News

Telah Diciptakan, USB Untuk Diagnosa Virus HIV dalam 30 Menit

Ilustrasi [Foto: Flickr.com/gtwang]
Ilustrasi [Foto: Flickr.com/gtwang]
Inovasi di dunia medis terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas penanganan penyakit dan pelayanan pasien. Salah satu yang terbaru adalah sebuah perangkat USB yang bisa mengukur tingkat keparahan HIV dengan menganalisa virus di dalam darah pasien. Akurasi perangkat ini tidak tanggung-tanggung, mencapai 95 persen dengan lama waktu pindai kurang dari 30 menit. Hal tersebut dinilai sebagai lompatan besar di bidang penanganan HIV.

Pada analisa level HIV secara konvensional, pasien harus memberikan sampel cairan tubuh kepada laboratorium untuk diuji. Proses pengujian bisa memakan waktu sampai beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung kepada tes spesifik yang dilakukan. Dalam studi yang dipublikasikan oleh Scientific Reports, peneliti dari Imperial College London dan perusahaan teknologi DNA Electronics menciptakan perangkat mini yang mampu melakukan hal serupa.

Cara menggunakan USB ini sederhana. Anda tinggal meneteskan darah ke stik USB-nya. Hal tersebut akan mengubah tingkat keasaman metal pada USB. Sebuah chip di dalam USB mencatat perubarah tersebut dan mengubahnya menjadi sinyal elektrik. Sinyal tersebut dapat dihubungkan dengan komputer atau perangkat genggam lainnya sehingga petugas bisa membaca hasilnya.

Para peneliti telah melakukan pengujian atas 991 sampel darah. Mereka bisa mendapat hasilnya rata-rata setelah 21 menit.

“Teknologi penanganan HIV telah berkembang dengan dramatis selama 20 tahun terakhir ini, hingga suatu titik di mana mereka yang didiagnosa terserang infeksi bisa memiliki waktu hidup normal,” kata  Dr. Graham Cooke, peneliti klinis di Imperial College dan penggagas riset tersebut. “Memantau viral-load sangat penting untuk keberhasilan pengobatan HIV.”

Menurut Cooke, saat ini pengujian terhadap HIV biayanya relatif mahal dan proses serta peralatannya kompleks. Hasilnya baru bisa diketahui beberapa hari kemudian. “Kami mengambil-alih pekerjaan yang dilakukan mesin, yang besarnya menyamai mesin fotokopi besar, dan menyusutkannya menjadi hanya sebesar chip USB,” katanya, seperti dilaporkan Daily Mail.

Saat ini, menurut dia, pengobatan HIV melibatkan obat-obatan antiretroviral yang keras, yang akan mengurangi jumlah virus dalam sel darah. Selama obatnya bekerja efektif, pasien harus menjalani tes darah rutin untuk mengetahui jumlah virus. Jika obatnya berhenti bekerja atau virusnya menjadi kebal, tandanya telah terjadi peningkatan jumlah virus HIV di dalam darah pasien.

Tes virus HIV yang dilakukan rutin bisa membantu mengetahui keadaan virus, namun tidak bisa mengetahui jumlah virus dalam aliran darah. Harapannya, peralatan tes darah yang mudah digunakan dan efektif seperti stik USB ini bisa membantu pasien melakukan tes mandiri, seperti halnya pasien diabetes melakukan cek gula darah secara mandiri.

Keuntungan lainnya, dokter tak hanya bisa memonitor dan mengetahui apakah pasien minum obat atau menjalani pengobatan secara benar, namun juga mampu menemukan resistensi virus terhadap obat, jika ada.

Menurut Profesor Chris Toumazou, pendiri DNAe and Regius Professor di Imperial, penemuan ini memiliki potensi untuk memperbaiki penanganan dan pengobatan pasien HIV dengan adanya solusi pengecekan cepat, akurat dan portabel seperti USB ini.

Teknologi baru ini mungkin belum akan dipasarkan dalam waktu dekat, namun bila sudah siap, perangkat ini akan menciptakan sebuah perbaikan besar. USB tersebut kecil, sangat mudah digunakan dan diciptakan sebagai perangkat sekali pakai, artinya alat tersebut dapat digunakan untuk memantau HIV hingga ke tempat-tempat paling terpencil sekalipun. Karena proses pemakaiannya sederhana, pasien bisa memonitor tingkat HIV mereka sendiri dan melihat apakah pengobatan yang dilakukan bekerja dengan baik.

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID