Review

Drone Jumbo Buatan Cina Ini Dianggap Bisa Memantau Teroris

[Foto: chinadaily.com]
Maraknya aksi teror di berbagai belahan dunia membuat sejumlah negara menyiapkan diri menghadapi serangan teroris. Salah satunya adalah Cina, yang mempersiapkan senjata khusus berteknologi tinggi. Negara Tirai Bambu itu menghadirkan drone jumbo bernama Caihong yang diklaim bisa membantu memerangi teroris. Lantas, apa saja kelebihannya?

Pesawat tidak berawak atau drone itu memiliki panjang 14 meter dengan lebar sayap 45 meter. Bagian punggung pesawat tampak penuh dengan sel surya untuk menangkap energi dari matahari. Dalam uji coba, drone tersebut meluncur dari landasan di bandara di Cina barat laut.

Hasilnya, drone yang dikembangkan oleh China Academy of Aerospace Aerodynamics itu pun sukses menembus ketinggian di atas 20 ribu meter atau hampir dua kali ketinggian pesawat komersial.

Shi Wen, Kepala Pengembangan Pesawat Nirawak China Academy of Aerospace Aerodynamics, mengatakan bahwa drone itu sudah cukup bukti tentang ketahanannya di udara.

Sebelumnya, Beihang University di Beijing, Nanjing University of Aeronautics and Astronautics di Jiangsu, dan Northwestern Polytechnical University di Shaanxi sudah membuat eksperimen pesawat bertenaga surya untuk memverifikasi teknologi dan jenisnya hampir tidak dapat terbang lebih tinggi dari 10 ribu meter.

Baca Juga:  Smartphone Dengan Bentuk yang Fleksibel Bakal Diproduksi Tahun 2018

Sejauh ini, drone yang paling kuat menembus ketinggian baru bisa menempuh angka 29.524 meter. Namun, drone ini tidak memakai tenaga surya.

Caihong yang mampu terbang di atas area luas dan jauh lebih fleksibel, secara ekonomi, dianggap lebih efisien ketimbang sebuah satelit ketika dioperasikan. Bahkan, dengan peningkatan teknologi di masa depan, drone ini bisa bertahan beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun.


Menurut Shi, itu bisa terjadi karena semakin tinggi sebuah drone jenis ini bisa terbang, maka semakin lama ia berada di langit. Sebab, tidak ada awan pada 20 ribu meter di atas tanah. Aliran udara di atas sana pun stabil. “Selama sistem tenaga surya bekerja dengan baik, pesawat bisa tetap berada di udara selama pengendali menginginkannya,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari laman China Daily.

Tidak tertutup kemungkinan digunakan oleh pihak militer

Lantas, siapa yang akan menggunakan drone ini? Menurut Shi, pembeli potensial drone ini adalah departemen pemerintah dan perusahaan yang terlibat dalam komunikasi, internet, pengamatan di bumi, tanggap darurat dan survei, dan inspeksi laut. Drone ini diharapkan bisa memberikan dukungan bagi pembangunan infrastruktur telekomunikasi dan penyiaran di pedesaan Cina.

Baca Juga:  Berani Tinggal di Kutub Utara? Orang-Orang Ini Buktikan Bisa Bertahan Hidup di Sana

Namun, tidak tertutup kemungkinan Caihong juga digunakan oleh pihak militer. Misalnya, untuk mengemban tugas pemantauan pergerakan teroris.

Dibandingkan drone militer, Caihong terbilang andal. Diketahui, drone militer memiliki tenaga sel bahan bakar (mirip baterai) yang hanya mampu terbang di ketinggian maksimum 8.000 meter. Bahkan, beberapa pesawat pengintai pengawasan tinggi seperti Northrop Grumman RQ-4 Global Hawk di Amerika Serikat hanya mampu mencapai ketinggian 18 ribu meter.

Otoritas Cina sudah banyak berinvestasi pada pengembangan pesawat tidak berawak. Untuk jenis drone dengan tenaga surya, institut Cina sudah mengembangkan beberapa model eksperimental, tapi lebih kecil dan tidak secanggih Caihong. Ketinggian operasional maksimal mereka berada pada ribuan meter. Kebanyakan produk China Academy of Aerospace Aerodynamics sudah digunakan lebih dari 10 negara asing.

Selain drone baru tersebut, Cina juga memproduksi drone perusak. Salah satunya, drone pengebom yang paling kuat adalah pesawat nirawak CH-5. Pesawat tersebut terbang pertama kali pada 2015 di sebuah pertunjukan udara militer di kota selatan Zhuhai.

Baca Juga:  Memahami Arti Avg. Session Duration dan Time on Page di Google Analytics

Pesawat itu memiliki rentang sayap 21 meter dan berat lepas landas maksimum 3,3 ton, serta bisa terbang 40 jam tanpa pengisian bahan bakar dengan jarak maksimal 6.500 kilometer.