News

Dokumen Bocor Ungkap Diskriminasi Facebook Terhadap Wanita dan Pengguna Kulit Hitam

[Foto: Shutterstock]
Media sosial telah menjadi ajang penyebaran berita palsu dan hate speech, dan beberapa dari perusahaan di balik media sosial telah melakukan langkah untuk menghentikannya, termasuk Facebook. Sayangnya, Facebook kemungkinan bisa mendapat masalah karena langkah yang mereka tempuh.

Facebook diberitakan tengah terlibat dalam sebuah skandal sensor setelah sebuah kebocoran dokumen mengungkapkan perusahaan tersebut akan melindungi para pengguna kulit putih yang melakukan hate speech di media sosial tersebut, dan tidak akan melindungi pengguna kulit hitam.

Seperti dilaporkan Telegraph, dokumen yang bocor adalah sebuah dokumen panduan pelatihan untuk moderator Facebook, yang menunjukkan bahwa jejaring sosial tersebut akan mengizinkan perkataan yang membenci kelompok minoritas seperti pengemudi wanita dan anak-anak kulit hitam, dan memblokirnya jika hate speech tersebut ditujukan kepada orang kulit putih.

Dokumen-dokumen tersebut, yang diperoleh oleh situs jurnalisme investigatif ProPublica, menetapkan panduan Facebook untuk membedakan ucapan kebencian dari ekspresi politik. Dokumen tersebut mengungkapkan ketidak-adilan yang dilakukan jejaring sosial dalam memperlakukan pengguna yang melakukan hate speech, atau menggunakan bahasa yang mengancam dan kasar terhadap kelompok etnis, agama dan kelompok sosial tertentu.

Baca Juga:  Twitter Rayakan #BookLoversDay, Hari bagi Semua Pecinta Buku di Dunia

Salah satu contohnya adalah sebuah slide pelatihan yang mengarahkan moderator dengan pertanyaan, “Manakah dari kelompok di bawah yang kita lindungi?” Jawaban yang benar untuk pertanyaan itu adalah “orang kulit putih,” dan jawaban yang salah adalah “pengemudi wanita” dan “anak-anak kulit hitam.”

Menurut “pembelaan” Facebook, alasannya adalah mereka cenderung melindungi orang-orang berdasarkan karakteristik pribadi seperti jenis kelamin, ras, agama, kewarganegaraan dan orientasi seksual, namun tidak melindungi orang-orang berdasarkan ideologi politik, pekerjaan, usia dan kelas sosial. Karena itulah, karakter seperti “pengemudi” dan “anak-anak” tidak termasuk kelompok yang dilindungi.

“Kebijakan tidak selalu mengarah pada hasil yang sempurna,” Monica Bickert, kepala manajemen kebijakan global di Facebook, mengatakan kepada ProPublica. “Itulah kenyataan dari menetapkan kebijakan yang berlaku untuk komunitas global, di mana orang-orang di seluruh dunia memiliki gagasan yang sangat berbeda tentang apa yang baik untuk dibagikan.”

Facebook memiliki moderator sebanyak 4.500 yang memantau setiap posting yang dihasilkan oleh dua miliar pengguna globalnya, berbekal satu buku panduan yang dibuat di Silicon Valley. Buku panduan tersebut telah dikritik karena mengabaikan kecenderungan budaya dan aturan nasional yang berlaku.

Baca Juga:  Pemerintah Indonesia Pertimbangkan untuk Blokir Semua Media Sosial

Dokumen tersebut juga menunjukkan bagaimana Facebook tersebut tampak lebih memihak kepada para elit dan pemerintah atas aktivis dan minoritas, demikian dilaporkan ProPublica.

Dalam satu insiden, moderator membiarkan sebuah komentar dari seorang politisi AS setelah serangan teroris London yang mengatakan tentang Muslim radikal yang berbunyi, “Buru mereka, kenali mereka dan bunuh mereka.”

Tapi mereka memblokir sebuah pos dari aktivis Black Lives Matter dan pustakawan Boston yang mengatakan, “Semua orang kulit putih rasis. Mulai dari satu anggapan ini, atau Anda telah gagal.” Akun aktivis tersebut dinonaktifkan selama seminggu.

Pengungkapan tersebut muncul setelah sebuah dokumen yang bocor bulan lalu menunjukkan kebijakan Facebook dalam menghapus konten-konten di platform mereka. Mereka menunjukkan bahwa moderatornya dapat membiarkan konten-konten yang sangat kasar dan penuh kekerasan di Facebook, dengan dalih untuk meningkatkan kesadaran.