Opinion

Hal-hal yang Menghambat Konsumen Berbelanja Online

[Foto: wsj.net]
[Foto: wsj.net]
Meskipun pertumbuhan e-commerce di Indonesia bisa dikatakan pesat, tetapi pada kenyataannya, adopsi pasar e-commerce di Indonesia masih tergolong rendah. Sebanyak 63% orang di Indonesia memilih untuk berbelanja offline dibandingkan berbelanja online. Setidaknya temuan itu yang diperoleh berdasarkan survei yang dilakukan oleh Rakuten. Namun demikian, dari survei yang sama, ditemukan bahwa meskipun sebagian besar konsumen di Indonesia lebih memilih untuk berbelanja secara offline, tetapi sebagian besar di antara mereka memiliki keinginan untuk berbelanja. Artinya, bisa dikatakan bahwa minat beli masyarakat di Indonesia masih tergolong tinggi. Hanya saja mereka memiliki preferensi untuk berbelanja secara offline dibandingkan online.

Hal ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku e-commerce di Indonesia. Terlepas dari isu lesunya startup e-commerce yang belakangan menghantui Indonesia, setidaknya mereka masih punya harapan untuk terus melakukan pendekatan kepada konsumen agar mau mengubah perilaku berbelanjanya menjadi lebih “digital” dengan memperbanyakan kegiatan belanja online ketimbang offline. Setidaknya ada beberapa alasan mengapa konsumen di Indonesia masih enggan untuk berbelanja online seperti yang dipaparkan di bawah ini.

1. Model Pembayaran yang Belum Familiar

Sebagian besar e-commerce pada awalnya menawarkan model pembayaran berupa kartu kredit. Tujuannya tentu saja agar transaksi lebih aman dan terjamin, baik dari seller maupun customer. Namun, faktanya, penetrasi pengguna kartu kredit di Indonesia masih kurang dari 5% sehingga jangkaun customer online yang diharapkan tidak bisa maksimal. Meskipun kini mulai banyak model pembayaran yang ditawarkan, dari mulai transfer bank hingga cash on delivery (COD), faktanya sebagian besar konsumen masih belum familiar sehingga kegiatan berbelanja langsung menjadi pilihan yang paling banyak diambil.

2. Tingkat Kepercayaan Konsumen yang Masih Rendah

Kepercayaan menjadi kunci utama dalam e-commerce. Hal itu dikarenakan baik seller maupun customer sama-sama tidak mengetahui dengan pasti, alias semuanya masih serba abu-abu. Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam permainan pasar online, kasus penipuan menjadi hal yang paling ditakuti di kedua pihak. Seller merasa khawatir dan tidak percaya dengan kesungguhan calon customer yang ingin membeli produknya. Sebaliknya, customer masih memiliki rasa tidak percaya pada proses transaksi, apakah barang akan sampai tujuan, apakah barang sesuai dengan harapan, atau justru sebaliknya.

3. Pemakaian Internet untuk E-Commerce Masih Belum Besar

Meskipun pengguna internet di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun, faktanya sebagian besar internet user hanya memanfaatkannya untuk mengakses media sosial. Pemakaian internet, khususnya untuk e-commerce sendiri di Indonesia belum menunjukkan angka yang memuaskan. Artinya, meskipun banyak internet user yang berpotensi untuk menjadi target konsumen, jumlah itu belum sepenuhnya bisa dijangkau oleh pelaku e-commerce di Indonesia.

4. Shopping Experience Masih Menjadi Kunci

Tidak dipungkiri bahwa user experience dalam industri e-commerce menjadi satu kunci yang harus diperhatikan. Hal itu berkaitan pada decision making yang diambil oleh user ketika melakukan kegiatan belanja. Shopping experience menjadi satu kunci pokok yang menghambat internet user untuk melakukan belanja online. Umumnya mereka memang melihat sebuah website untuk mengetahui berbagai produk yang ditawarkan serta membandingkan baik dari segi kualitas maupun harga. Tetapi, pada akhirnya user memilih untuk datang ke toko offline terdekat demi “kepuasan” dan sensasi “berbelanja” yang tidak ia dapatkan ketika membeli di toko online.

Seperti misalnya pada customer yang ingin memilih baju. Mereka umumnya lebih memilih untuk berbelanja offline karena bisa mencoba dan melihat barang dengan lebih detail. Begitu pula untuk konsumen barang elektronik ataupun gadget lainnya.

Berbagai hambatan di atas barangkali adalah sedikit dari banyak hal lain yang masih menjadi tantangan bagi para pelaku e-commerce di Indonesia. Namun, melihat potensi pasar yang sangat besar dan minat beli konsumen yang cukup tinggi, rasanya industri e-commerce akan tetap memiliki tempat di Indonesia. Kuncinya adalah improvisasi pada hal-hal yang saat ini masih menjadi kendala bagi konsumen untuk melakukan kegiatan belanja secara offline.

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID