News

Gara-Gara Mengkoreksi Siswa Yang Salah Eja di Twitter, Seorang Staf di Sekolah Negeri Dipecat

[Gambar: thenextweb.com]
Katie Nash, seorang staf di Frederick County Public School (FCPS), Maryland dipecat gara-gara sebuah tweet yang dipostingnya di akun Twitter resmi sekolah tersebut.

Semua ini berawal pada tanggal 5 Januari, ketika seorang siswa memposting sebuah tweet kepada akun sekolah tersebut yang berisi: “close school tammarow PLEASE.” (TOLONG liburkan saja sekolah basok.) Nash selaku koordinator akun media sosial sekolah tersebut memutuskan untuk memberikan jawaban yang sedikit ‘menghibur’. Ia pun membalas kicauan siswa tersebut, “but then how would you learn how to spell ‘tomorrow’? 🙂” (Jika sekolah diliburkan, lalu bagaimana kamu akan belajar caranya mengeja kata ‘besok’ yang benar? :))


Sayangnya, pihak sekolah sama sekali tidak terhibur dengan kicauan semacam itu. Padahal, kicauan itu diposting karena terdorong oleh keluhan para siswa yang merasa kicauan pada akun Twitter sekolah itu terlalu kaku. Mendengar keluhan tersebut, Nash pun berusaha untuk mengubah kicauan pada akun Twitter sekolah agar terkesan lebih santai.

Baca Juga:  Apple Akhirnya Rilis Aplikasi Kesehatan Berbasis CareKit

Pihak sekolah pun akhirnya memintanya untuk menghapus postingan tersebut. Bahkan, siswa yang mendapatkan balasan itu menerima permintaan maaf secara langsung oleh direktur komunikasi sekolah tersebut. Padahal, siswa yang bersangkutan dikabarkan sama sekali tidak merasa tersinggung dengan kicauan Nash tersebut. Puncaknya, pada tanggal 13 Januari Nash pun resmi dipecat dari FCPS.

Tentu saja, sebelum dihapus kicauan itu sudah menjadi viral dalam semalam, dan mendapatkan lebih dari 1100 retweets dan 1400 likes. Nash pun menjadi topik perbincangan hangat di Twitter dan mendapatkan banyak dukungan melalui berbagai tagar seperti #KatiefromFCPS dan #FreeKatie.

Liz Barrett selaku wakil presiden dewan sekolah menyatakan bahwa kicauan tersebut “tidaklah pantas dan mengundang banyak respon negatif karena siswa lain ikut mengomentari [kesalahan siswa tersebut].” Direktur komunikasi Michael Doerrer menambahkan bahwa pihaknya “memiliki pedoman khusus mengenai media sosial, yang memiliki tujuan utama untuk membesarkan hati dan menyemangati para siswa.”