News

Ilmuwan Ciptakan Terobosan Sel Darah Buatan

[Foto: huffingtonpost.com]
Kini, kebutuhan akan donasi darah semakin tinggi. Sesuai standar WHO, jumlah kantong darah yang harus tersedia di suatu negara adalah 2 persen dari populasi nasional. Dan jika stok kantung darah langka, maka bisa menjadi permasalahan. Untuk itu, sejumlah ilmuwan mencoba mencari solusinya.

Para peneliti di University of Bristol, Inggris sudah membuat terobosan besar dalam bidang penciptaan sel darah buatan. Studi yang diterbitkan di jurnal Nature Communication ini akan memungkinkan pembuatan produksi darah secara massal. Nantinya, hal ini bisa membantu orang dengan golongan darah yang sulit dicari, seperti AB dengan rhesus negatif (AB-), dan B dengan rhesus negatif (B-).

Dilansir dari Huffington Post, para peneliti di University of Bristol bekerja sama dengan NHS Blood and Transplant, membuat proses baru yang memungkinkan mereka untuk memproduksi darah buatan secara massal. Terobosan ini datang ketika para peneliti berhasil memanfaatkan sel induk (stem cell) yang masih berada dalam tahap awal untuk menumbuhkan miliaran sel darah merah.

Saat ini, satu-satunya cara membuat darah buatan adalah dengan menumbuhkan sel-sel induk yang sudah disumbangkan ke sel-sel darah. Cara ini memakan waktu lama, tidak efisien, dan membutuhkan sumbangan berulang kali agar bisa layak digunakan.

Baca Juga:  Ternyata Mengisi Baterai Smartphone di Tempat Pengisian Umum Bisa Menimbulkan Bahaya

Apa yang peneliti lakukan supaya sel induknya bisa berkembang biak secara tidak terbatas adalah dengan cara ‘menjebak’ sel induk agar tetap berada pada tahap awal perkembangannya. Sebuah sel induk biasa bisa memproduksi 50.000 sel darah merah, sebelum akhirnya sel tersebut mati.


Namun dengan ‘menjebak’ sel induk supaya tetap berada pada tahap awal perkembangannya, hal ini akan membuat sel induk tersebut terus memproduksi sel darah merah yang tidak terhitung jumlahnya, karena sel induk tersebut tidak akan mati.

“Secara global, produksi sel darah merah alternatif memang dibutuhkan. Pembudidayaan sel darah merah ini memiliki keunggulan dibandingkan dengan donor darah, seperti mengurangi risiko penularan penyakit menular,” Ujar Dr. Jan Frayne, dari University of Bristol’s School of Biochemistry.

Meski hal ini merupakan terobosan besar, kita tidak akan melihat darah buatan ini muncul di rumah sakit dalam waktu dekat.

“Penggunaan pertama produk sel darah merah ini mungkin akan diperuntukan bagi pasien dengan golongan darah yang langka, karena sumbangan sel darah merah konvensional (hasil dari donor darah) yang cocok sulit untuk dicari untuk pasien dengan golongan darah yang langka,” tambah Profesor Dave Anstee, Direktur di NIHR Blood and Transplant Research Unit.

Baca Juga:  Penelitian Ungkap Bahwa Sapi Bisa Bantu Melawan Virus HIV

Profesor Anstee mengatakan, darah buatan ini akan menguntungkan bagi pasien dengan kondisi penyakit yang membatasi kehidupan (life-limiting disease) seperti anemia sel sabit dan Thalassemia. “Mereka sangat membutuhkan tranfusi darah yang sangat cocok,” katanya.

Profesor Anstee juga menjelaskan bahwa tujuan sel darah merah buatan ini bukan untuk menggantikan donor darah, melainkan untuk memberikan pengobatan bagi pasien yang memiliki penyakit tertentu, seperti yang tadi disebutkan.

Transfusi Pertama Kali di Dunia yang Berhasil Menggunakan Darah Buatan

Sebelumnya, peneliti dari Universitas Pierre dan Marie Curie, Luc Douay, berhasil melakukan transfusi pertama kali di dunia dengan menggunakan darah buatan.

Saat Douay melakukan uji coba ini, setelah lima hari transfusi, sel darah tinggal 94 hingga 100 persen dalam sirkulasi tubuh. Setelah 26 hari, ia masih tersisa antara 41 hingga 63 persen. Ini merupakan angka normal dari siklus hidup yang diproduksi sel darah.

Temuan ini pun menjadi kabar gembira bagi dunia kesehatan internasional. “Ini memunculkan harapan bahwa cadangan darah bisa tidak terbatas jumlahnya,” kata Douay, seperti dilansir dari Pop Science. “Saat ini, dunia sangat membutuhkan cadangan darah,” tambahnya.

Baca Juga:  NASA Gunakan Laser Luar Angkasa Untuk Selamatkan Ekosistem Lautan di Dunia