahli IT dari PH ini banyak digunakan pada referensi berbagai media cetak maupun online dengan menyatakan bahwa alat bukti CCTV  diduga kuat sudah dilakukan tampering yang bertujuan menyudutkan pihak terdakwa.

Pendapat Ahli IT dari PH terdakwa ini juga dijadikan bahan rujukan dalam nota pembelaan dari PH. Pada nota pembelaan tersebut disebutkan bahwa bukti CCTV yang digunakan oleh JPU bukan merupakan dari alat bukti aslinya, tetapi merupakan hasil kloning dari alat bukti. Pihak PH terdakwa juga menyebutkan bahwa video CCTV sudah melalui proses editing (menggabung-gabung/disambung-sambung) sehingga tidak layak dijadikan barang bukti di pengadilan.

Pelurusan Informasi

Penulis juga sering diminta bantuan sebagai ahli pada berbagai kasus baik saat penyidikan di Kepolisian maupun saksi ahli di persidangan. Pada artikel ini saya akan mencoba meluruskan beberapa informasi atau pengetahuan terkait Digital Forensik yang saat ini menjadi rancu atau kurang tepat dipublikasikan di berbagai media massa berkaitan persidangan kasus Jessica tersebut.


Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID