News

Ilmuwan Sulap Limbah Nuklir Jadi Baterai ‘Berlian’ Yang Tahan Ribuan Tahun

[Foto: Ologu Gabriel Alexandru | flickr.com]
Sekelompok ilmuwan dari University of Bristol telah menemukan sebuah metode untuk menyulap limbah nuklir menjadi baterai berdaya rendah yang bisa bertahan ribuan tahun lamanya. Dengan metode ini, masalah limbah radioaktif bisa terpecahkan sekaligus memberi alternatif baru bagi energi ramah lingkungan yang tahan lama.

Meskipun baterai tersebut terbuat dari limbah nuklir, Anda tidak perlu takut dengan radiasi radioaktif. Bahan radioaktif pada baterai itu tersimpan dengan aman di dalam berlian buatan. Menurut Tom Scott yang merupakan Profesor Teknik Material di universitas tersebut menyatakan, “Tidak ada bagian yang perlu digerakkan, tidak ada emisi yang dihasilkan, dan tidak perlu ada perawatan, [baterai] ini dapat menghasilkan listrik secara langsung.”

Lalu, sebenarnya dari mana asal limbah nuklir yang digunakan pada baterai itu? Semua ini berawal dari reaktor nuklir. Reaktor nuklir menghasilkan panas dari batang uranium yang bersifat radioaktif. Untuk mengontrol aliran panas dan reaksi nuklir, batang uranium itu pun kemudian ditempatkan pada balok grafit. Setelah bertahun-tahun menyerap radiasi nuklir, balok grafit tersebut lambat laun bersifat radioaktif juga. Ketika pembangkit listrik tenaga nuklir dinonaktifkan, otomatis balok grafit tersebut harus dibuang juga. Dari sanalah limbah nuklir itu berasal.

Lalu, para ilmuwan pun menyadari bahwa jika mereka memanaskan balok grafit yang sudah terkominasi itu, maka molekul radioaktifnya dapat berubah menjadi gas. Molekul radioaktif yang terkumpul akhirnya dikompresi menjadi sebuah berlian buatan. Dengan begini, balok grafit tersebut akhirnya memiliki molekul radioaktif yang lebih sedikit dari sebelumnya, sehingga aman untuk disimpan. Selain itu juga, struktur unik dari berlian tersebut dapat memastikan agar molekul radioaktif yang ada tetap berada pada tempatnya.

Memang, baterai tersebut tidak akan menghasilkan daya listrik yang besar. Namun, daya tahannya diperkirakan bisa mencapai lebih dari 5 ribu tahun. Kemungkinan besar, baterai tersebut akan diterapkan pada drone, alat pacu jantung, benda luar angkasa, dan benda apapun yang sekiranya sulit untuk diganti baterainya.

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID