Opinion

Go-Jek Ajak Pengemudi Uber dan Grab Bergabung dengan “Jualan” Nasionalisme

[Foto: derweise | flickr.com]
Go-Jek merilis pengumuman resmi hari ini. Keduanya bertema sama “Kembali Merah Putih”. Pesan dari kampanye ini secara terang-terangan mengajak pengemudi Grab dan Uber agar mau pindah dan bergabung ke Go-Jek dengan iming-iming akan segera diterima dan mendapatkan kredit senilai Rp 150.000.

Walaupun Go-Jek mengiming-imingi kredit Rp 150.000, mereka berharap para pengemudi yang mau berpindah dari Grab dan Uber motivasinya lebih kepada nasionalisme, untuk membuktikan bahwa Indonesia pasti menang.

Walaupun ada bonus masuk Rp 150 ribu, dan bisa tukar seragam tanpa biaya pungut, kami harap Rekan yang pindah ke GO-JEK punya jiwa nasionalisme yag kuat dan ingin membuktikan ke dunia bahwa Indonesia pasti menang. Apapun keputusan Anda, Anda sudah menjadi pahlawan jalanan di Jakarta, jangan lupakan itu. Namun jika Anda punya keinginan membela negara, jika Anda punya semangat 45 yang ingin berkobar, gabunglah dengan Karya Anak Bangsa.

Salam satu aspal! – Pengumuman di situs Go-Jek

Tak hanya pengumuman di situsnya, Go-Jek juga membuat video dengan pesan yang sama. Tak tanggung-tanggung yang berbicara dalam video ini adalah Nadiem Makarim sendiri, sang pendiri Go-Jek.

“… semua Rider Grab dan Uber Motor yang mau pindah, akan langsung diterima masuk ke dalam keluarga besar GO-JEK.”

~Nadiem Makarim

Go-Jek memang sudah sejak lama “menjual” nasionalisme dalam memasarkan jasanya baik kepada pengguna maupun pengemudinya. Strategi ini diduga kuat untuk bersaing dengan GrabBike, kompetitor terkuatnya yang berasal dari Malaysia.

Digempur Uber

Setelah harus menjual nasionalisme untuk bersaing dengan GrabBike, beberapa waktu lalu, Go-Jek mendapatkan gempuran baru dari pemain raksasa, Uber. Uber yang dulu hanya fokus kepada layanan serupa dengan moda transportasi kendaraan roda empat, pada 13 April 2016 lalu meluncurkan UberMotor. Dengan begitu Go-Jek kini berhadapan langsung dengan Uber.  *Go-Jek juga meluncurkan Go-Car dan memasuki area “kekuasaan” Uber.

Uber merupakan perusahaan teknologi asal Amerika Serikat dengan dana yang luar biasa besar. Pada Desember 2015 lalu, Uber sedang mengumpulkan dana sebesar $ 2,1 miliar untuk tambahan modalnya. Dengan investasi sebesar ini, valuasi Uber menjadi $ 62,5 miliar. Sementara itu Go-Jek dikabarkan “hanya” mendapatkan dana investasi sebesar ratusan juta dollar.

Soal dana, tidak bisa dipungkiri Uber sudah pasti menang melawan Go-Jek. Tapi bukan berarti tidak ada area lain yang bisa dikejar oleh Go-Jek. Salah satunya adalah kualitas layanan, atau paling tidak kualitas aplikasinya.

Bertahun-tahun sejak dikembangkan, aplikasi Go-Jek masih saja menuai banyak masalah. Mulai dari seringnya aplikasi Go-Jek tidak bekerja di jam-jam sibuk, hingga soal algoritma untuk mendapatkan pengemudi. Dan santer terdengar dari belasan cerita pengemudi Go-Jek, sebagian dari kasus-kasus ini adalah akibat ulah oknum-oknum di dalam Go-Jek sendiri.

Senjata Terakhir

Jika soal dana Go-Jek sudah kalah, lalu soal kualitas aplikasi pun Go-Jek relatif kalah juga, akhirnya mungkin ini senjata terakhir Go-Jek, nasionalisme.

Namun strategi menjual nasionalisme ini bukanlah cara yang elok menurut saya. Karena kecenderungannya pesan yang ditangkap adalah “Anti asing”, atau setidaknya “Jangan mau dijajah asing”. Jika ini dilakukan oleh pemerintah, atau setidaknya BUMN, masih suatu hal yang wajar. Karena sebesar-besarnya kekuatan yang mereka bisa kerahkan, semuanya memang demi negara. (Terlepas dari soal korupsi dan lain-lain). Sementara itu, Go-Jek merupakan sebuah bisnis murni swasta, yang sebesar-besarnya kekuatan yang bisa dikerahkan tujuannya memang demi mendapatkan profit. (Terlepas dari sebagian profit itu digunakan untuk tujuan sosial). Karena Go-Jek adalah perusahaan, bukan yayasan, dan bukan LSM.

Selain itu mengingat investor-investor Go-Jek pun banyak yang berasal dari luar negeri, menjadi aneh jika Go-Jek menabuh genderang nasionalisme begitu kencang. Ini investor-investor Go-Jek yang sering disebut di media: NSI Ventures (Singapura), Sequoia Capital (Amerika), DST Global (Rusia).

Tidak soal investor saja, Go-Jek juga mengakuisisi 2 perusahaan IT di India, C24 Engineering dan Codelginition. Jadi sebagian (mungkin sebagian besar) teknologi Go-Jek kini sebenarnya bukan lagi dikembangkan oleh “anak bangsa”.

Kampanye Go-Jek untuk bangga menjadi perusahaan Indonesia tentunya memang bagus, asal tidak digunakan secara berlebihan, apalagi dengan terang-terangan “menyerang” pesaing. Saya pastinya bangga jika perusahaan yang didirikan di Indonesia, oleh warga negara Indonesia, bisa bersaing dengan pemain besar dari luar negri. Tetapi saya juga tetap ingat, pada dasarnya ini adalah bisnis, dan uang tidak mengenal batas negara.

Catatan: Hingga saat ini saya masih pengguna setia Go-Jek.

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID