Opinion

Benarkah Android Lebih Mudah Diretas Ketimbang iOS?

[Foto: androidpit.com]
Saat ini, Android merupakan sistem operasi dengan pengguna terbanyak di dunia yakni 1,4 miliar. Keberhasilan ini tak lain adalah karena sifatnya yang open source alias keterbukaan, sehingga fleksibel digunakan oleh berbagai vendor perangkat mobile.

Namun di sisi lain, sifat keterbukaan Android itu juga memiliki dampak buruk. Salah satunya adalah keamanan yang tidak terstandarisasi. Setiap ponsel Android memiliki jadwal update berbeda-beda, kadang rutin kadang tidak.

Hasilnya, banyak celah keamanan yang berpotensi untuk dibobol. Beberapa tahun terakhir, penyebaran malware di Android pun menjadi masif. Lantas, benarkah Android lebih mudah dibobol alias diretas ketimbang sistem operasi mobile lain?

Adrian Ludwig, Director of Android Security mengatakan, ada kesalahan persepsi yang menyebar di masyarakat luas, yang semata-mata merujuk pada banyaknya malware bermunculan di sistem operasi Android. Padahal, ia mengklaim bahwa Android sudah ditingkatkan keamanannya secara signifikan dari masa ke masa.

“Dari kriptografi dan sandboxing yang kami tingkatkan, eksploitasi OS Android semakin sulit,” katanya, seperti dilansir dari Digital Trends.

Baca Juga:  10 Hal yang Menggambarkan Betapa Minimnya Penggunaan Teknologi di Korea Utara

Sederhananya, Ludwig mengatakan bahwa ponsel Android yang sering diperbarui dijamin aman. Masalahnya, otoritas untuk pembaruan sistem operasi itu ada di tangan vendor.

Sementara itu, menurut tim Android, setengah dari total penggunanya tidak menerima update Android selama satu tahun. Hal ini berisiko, karena setiap pembaruan memberikan amunisi baru pada ponsel agar tidak gampang dieksploitasi.


“Khusus untuk Android versi lama, ada banyak celah yang muncul. Kebanyakan vendor tidak membekali update untuk perangkat mereka. Saat ini, lebih dari 800 celah yang dikenali,” kata CEO AV-Test, Maik Morgenstern. AV-Test sendiri adalah organisasi yang memberikan peringkat untuk antivirus.

Pengguna Android masih banyak yang gunakan versi lawas

Jika dijabarkan, hanya ada 4,9 persen dari ponsel Android yang sudah menggunakan versi Nougat 7.0 atau 7.1 teranyar pada April 2017. Bisa dikatakan, jumlah tersebut tergolong kecil.

Sementara itu, 31,2 persen pengguna Android masih memakai versi yang lebih lawas yakni Marshmallow 6.0. Sebanyak 31 persen masih betah dengan versi Lollipop 5.0 dan 5.1. Sisanya menggunakan Android KitKat 4.4 hingga yang lebih lawas.

Baca Juga:  Ini 7 Dampak Negatif Jika Sering Menatap Layar Smartphone di Malam Hari

“84 persen ponsel Android tidak diperbarui. Artinya, hampir semua perangkat Android berisiko,” kata Joshua J. Drake, Vice President dari divisi Platform Research and Exploitation di Zimperium. Zimperium adalah perusahaan keamanan mobile.

Pada 2015 lalu, Drake sendiri menemukan celah bernama Stagefright di Android. Celah itu memberikan akses pada peretas untuk mengontrol perangkat Android dari kode berbahaya pada file audio dan video.

Kala itu, hampir 95 persen perangkat Android berisiko diserang Stagefright. Namun, sesudah diperbaiki oleh tim Android dan dirilis sistem operasi baru, kini tidak sampai 1 persen yang masih berisiko atas Stagefright.

Apakah iOS lebih aman?

Dibalik masalah fragmentasi pada Android karena sifat keterbukaannya, membuat netizen menobatkan iOS sebagai sistem operasi yang aman. Seperti diketahui, sistem operasi ini bersifat tertutup hanya untuk perangkat buatan Apple.

Namun, Drake membantah pernyataan ini. “Ada kesan bahwa keamanan iOS lebih baik dari Android. Namun, itu tidak semata-mata benar juga,” katanya.

Drake menjelaskan, keterbukaan Android membuat para peneliti lebih mudah mengidentifikasi celah dan memberikan solusi. Sementara itu, iOS yang lebih tertutup membuat peneliti sulit mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Baca Juga:  Penelitian: Usia Manusia Akan Sampai 125 Tahun di 60 Tahun ke Depan

Morgenstern pun sepakat dengan poin tersebut. Meski begitu, ia mengindikasikan bahwa Android lebih berisiko karena prinsipnya berbeda dengan iOS.

“Pengguna Android mudah memasang aplikasi dari sumber mana saja. Fakta ini membuat aplikasi berbahaya dengan mudah masuk ke perangkat. iOS lebih ketat dalam hal ini, sehingga risikonya juga semestinya lebih kecil,” kata Morgenstern.

Jadi, salah satu solusi untuk meningkatkan keamanan Android adalah dengan rajin memperbarui versinya.