News

Begini Cara Perusahaan Ojek Online Pastikan Pengemudinya Tak Bau Badan

[Foto: courtesy of Reuters]
[Foto: courtesy of Reuters]
Hari-hari berjibaku dengan kemacetan dan berdesak-desakan di angkutan umum atau bis kota tiap pagi dan sore telah berlalu bagi sebagian warga Jakarta. Pasalnya, dengan adanya jasa ojek online yang bisa dipanggil, para karyawan yang bekerja di perkantoran Jakarta kini lebih memilih moda transportasi yang lebih fleksibel tersebut.

Selain menawarkan kenyamanan karena bisa dipanggil, biaya yang dikeluarkan untuk membayar jasa ojek online juga semakin ekonomis. Ya, karena persaingan yang ketat, para startup dibalik ojek online makin gencar mengadakan promo untuk menggaet pelanggan. Namun, tak hanya promo yang menjadi senjata mereka untuk memenangkan kompetisi. Salah satu faktor lainnya adalah pengemudi ojek yang bersih dan bebas bau badan. Masuk akal sih. Bagaimanapun, penumpang tak akan suka jika berkendara bersama pengemudi dengan bau badan menyengat.

Lalu bagaimana cara perusahaan memastikan pengemudi mereka bebas bau badan? Tentu saja dengan melakukan seleksi ketat di awal. Seperti yang kita mungkin ketahui, masyarakat yang memiliki motor bisa saja beramai-ramai mendaftarakan diri menjadi pengemudi ojek online, namun selain kemampuan mengemudi, perusahaan akan melakukan tes untuk memastikan pengemudinya bebas bau badan. Caranya adalah dengan menempatkan si calon pengemudi di depan kipas angin yang menyala, lalu seorang penguji akan mendekatkan diri untuk mengetahui apakah ada bau tak sedap yang tercium. Tentu saja, calon pengemudi ojek yang memiliki bau badan tertentu yang menyengat tentunya berkemungkinan kecil untuk diterima.

Baca Juga:  Uber Siap Luncurkan Uber Movement, Layanan untuk Mengakses Data Lalu Lintas

Tak hanya di Jakarta, perusahaan ojek online berbasis aplikasi smartphone juga melakukan hal yang sama, seperti Nguberjek yang beroperasi di Magelang, misalnya.

Menurut Aryani, kepala cabang Nguberjek Magelang, persyaratan utama bagi calon pengemudi yang ingin mendaftar adalah kondisi motor yang prima.

“Motor harus layak dan sesuai standar. Kami lakukan ujicoba mulai dari dari starter, lampu depan, lampu rem, lampu sein kanan dan kiri, knalpot, klakson, hingga ukuran ban. Selain itu, antara STNK, SIM dan KTP, harus sesuai dengan data yang diisikan dalam formulir pendaftaran,” katanya kepada Tribunnews.

Selain itu, menurut Aryani, pihaknya juga melakukan seleksi berdasarkan aroma tubuh para calon pengemudi. Menurut dia, survey mengatakan mayoritas penumpang tak suka jika berkendara dengan pengemudi ojek berbau badan menyengat.

Selain persyaratan mengenai kendaraan dan bau badan, beberapa perusahaan ojek online seperti Grab, Uber, dan Gojek juga memiliki persyaratan lainnya. Untuk driver Grab motor misalnya, pengemudi harus berusia maksimal 55 tahun dan bagi mereka yang berumur di atas 50 tahun, harus ada surat keterangan dokter mengenai kondisi kesehatannya. Sedangkan untuk jadi pengemudi Gojek, seseorang harus berusia minimal 21 tahun. Semua perusahaan tersebut juga mensyaratkan adanya KTP, SKCK, SIM C dan STNK motor. Selain itu, harus pilih salah satu dari beberapa jaminan, berupa Kartu Keluarga (KK), Ijazah, Buku Nikah, atau BPKB.

Baca Juga:  Startup Asal Singapura Ini 'Langkahi' Uber Luncurkan Taksi Swa Kemudi Pertama di Dunia

Begitulah, ternyata menjadi pengemudi ojek online tak semudah yang dibayangkan bukan? Namun bukan berarti tak mungkin dijalani. Bagaimanapun, di samping efek negatif yang mungkin terjadi, adanya perusahaan ojek berbasis aplikasi ini juga turut membantu membangun ekonomi dan mengurangi tingkat pengangguran di berbagai kota besar di Indonesia.