News

Huawei Dilaporkan Akan Kembangkan Voice Assistantnya Sendiri

[Foto: androidpit.com]
Huawei dilaporkan tengah mengembangkan voice assistant untuk telepon genggamnya. Seperti yang dikutip dari Bloomberg, Huawei telah mengerahkan 100 orang teknisi untuk mengerjakan asisten digital tersebut. Sampai saat ini, software tersebut masih berada dalam tahap awal pengembangan.

Asisten digital milik Huawei ini hanya akan berfungsi di Tiongkok dan menggunakan bahasa Tiongkok. Untuk di luar Tiongkok, Huawei akan tetap menggunakan layanan asisten digital dari Google dan Amazon. Langkah ini tidak mengherankan, mengingat layanan Google memang diblokir di Tiongkok. Selain itu, Amazon Alexa juga belum mendukung bahasa mandarin. Oleh karena itu, ada kemungkinan dengan hadirnya fitur ini, Huawei bisa meningkatkan popularitas produknya di kampung halamannya sendiri.


Huawei bukanlah satu-satunya vendor smartphone yang memutuskan untuk mengembangkan voice assistantnya sendiri. Pada tahun lalu saja, Samsung telah mengakuisisi Viv Labs, sebuah startup yang didirikan oleh pencipta Siri. Akuisisi tersebut merupakan awal dari usaha Samsung untuk membuat asisten digitalnya sendiri. Bahkan, Samsung berencana untuk meluncurkan perangkat pertama yang dilengkapi dengan asisten digital tersebut pada akhir tahun ini.

Baca Juga:  Alphabet Nest Rekrut Kembali Ahli Robotika Yoky Matsuoka Setelah Hengkang dari Apple

Langkah Huawei untuk mengembangkan voice assistantnya sendri sepertinya merupakan strategi perusahaan tersebut untuk bersaing dengan vendor smartphone besar lainnya seperti Apple dan Samsung. Setelah berhasil merebut posisi Xiaomi sebagai produsen smartphone terbesar ketiga di dunia, perusahaan asal Tiongkok ini siap untuk menghadapi pasar internasional yang pastinya jauh lebih sulit untuk ditembus. Berdasarkan laporan dari Mac Rumors, kepala konsumen Huawei Richard Yu menyatakan bahwa perusahaan tersebut menargetkan untuk menjadi vendor ponsel terbesar di dunia pda tahun 2021. Bahkan, Huawei juga menargetkan angka penjualan yang mencapai $33 milyar (setara Rp 439 trilyun) pada tahun ini.