Opinion

Berhenti Membangun Startup!

[Foto: pixabay.com]
[Foto: pixabay.com]
Awal Oktober lalu, startup lokal yang bergerak di bidang layanan jasa on-demand, YesBoss, mengumumkan pemberhentian layanannya. Ya, YesBoss yang digadang-gadang akan menjadi startup dengan pertumbuhan cepat di Indonesia itu justru memutuskan menutup layanannya ketika antusiasme customer semakin tinggi. Beberapa waktu sebelumnya, startup yang bergerak dalam bidang serupa, HaloDiana, juga menghentikan layanannya. Tak hanya itu, beberapa nama seperti Shopious, Paraplou, Valadoo, hingga Lamido juga resmi mengumumkan pemberhentian layanannya bahkan sejak 2015 lalu.

Dua tahun terakhir ini menjadi masa di mana geliat startup sedang giat-giatnya, sekaligus mati-matian untuk bertahan. Meski belum sampai menutup layanan, layoff yang dilakukan oleh startup e-commerce lokal seperti SaleStock dan BerryBenka mengindikasikan adanya permasalahan di dalam tubuh startup itu sendiri.

Sampai sini, bagi kita yang masih menggebu-gebu ingin membangun startup, sudah sepatutnya mempertanyakan kembali, untuk apa sih, kita membangun startup?

Beberapa orang memiliki mimpi untuk membuat startup sebagai bukti eksistensi diri. Sebagian lain mungkin berharap untung dengan membuat startup dan menjualnya kemudian exit. Sebagian lain membangun startup demi idealisme menyelesaikan masalah dengan solusi. Well, apapun mimpinya, saya rasa setiap orang berhak memiliki mimpi. Termasuk mimpi soal startup ini.

Startup adalah tentang pola-pikir. Hal itu yang selalu dikatakan mentor-mentor dalam setiap kesempatan kepada setiap orang yang ingin belajar menjadi founder. Membangun startup bukan semacam cita-cita yang ketika sudah tercapai maka berhenti. Startup adalah tentang improvisasi, yang artinya ketika sebuah produk sudah jadi, bukan berarti usaha kita sebagai founder berhenti. Justru pada saat produk jadi itulah tantangan terbesar membangun startup baru dimulai.

Startup adalah sebuah challenge sepanjang waktu

Bergerak di bidang bisnis berarti harus siap dengan segala perubahan. Ada beberapa hal yang tidak dipahami oleh calon founder bahwa membangun startup artinya bersiap-siap untuk menghadapi tantangan sepanjang waktu. Tak jarang, startup gagal karena ketidaksiapan orang-orangnya menghadapi perubahan zaman.

Prinsip yang harus selalu diingat adalah kita membangun startup untuk orang lain. Itu artinya mulailah untuk selalu berpikir apa yang orang lain pikirkan. Percuma kita memiliki segudang ide keren jika ternyata orang tidak membutuhkan.

Punya startup bukan sekadar memiliki uang

Beberapa startup gagal justru ketika mendapat suntikan dana dari investor. Perkaranya macam-macam. Dari mulai model bisnis yang tidak jelas, hingga sikap lalai para foundernya memanfaatkan uang dari investor. Ketika membangun startup, keberhasilan utama bukan sekadar memiliki uang. Lebih dari itu, kita fokus pada bagaimana produk yang kita ciptakan bisa diterima oleh pasar. Terlalu fokus pada pendanaan kadang membuat founder lupa pada model bisnis utama yang nantinya akan membuat startup ini bertahan hidup, bahkan tanpa bantuan pendanaan.

Tim yang mau belajar adalah aset utama

Salah satu isu terbesar dalam membangun startup adalah mencari tim yang ideal. Bagaimana sebuah startup dapat bertahan salah satunya ditentukan dari kualitas anggota tim yang ada di dalamnya. Tidak perlu mencari tim yang bisa segalanya, cukup mencari mereka yang mau belajar dan memiliki kelebihan pada hal-hal yang menjadi kekurangan kita.

Kolaborasi skill merupakan kunci utama dari tim yang ideal. Jika kamu adalah founder, investasikan waktu dan pikiranmu untuk menemukan mereka yang memiliki semangat belajar yang tinggi. Lebih baik merekrut mereka yang “mau” daripada sekadar “mampu”.

Tanpa ketiga hal di atas, please, berhenti membangun startup! Sebab membangun startup tanpa memahami pola pikir dari startup itu sendiri, hanya akan membuang-buang waktu.

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID