News

Dibalik Bahaya yang Mengancam, Ternyata Virus Zika Sedang Diuji oleh Para Ilmuwan untuk Membunuh Sel Kanker

[Foto: cnn.com]
Pada 2016, masyarakat dunia sempat dihebohkan dengan kehadiran virus Zika. Virus yang ditularkan ke manusia oleh nyamuk ini termasuk dalam golongan flavavirus, yang masih berkerabat dekat dengan virus dengue dan chikungunya. Sama seperti dengue, Zika juga ditularkan oleh nyamuk Aedes, terutama Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus.

Orang yang terjangkit virus Zika akan merasakan gejala seperti demam, nyeri sendi, konjungtivitis (mata merah), dan ruam. Virus ini sudah menyebar ke lebih dari 60 negara dan wilayah. Dalam wabah global, yang pertama diidentifikasi adalah negara Brazil pada 2015. Di negara tersebut, perjangkitan virus Zika dibarengi dengan peningkatan kasus lingkar otak kecil (mikrosefali).

Meski belum 100 persen terkonfirmasi, dugaan bahwa infeksi Zika pada ibu hamil berhubungan dengan kelahiran anak dengan mikrosefali terus menguat. Hingga tahun 2016, sudah lebih dari 4.800 kasus bayi lahir dengan mikrosefali di Brazil.

Riset membuktikan bahwa virus Zika yang membunuh jaringan ditemukan pada otak yang masih berkembang. Virus tersebut mampu menghancurkan atau mengganggu pertumbuhan sel saraf progenitor yang membangun otak dan sistem saraf. Penemuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Cell Stem. Ini sekaligus membuktikan klaim bahwa Zika yang menyebabkan cacat otak pada bayi.

Baca Juga:  Ilmuwan Ciptakan Smartwatch Inovatif yang Bisa Berputar dan Mengorbit di Pergelangan Tangan

Tim ilmuwan dari Johns Hopkins Florida State dan Universitas Emory mengambil contoh jaringan yang terinfeksi virus Zika dalam dua jam, lalu menganalisanya tiga hari kemudian. Ternyata, virus itu bisa menginfeksi hampir 90 persen sel saraf progenitor dalam sampel jaringan. Akibatnya, hampir sepertiga sel mati dan perkembangan sisanya terganggu. Efek serupa pada otak yang sedang berkembang sangatlah merusak.

Selain itu, infeksi virus Zika juga dikaitkan dengan gangguan saraf guillain barre syndrome (GBS). Sindrom ini memicu kelumpuhan otot, dan bisa menyebabkan kematian ketika yang terserang adalah otot-otot pada organ vital seperti otot pernapasan.

Jalan baru melawan jenis kanker agresif

Namun dibalik bahaya yang mengancam, para ilmuwan di Inggris ternyata berencana memanfaatkan kemampuan virus Zika untuk membunuh sel-sel tumor otak. Menurut mereka, penelitian ini bisa mengarah ke jalan baru untuk melawan jenis kanker agresif.

Penelitian tersebut akan fokus pada glioblastoma, yaitu bentuk paling umum dari kanker otak, yang tingkat kesintasan lima tahunnya hanya lima persen.

Baca Juga:  Google Dikabarkan Akan Luncurkan Smartphone Buatannya Sendiri Tahun Ini

Dalam glioblastoma, sel-sel kanker serupa dengan sel-sel pada otak yang sedang berkembang, menunjukkan bahwa virus bisa digunakan untuk menyasar mereka dalam jaringan otak orang dewasa yang normal. Para ahli mengatakan, pengobatan yang ada harus diberikan dalam dosis rendah untuk menghindari kerusakan pada jaringan yang sehat.

Para peneliti yang dipimpin oleh Harry Bulstrode dari Cambridge University, akan menggunakan sel-sel tumor di laboratorium pada tikus untuk menakar potensi Zika.

“Infeksi virus Zika pada bayi dan anak adalah keprihatinan kesehatan global, dan fokusnya adalah menemukan lebih banyak hal mengenai virus itu guna menemukan pengobatan baru yang mungkin,” kata Bulstrode, sebagaimana dilansir dari laman Reuters.

“Kami mengambil pendekatan yang berbeda, dan ingin menggunakan wawasan baru ini untuk melihat apakah virus bisa dilepaskan untuk melawan kanker-kanker yang paling sulit ditangani,” tambahnya.

Bulstrode berharap bahwa penelitian ini bisa menunjukkan bahwa virus Zika dapat memperlambat pertumbuhan virus tumor dalam pengujian di laboratorium.

“Jika kita bisa mengambil pelajaran dari kemampuan virus Zika melewati sawar darah otak dan menyasar sel-sel punca otak secara selektif, kita bisa memegang kunci untuk pengobatan masa depan,” pungkasnya.

Baca Juga:  Ilmuwan Kembangkan Komputer Pembaca Pikiran untuk Penderita Lumpuh Total