Review

Hanya dengan Memindai Wajah, Aplikasi Ini Bisa Ungkap Identitas Seseorang

[Foto: businessinsider.com]
Sebuah perusahaan startup asal Inggris berhasil menciptakan teknologi yang dapat mengidentifikasi seseorang hanya dengan memindai wajah mereka. Teknologi itu berada dalam aplikasi bernama Blippar.

Untuk dapat mengetahui identitas seseorang melalui teknologi tersebut, pengguna bisa langsung mengarahkan kamera ke wajah seseorang. Kemudian akan muncul informasi yang berasal dari pangkalan data (database) aplikasi Blippar.

Fitur pindai wajah yang baru diluncurkan pada Selasa, 6 Desember 2016 ini memiliki 70 ribu data publik figur seperti politisi, musisi, dan atlet. Aplikasi ini mampu mengidentifikasi seseorang di kehidupan nyata.

Sebagai contoh, jika Anda tidak mengenali selebriti atau publik figur lain yang Anda lihat di jalan, Anda dapat mengarahkan ponsel Anda ke mereka. Kemudian informasi mengenai mereka akan muncul. Sebagai catatan, pemindaian dilakukan dengan membuka aplikasi Blippar terlebih dahulu yang ada di ponsel.

Pemindaian juga bisa dilakukan dari foto atau surat kabar. Ketika aplikasi berhasil mengenali objek, akan muncul berbagai informasi seperti nama dan rincian lainnya. Akurasi aplikasi tersebut diklaim diatas 99 persen.

Selain itu, Blippar menekankan bahwa database wajah akan ditambahkan secara ketat, sehingga orang tidak dapat ditambahkan ke aplikasi sekehendak mereka. Selain itu, 70 ribu publik figur juga nantinya dapat menghapus diri mereka jika mereka menginginkan hal tersebut.

“Ini adalah cara baru, unik, dan menyenangkan untuk menunjukkan siapa diri kalian dan mempelajari lebih banyak tentang orang lain,” ujar Chief Executive Officer (CEO) Blippar, Ambarish Mitra, seperti dikutip dari Telegraph, Jumat, 9 Desember 2016.


Meski demikian, fitur tersebut mendapat kritik terkait keamanan privasi. Hal ini serupa dengan Google Glass yang diketahui memblokir aplikasi pengenalan wajah karena dinilai mengancam privasi.

Pada tahun 2013, Google Glass langsung mendapat sentimen negatif dari pelaku usaha di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat. Meski produk ini belum resmi dirilis untuk publik. Respons negatif ini karena kemampuan Google Glass yang mampu merekam kejadian melalui kacamata teknologi tersebut. Hal ini yang dikhawatirkan.

Sejumlah klub striptease (tari telanjang) di Las Vegas, menolak pemakaian Google Glass, yang dikhawatirkan bisa untuk merekam adegan tari-tari erotis. Sebab semua lokasi hiburan di Las Vegas memiliki aturan ketat, melarang pengunjung merekam kejadian di dalam klub. Kehadiran Google Glass, dianggap sebagai masalah baru, setelah para pengusaha hiburan sudah bisa menjinakkan penggunaan ponsel-ponsel pintar.

Google Glass yang rencananya diluncurkan ke publik pada akhir tahun 2013 lalu ternyata mendapatkan kecaman. Kehadiran produk ini dikhawatirkan bakal digunakan para pengunjung klub malam untuk mengabadikan adegan-adegan yang seharusnya hanya untuk konsumsi pengunjung.

Dan akhirnya, Google resmi menarik produk Google Glass dari pasaran, per 19 Januari 2015. Pengumuman resmi disampaikan pekan lalu lewat sebuah unggahan di laman Google+.

Perihal diluncurkannya Blippar, sebuah organisasi privasi pun memberikan komentar. “Menghadirkan teknologi pengenalan wajah real-time kepada semua orang bukan hanya menyeramkan, tetapi juga langkah mengurangi anonimitas di ruang publik,” kata Publicy Officer di Privacy International, Frederika Kaltheuner.

Apa yang dikhawatirkan oleh Privacy International tersebut tentu saja sangat beralasan. Bila setiap orang bisa memindai wajah orang lain dengan sebuah aplikasi real time, maka privasi orang yang dipindai tersebut bisa diserang dari segala sisi.

Aplikasi ini mampu memberikan informasi real time tentang nama dan identitas lainnya, sehingga hal ini merupakan serangan nyata terhadap privasi seseorang. Tidak semua orang ingin dipindai. Apalagi jika hasil pindaian tersebut bisa mengungkapkan jati diri mereka.

Lantas, bagaimana nasib Blippar ke depannya? Kita tunggu saja.