News

Cepat Capek Saat Jogging? Pakaian Canggih Ini Bisa Membantu

[Foto: Shutterstock]
Jika Anda hobi jogging, ada banyak sekali kabar baik untuk Anda. Olahraga tersebut memang dikenal memberikan banyak manfaat, di antaranya mengurangi risiko pengembangan sejumlah penyakit, seperti penyakit jantung, membantu mengendalikan dan mencegah diabetes, mencegah kanker, mengatasi stres, dan mengurangi lemak tubuh.

Bicara tentang jogging, ini kabar baik lainnya: para ilmuwan telah mengembangkan sebuah setelah khusus yang disebut exosuit, yang membantu pelari menggunakan lebih sedikit energi saat jogging sehingga tidak mudah capek.

Menurut laporan PRI, Kamis, 22 Juni 2017, pakaian khusus ini tidak kaku dan “berbau” robot seperti Iron Man. Exosuit ini terlihat lebih mirip sepasang celana spandex dengan ban pinggang. Dalam penelitian yang baru-baru ini dipublikasikan di Science Robotics, ilmuwan mengatakan bahwa mengenakan pakaian tersebut dapat mengurangi energi metabolik yang dikeluarkan selama sesi treadmill sebesar 5,4 persen.

“Memakai pakaian ini, bisa saya katakan, sebanding dengan memiliki sepasang sepatu terbaik,” kata Phillipe Malcolm, asisten profesor biomekanika di Universitas Nebraska Omaha dan salah satu penulis paper tersebut. “Namun kami yakin perbaikan lebih lanjut mungkin terjadi, karena ini hanya penelitian pendahuluan.”

Baca Juga:  Arkeolog Coba Ungkap Misteri Situs Baru yang Tertanam di Bawah Monumen Avebury

Sebelumnya, ia menjelaskan, exosuits hanya mampu mengurangi energi metabolik berjalan. “Kemampuan untuk mengurangi energi metabolik yang sedang berjalan adalah seperti tolok ukur baru yang diaplikasikan untuk menunjang banyak hal, mungkin untuk atlet yang cedera, pehobi lari, dan semacamnya.”


Ketika pelari mengenakan pakaian khusus tersebut, kabel yang ada di antara ban pinggang dan bagian kaki tertarik—seperti sepasang otot tambahan di pinggul. Untuk saat ini, kabel exosuits menggunakan tenaga dari aktuator stasioner, belum menggunakan baterai portabel, sehingga para ilmuwan harus menyempurnakannya supaya bisa digunakan oleh pelari. Namun jika memang belum menggunakan baterai, pakaian ini tetap bisa digunakan untuk berlari di treadmill.

“Saat ini, exosuit dioptimalkan untuj mengurangi keperluan energi metabolik selama berlari,” kata Malcolm. “Namun ia bisa dioptimasi untuk tujuan-tujuan lain, seperti misalnya mengurangi tekanan pada otot-otot tertentu ketika pelari sedang cedera. Untuk memungkinkan hal itu, pakaian ini mungkin memerlukan beberapa tipe aktuasi dengan besaran dan pengaturan waktu yang berbeda.”

Dalam studinya, para peneliti menguji dua pola tarikankabel, atau “profil bantuan.” Yang satu ditiru dari postur manusia saat berlari dalam keadaan normal, dan satu lagi postur manusia saat melakukan simulasi lari dengan bantuan exoskeleton. Menurut siaran pers Harvard, para periset menemukan bahwa profil berbasis simulasi membantu pelari menghemat lebih banyak energi, mengalahkan profil berbasis biologi dalam satu atau dua faktor.

Baca Juga:  Apple Gunakan Drone Untuk Tingkatkan Performa Aplikasi Maps

Dengan penelitian lebih lanjut, Malcolm yakin bahwa exosuit bisa lebih banyak lagi menghemat energi saat pemakainya berlari. Tujuan lainnya adalah membuat pakaian tersebut portabel, walaupun versi non-portabel-nya juga berguna untuk banyak hal.

“Jika Anda melihat ke belakang, saat pengembangan awal eksoskeleton dan exosuit untuk berjalan, itulah saat di mana pengembangan berawal. Penemuan ini diselesaikan dengan apa yang kami sebut pendekatan off-board, yang memerlukan unit aktuasi berada dekat dengan treadmill. Hal itu memberi keuntungan yang membuat pakaian ini lebih berguna, lebih bisa diprogram, dan orang yang memakainya tak perlu membawa beban,” katanya.

Menurut dia, jika mereka sudah berhasil menemukan tipe bantuan yang diperlukan pelari, yang nampaknya agak sulit ditemukan, mereka bisa menggunakan informasi tersebut untuk merancang versi portable dari pakaian lari tersebut.