News

Begini Isi Surat CEO Uber yang Mengecam Kebijakan Trump

Travis Kalanick [Foto: Flickr.com/OFFICIAL LEWEB PHOTOS]
CEO Uber Travis Kalanick telah menyampaikan kekecewaannya terhadap kebijakan Presiden Donald Trump yang melarang warga dari negara-negara tertentu untuk masuk negara Amerika Serikat selama 90 hari ke depan. Kalanick, seperti halnya beberapa CEO perusahaan teknologi lainnya seperti Twitter dan Google, menganggap kebijakan tersebut sangat merugikan banyak pihak, terutama warga AS yang memiliki keluarga di negara-negara tersebut.

Kalanick telah menyatakan perusahaannya akan memberi kompensasi pro bono bagi ribuan pengemudi yang terdampak kebijakan larangan imigrasi, termasuk membiayai keluarga mereka selama mereka tak bisa bekerja.

Selain melayangkan kecaman, Kalanick juga menulis surat untuk semua karyawan Uber:

Tim,

Kemarin Presiden Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang melarang masuknya warga dari tujuh negara, Iran, Iraq, Libya, Somalia, Sudan, Syria dan Yaman, ke Amerika Serikat setidaknya untuk 90 hari ke depan.

Staf operasional perusahaan telah menghubungi selusin lebih karyawan kita yang diketahui akan terdampak: misalnya, mereka yang kerja dan hidup di AS, yang merupakan penduduk legal namun bukan warga naturalisasi, tidak akan dapat kembali ke negara ini jika mereka bepergian di luar AS sekarang atau kapan saja di 90 hari ke depan. Siapa saja yang merasa aturan ini akan mempengaruhi mereka, silakan hubungi immigration@uber.com secepatnya.

Perintah ini telah memberi implikasi yang lebih luas, dan juga mempengaruhi ribuan pengemudi yang menggunakan Uber dan datang dari negara-negara yang dilarang, yang banyak dari mereka akan mengambil cuti panjang untuk pulang dan menemui keluarha. Para pengemudi yang saat ini berada di luar AS tak bisa kembali dalam 90 hari ke depan. Itu berarti, mereka tak akan bisa mencari nafkah dan membiayai keluarga, dan tentu saja mereka akan terpisah dari orang yang mereka cintai selama waktu itu.


Kami sedang melakukan proses identifikasi para pengemudi tersebut untuk memberi kompensasi pro bono selama tiga bulan ke depan untuk mengurangi beban finansial dan membiayai keluarga mereka; memastikan selalu ada makanan di meja. Kami akan memberi detail mengenai hal ini dalam beberapa hari ke depan.

Ketika setiap pemerintah memiliki kontrol imigrasi sendiri, membiarkan orang-orang dari seluruh dunia datang dan menjadikan Amerika rumah mereka telah menjadi bagian dari kebijakan AS sejak negara ini berdiri. Artinya, pelarangan ini akan mempengaruhi banyak orang tak bersalah, isu yang akan saya angkat Jumat ini, ketika saya pergi ke Washington untuk menghadiri rapat dewan penasihat bisnis Presiden Trump.

Sejak pertama Uber didirikan, kita telah bekerja bersama pemerintah dan politisi dari semua aliran politik di ratusan kota dan puluhan negara. Walaupun kita memiliki kesamaan dengan banyak dari mereka, kita juga memiliki hal-hal yang tidak kami sepakati dengan mereka. Di beberapa kasus, kita harus berdiri dan melawan untuk membuat kemajuan, di beberapa kasus lain, kita bisa mempengaruhi menuju perubahan dari dalam, melalui persuasi dan argumentasi.

Namun apapun kotanya atau negaranya—mulai dari AS dan Meksiko hingga China dan Malaysia, kita berpendapat jika memang ingin melayani kota-kota tersebut, kita harus memberi warga kotanya suara, sebuah kursi di meja. Kami menjalin kerjasama di seluruh dunia dengan optimis, dengan keyakinan bahwa dengan menyuarakan pendapan dan lebih banyak terlibat, kita bisa membuat perubahan. Karena itulah saya setuju di awal Desember lalu untuk bergabung dengan dewan penasehat ekonomi Presiden Trump bersama dengan Elon Musk (CEO Tesla), Mary Barra (Chairwoman/CEO General Motors), Indra Nooyi (Chairwoman/CEO Pepsi), Ginni Rometty (Chairwoman/CEO IBM), Bob Iger (Chairman/CEO Disney), Jack Welch (mantan petinggi GE) dan selusin pimpinan perusahaan lainnya.

Saya tahu banyak orang, baik di dalam ataupun di luar perusahaan, mungkin tak setuju dengan keputusan tersebut, tak apa-apa. Yang ajaib dari hidup di Amerika adalah, orang bisa dengan bebas tak sependapat. Namun apapun pandangan kalian, ketahuilah bahwa saya selalu percaya konfrontasi yang memiliki prinsip, dan perubahan. Dan saya tak pernah menghindar (mungkin merugikan saya) dari berjuang untuk sesuatu yang benar.

Terima kasih,

Travis.

Baca Juga:  6 Alasan Mengapa Mobile App Lebih Populer Dibanding Website