News

Go-Pay Segera Bisa Digunakan untuk Bayar Transaksi di Luar Go-Jek

[Foto: Go-pay.co.id]
Buat Anda yang sering menggunakan aplikasi Go-Jek untuk memesan ojek secara online, tentu sudah mengetahui adanya layanan pembayaran digital Go-Pay, yang bisa diisi ulang seperti dompet digital (e-wallet) dan saldonya bisa digunakan untuk membayar semua layanan dalam aplikasi Go-Jek.

Setelah sebelumnya menggunakan sistem kredit yang dinamai Go-Jek Credit, akhirnya startup yang didanai oleh Sequoia Capital, KKR & Co. dan Warburg Pincus tersebut meluncurkan Go-Pay pada bulan April 2016 lalu.

Sekedar informasi, pengguna bisa memakai saldo dalam Go-Pay untuk membayar semua layanan Go-Jek tanpa harus mengeluarkan uang tunai, seperti layanan ojek atau mobil, pesan antar makanan dengan Go-Food, belanja via Go-Mart, mengantar barang dengan Go-Send, dan lain sebagainya. Apalagi dengan diskon yang sempat ditawarkan kepada pengguna yang membayar via Go-Pay, layanan pembayaran digital ini kian populer.

Seperti dilansir dari Bloomberg, Kamis, 12 Januari 2017, CEO Gojek Nadiem Makarim mengklaim lebih dari transaksi yang dilakukan pengguna Go-Jek kini dibayar melalui Go-Pay. Menurut dia, belum pernah ada tingkat adopsi pasar pada layanan pembayaran digital lain seperti Go-Pay.

Baca Juga:  Hal-Hal yang Harus Diketahui dalam Membangun Startup

Nadiem juga mengemukakan rencananya untuk membuka layanan Go-Pay untuk merchant lain di luar Go-Jek tahun ini, mengingat startup tersebut telah mengantongi lisensi pembayaran digital dari Bank Indonesia.

Untuk mendukung rencananya tersebut, Nadiem berencana untuk merekrut lebih dari 200 orang insinyur di India, dua kali lipat jumlah saat ini. Dia juga berencana untuk mengakuisisi beberapa startup lain untuk menambah kekuatan tim Go-Jek. Sebelumnya, perusahaan tersebut diketahui telah merekrut empat startup India untuk memperkuat teknologi Go-Jek. Selain di India, Go-Jek diketahui telah mempekerjakan lebih dari 100 orang insinyur di Indonesia dan 10 insinyur di Singapura.


Bulan November tahun lalu, Nadiem memang pernah menyampaikan keinginannya untuk menjadikan Go-Pay sebagai platform pembayaran tanpa uang tunai paling mutahkir, yang akan menjadi penghubung antara masyarakat dengan kebutuhan sehari-hari mereka dengan memanfaatkan teknologi digital.

“Peran Go-Pay akan semakin besar. Bukan cuma untuk pengguna aplikasi Go-Jek, tapi bagi ekonomi digital secara keseluruhan. Semua orang bisa memesan perjalanan mereka, makanan, transaksi e-commerce, lewat Go-Pay,” kata Nadiem saat itu.

Baca Juga:  Sleekr Luncurkan Platform Berbasis Cloud Terbarunya untuk Atasi Masalah Administratif Perusahaan

Menanggapi rencana Go-Jek ini, analis Macquarie Capital Securities Francisca Widjaja berpendapat Go-Pay tak akan kesulitan untuk menarik pengguna. “Di Indonesia, masnyarakar sudah memakai aplikasi Go-Jek dan e-wallet yang mudah digunakan, jadi tak akan sulit untuk mengkonversi konsumen,” kata dia.

Namun rencana Go-Jek untuk melebarkan sayap Go-Pay bukan berarti tanpa tantangan. Di Indonesia sendiri, dunia layanan pembayaran digital sudah dipenuhi kompetisi. Seperti diketahui, perusahaan konglomerasi Lippo Group, juga Ascend Money (joint venture antara afiliasi Alibaba Group Holding Ltd Ant Financial dan Charoen Pokphand Group) juga akan meramaikan pasar e-wallet di negara ini.

Sebelumnya, Go-Jek telah meluncurkan program Go-Points untuk para pelanggan setianya. Program loyalti ini memungkinkan pelanggan mendapatkan poin setiap bertransaksi di aplikais Go-Jek dengan menggunakan Go-Pay. Poin-poin tersebut bila dikumpulkan akan bisa ditukarkan dengan berbagai hadiah. Nadiem menekankan, program ini diadakan untuk mengapresiasi para pelanggan setia Go-Jek.

“Kami akan memberi berbagai hadiah menarik bagi para pelanggan. Jika pelanggan mengumpulkan Go-Points, mereka bisa menukarkannya dengan berbagai barang atau bahkan tiket konser, seperti motor bergaya british, berbagai gadget, hingga tiket konser Coldplay,” kata Nadiem kepada Tribun.

Baca Juga:  Mengenal 6 Startup Indonesia yang Lolos ke Google Launchpad

Selain Go-Jek, penyedia layanan transportasi on-demand lainnya seperti Grab sudah memiliki fitur serupa, yakni GrabPay. Sementara itu, Uber walaupun belum memiliki rencana untuk membuat e-wallet sendiri, telah menggandeng perusahaan penyedia layanan pembayaran digital untuk memenuhi keperluan pembayaran cashless.