Opinion

Fenomena Badai Ekstrem Hujan Es yang Tampak Seperti Salju di Bandung, Apa Kata Peneliti?

[Foto: detik.com]
Rabu siang, 17 April 2017, Kota Bandung mengalami fenomena hujan badai ekstrem. Seketika Kota Kembang itu diguyur hujan deras disertai petir, es, dan angin yang kencang. Lantas, apa nama fenomena langka tersebut dan bagaimana bisa terjadi?

Menurut Erma Yulihastin, peneliti klimatologi Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), dalam ilmu meteorologi, peristiwa itu disebut sebagai badai dalam sel yang tertutup.

Badai itu terjadi karena ada pembentukan awan cumulus menara yang terjadi secara cepat dalam kurun waktu sekitar 20-30 menit untuk mencapai kondisi matang. Pada saat matang dan terjadi hujan, ada interaksi antara proses hujan dengan udara di bawahnya yang lebih kering.

“Sehingga menimbulkan embusan angin yang sangat kuat di bawah awan hujan. Inilah yang menimbulkan angin kencang,” katanya, sebagaimana dikutip dari Tempo.

Ia menambahkan, berdasarkan data prediksi hujan dan angin dari Satellite Early Warning System (Sadewa) LAPAN, sel badai tertutup yang terbentuk di Bandung dipicu dua faktor.

Baca Juga:  5 Fakta Menarik Tentang Trend Digital di Indonesia

Pertama, muncul konvergensi angin kuat dengan kecepatan 7 meter per detik dari selatan, yang berasal dari laut selatan Jawa Barat. Sedangkan dari utara, berembus angin berkekuatan sedang dengan kecepatan 4 meter per detik.

Lalu, angin dari selatan dan utara yang bersifat lembap itu berinteraksi dengan udara kering dan dingin di atas wilayah pegunungan yang mengelilingi cekungan Bandung. Sehingga, erma melanjutkan,  terbentuklah sel badai tertutup yang memproduksi banyak sekali es di dalam awan.


Selanjutnya, faktor pemicu kedua adalah proses konveksi atau pembentukan awan yang memaksa udara naik secara cepat dan menghasilkan awan cumulus menara. Erma mengatakan, proses ini didukung dengan ketidakstabilan di atmosfer dan akumulasi energi yang terus-menerus. “Hingga pada tahap tertentu mencapai titik kritis yang kemudian menimbulkan kondisi ekstrem,” katanya.

Menurut Arief Prasetya, Kepala Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman Prasarana Sarana Utilitas Pertanahan dan Pertamanan (DPKP3) Kota Bandung, kejadian langka ini menyebabkan 63 pohon tumbang yang tersebar di berbagai tempat dan sebagian menghadang arus lalu lintas. Selain itu, dua tiang reklame roboh. Arief menambahkan, tidak ada korban luka dan jiwa hingga Rabu sore, 17 April 2017.

Baca Juga:  Belajar dari Mundurnya Para Petinggi Startup di Indonesia

Apa Perbedaan Hujan Es dan Salju?

Pasca badai ekstrem hujan es di Bandung, rekaman video dan foto tentang fenomena itupun beredar di media sosial. Tampak butiran es ada yang memenuhi sepotong ruas jalan hingga tampak memutih. Hamparan batu es itu sekilas terkesan seperti salju.

Erma Yulihastin mengatakan, hujan es berbeda dengan hujan salju. Hujan es atau disebut hail, dapat dan mungkin terjadi di wilayah tropis, seperti di Bandung.

“Karena di dalam awan dingin ada area yang mendekati puncak awan dengan suhu antara 0 sampai -40 derajat Celcius, sehingga mengandung banyak partikel yang disebut inti es,” katanya, Inti es tersebut melalui proses yang disebut pendinginan heterogen bisa berinteraksi dengan butiran air dari awan sehingga berubah menjadi hujan es.

Sedangkan salju, kata Erma, merupakan kristal es yang bisa terbentuk secara langsung dari fase uap yang sangat dingin. Selain itu, salju juga membutuhkan syarat yaitu udara di dekat permukaan harus memiliki temperatur -3 sampai -8 derajat Celcius.

Baca Juga:  Bagaimana Saya Mencari Pekerjaan Baru Ketika Masih Berstatus Employee?

Sebelumnya, fenomena hujan es juga melanda Jakarta pada Selasa, 28 Maret 2017 lalu. Beberapa wilayah Jakarta yang dilanda hujan es adalah wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Hujan es tersebut diawali guyuran air yang deras disertai angin kencang.