News

Bintang Terdekat Ungkap Rahasia Masa Lalu Galaksi Bimasakti

[Foto: Shutterstock]
Para ilmuwan telah mengkonfirmasi keberadaan sistem planet dari bintang yang ada di dekat galaksi Bimasakti, yang berisi sabuk asteroid terpisah. Sistem planet yang mengorbit bintang tersebut mirip dengan tata surya kita sendiri. Usia bintangnya juga sekitar seperlima usia bintang kita, Matahari. Semua itu membuat bintang ini menjadi model yang baik untuk memahami masa-masa awal mula tata surya kita.

Pesawat SOFIA milik NASA, sebuah pesawat 747 yang dilengkapi teleskop 2,5 meter di bagian belakang, telah mengitari bagian Pasifik barat Meksiko. Pesawat yang dioperasikan Observatorium Stratosfer untuk pesawat Astronomi Inframerah tersebut baru saja memulai paruh kedua misi semalamnya pada 28 Januari 2015 lalu. Pesawat tersebut berbelok ke utara untuk mengitari Oregon barat, lalu kembali ke Armstrong Flight Research Center milik NASA di Palmdale, California. Sepanjang jalan, pilot mengarahkan pesawat untuk mengarahkan teleskop untuk mengawasi sebuah bintang terdekat.

Massimo Marengo dari Iowa State University dan astronom lainnya berada di pesawat SOFIA untuk mengamati misi dan mengumpulkan data inframerah tentang bintang tersebut.

Bintang itu disebut Epsilon Eridani. Dia berada sekitar 10 tahun cahaya dari matahari. Fisiknya mirip dengan matahari kita, tapi usianya baru seperlimanya. Namun para astronom percaya bahwa bintang ini bisa memberi tahu mereka banyak hal tentang perkembangan tata surya kita.

Baca Juga:  NASA Adakan Sayembara untuk Mencari Desain Tabir Radiasi yang Paling Efisien

Marengo, seorang profesor fisika dan astronomi di Iowa State—serta beberapa astronom lainnya—telah mempelajari bintang dan sistem planetnya sejak tahun 2004. Dalam sebuah makalah ilmiah tahun 2009, para astronom menggunakan data dari Spitzer Space Telescope NASA untuk menggambarkan cakram debu halus bintang tersebut, serta puing-puing yang tersisa dari pembentukan planet dan tabrakan asteroid dan komet. Mereka melaporkan adanya disk berisi sabuk asteroid terpisah, yang mirip dengan asteroid dan sabuk Kuiper di tata surya kita.

Namun studi yang dilakukan setelahnya oleh para astronom lainnya mempertanyakan temuan tersebut.


Sebuah makalah ilmiah baru, yang baru diterbitkan secara online oleh The Astronomical Journal, menggunakan data SOFIA dan Spitzer untuk mengkonfirmasi adanya struktur disk dalam dan luar yang terpisah. Para astronom melaporkan studi lebih lanjut harus menentukan apakah disk dalam tersebut terdiri atas satu atau dua sabuk puing-puing.

Kate Su, seorang astronom asosiasi di University of Arizona dan Observatorium Steward, adalah peneliti dan penulis utama paper ini. Marengo adalah salah satu dari sembilan rekan penelitinya yang terlibat.

Baca Juga:  "Unlock" Android dengan Pengenalan Suara

Marengo mengatakan bahwa temuan ini penting karena mereka memastikan epsilon Eridani adalah model yang baik untuk memahami masa-masa awal tata surya kita dan dapat memberi petunjuk bagaimana tata surya kita berevolusi.

“Bintang ini menjadi tuan rumah sebuah sistem planet yang saat ini menjalani proses bencana yang sama yang terjadi pada tata surya kita di masa mudanya, pada saat bulan mendapatkan sebagian besar kawahnya, Bumi memperoleh air di lautannya, dan kondisi yang memungkinkan adanya kehidupan Di planet kita ditetapkan,” Marengo menulis dalam ringkasan proyek tersebut.

Kontributor utama temuan baru ini adalah data yang diambil selama penerbangan SOFIA pada bulan Januari 2015. Marengo bergabung dengan Su pada penerbangan di ketinggian 45.000 kaki, di atas hampir semua uap air di atmosfer yang menyerap cahaya inframerah yang dibutuhkan para astronom untuk melihat planet dan puing-puing planet.

Menentukan struktur disk merupakan upaya kompleks yang memakan waktu beberapa tahun dan membutuhkan pemodelan komputer yang terperinci. Para astronom harus memisahkan emisi samar disk dari cahaya yang jauh lebih terang yang berasal dari bintang.

Baca Juga:  Google Rilis Dua Produk Baru di Awal Tahun 2017

“Tapi sekarang kita bisa mengatakan dengan sangat yakin bahwa ada pemisahan antara sabuk dalam dan luar bintang,” kata Marengo. “Ada celah yang kemungkinan besar dibentuk oleh planet-planet. Kami memang belum berhasil mendeteksi celah-celah tersebut, tapi saya akan terkejut jika mereka tidak ada. Untuk melihat celah-celah itu, kami memerlukan penggunaan instrumentasi mutakhir, mungkin dengan James Webb Space Telescope, teleskop luar angkasa NASA selebar 6.5 meter, yang akan diluncurkan pada bulan Oktober 2018.”

Memperhatikan satu bintang dan cakram puing-puingnya tersebut memang makan waktu dan tenaga, namun Marengo mengatakan upaya tersebut benar-benar bisa memberi petunjuk kepada para astronom akan keadaan galaksi Bimasakti di masa lalu.

“Pencapaian yang ingin kita raih adalah pemahamam struktur sejati disk epsilon Erlani yang luar biasa, dan interaksinya dengan kelompok planet-planet yang mungkin menghuni sistemnya,” tulis Marengo dalam sebuah buletin tentang proyek tersebut. “SOFIA, dengan kemampuan unik menangkap cahaya inframerah di langit stratosfir yang kering, adalah yang paling dekat yang kita miliki pada sebuah mesin waktu, yang mengungkap sekilas masa lalu kuno Bumi dengan mengamati masa depan matahari muda terdekat.”