News

Gua di Afrika Selatan Sembunyikan Sisa-Sisa Tubuh ‘Kerabat’ Manusia

Neo, sang Homo naledi [Foto: John Hawks/Wits University]
Menjelajah lebih dalam ke dalam kompleks gua di Afrika Selatan yang dikenal sebagai Rising Star, ke sebuah labirin bawah tanah yang tahun lalu menghasilkan fosil-fosil hominin terbesar yang pernah ditemukan ilmuwan, tim peneliti internasional telah menemukan ruangan lain dengan lebih banyak sisa-sisa “kerabat manusia” yang baru ditemukan, yang disebut Homo naledi.

Penemuan tersebut, yang diumumkan pada 9 Mei 2017 melalui jurnal eLife, membantu melengkapi gambaran makhluk yang sekarang diketahui pernah berbagi kehidupan dengan manusia modern—dan mungkin dengan spesies hominin lainnya—antara 226.000 hingga 335.000 tahun yang lalu. Penemuan fosil ini mewakili sisa-sisa setidaknya tiga spesimen remaja dan dewasa mencakup “tengkorak yang sangat lengkap,” kata antropolog dari University of Wisconsin-Madison John Hawks.

Hawks, pemimpin tim peneliti di Rising Star dan penulis utama makalah yang mendeskripsikan temuan fosil baru tersebut, mengatakan telah menemukan lebih banyak sisa beberapa individu dalam ruangan yang agak jauh dari ruang yang berisi fosil Homo naledi yang pertama. Ilmuwan percaya bahwa Homo naledi telah menyembunyikan kematian mereka—sebuah perilaku mengejutkan yang menunjukkan kecerdasan yang maju dan mungkin konflik budaya yang pertama.

Baca Juga:  5 Tempat Belajar Untuk Berkarir di Dunia Digital

“Hal ini bisa jadi menambahkan bobot pada hypostesis bahwa Homo naledi menggunakan tempat gelap dan terpencil untuk menyimpan jasad yang mati,” Hawks mencatat. “Apakah ada kemungkinan kejadian kedua yang nyaris identik terjadi secara kebetulan?”

Kamar baru dalam gua tersebut, yang dijuluki Kamar Lesedi, berjarak hampir 100 meter dari Kamar Dinaledi dimana fosil Homo naledi pertama yang mewakili setidaknya 15 kerangka dari berbagai usia ditemukan. Sejauh ini, tim yang dipimpin oleh Hawks dan Lee Berger, seorang ahli paleoantropologi dari Universitas Witwatersrand dan seorang penulis senior dari makalah tersebut bersama Hawks, telah menemukan lebih dari 130 fosil Homo naledi baru dari Kamar Lesedi, sebuah nama yang berarti “cahaya” dalam bahasa Setswana.


Ruang baru tersebut juga sangat sulit diakses, dan mengharuskan mereka menggali untuk menjelajahinya, dan menembus ke dalam gelap untuk menemukan “tempat disembunyikannya” fosil.

Fosil yang baru saja dilaporkan ini pertama kali ditemukan pada tahun 2013, ketika penggalian sedang berlangsung di Kamar Dinaledi. Fosil baru berasal dari setidaknya tiga individu—dua orang dewasa dan anak-anak—dan para ilmuwan percaya akan ada lebih banyak kerangka seiring penggalian berlangsung. Anak yang diperkirakan berusia di bawah lima tahun ini diwakili tulang dari kepala dan tubuh. Sedangkan yang dewasa, seorang di antaranya diidentifikasi hanya dengan tulang rahang dan kaki.

Baca Juga:  Riset: Misi ke Mars Timbulkan Risiko Kanker pada Astronaut

Kerangka dari individu ketiga, dijuluki “Neo”, sangat lengkap. Tengkorak itu dengan susah payah direkonstruksi, untuk memberikan gambaran Homo naledi yang jauh lebih lengkap. “Kami akhirnya bisa melihat wajah Homo naledi,” kata Peter Schmid, yang menangani kerjasama antara Universitas Witwatersrand dan Universitas Zurich. Dia telah menghabiskan ratusan jam untuk membangun kembali tulang tengkorak  yang rapuh tersebut.

“Kerangka ‘Neo’ adalah salah satu yang paling lengkap yang pernah ditemukan, secara teknis lebih lengkap daripada fosil Lucy yang terkenal,” jelas Berger, ahli paleoantropologi Universitas Witwatersrand yang mengawasi penggalian Rising Star.

“Tengkorak kerangka baru ini memiliki banyak wajah, termasuk tulang-tulang halus daerah mata dan hidung bagian dalam,” kata Hawks. “Beberapa tulang baru menambahkan detail pada apa yang kita ketahui sebelumnya.”

Kerangka ‘Neo’ memiliki tulang selangka yang lengkap dan femur yang hampir lengkap, yang membantu memastikan apa yang kita ketahui tentang ukuran dan perawakan Homo naledi, dan kemungkinan bahwa spesies tersebut adalah pejalan kaki dan pemanjat yang hebat.

Baca Juga:  Apple Akan Buka Toko Ritel Pertamanya di Kampung Halaman Samsung, Seoul

Jika digabungkan, dua persembunyian fosil Homo naledi memberi catatan paling lengkap kepada dunia sains tentang spesies hominin selain manusia modern dan manusia Neanderthal.

“Dengan fosil baru dari Kamar Lesedi, sekarang kita memiliki sekitar 2.000 spesimen Homo naledi, yang mewakili kerangka setidaknya 18 individu,” kata Hawks. “Ada banyak spesimen Homo naledi jika dibandingkan dengan populasi hominin, kecuali Neanderthal.”

Gagasan bahwa Homo naledi telah menyembunyikan jasad kerabat yang meninggal di ruang bawah tanah yang sangat sulit dicapai sejajar dengan “prestasi” Neanderthal. Dalam gua Spanyol yang dalam, yang dikenal sebagai Sima de los Huesos, ada bukti bahwa Neanderthal telah menyembunyikan mayat pendamping mereka yang telah meninggal 400.000 tahun yang lalu.