Opinion

Ilmuwan Temukan Mesenterium, Organ Baru dalam Tubuh Manusia

[Foto: mentalfloss.com]
Tubuh manusia memang menyimpan berbagai misteri yang sangat mengagumkan. Baru-baru ini, seorang ilmuwan asal Irlandia mengklaim telah menemukan organ baru di dalam tubuh manusia yang disebut mesenterium.

Mesenterium merupakan membran berliku-liku di dalam usus manusia, yang melekat antara dinding belakang perut dan usus halus. Mesenterium yang menghubungkan usus ke rongga mulut agar kokoh di tempatnya, selama ini dianggap sebagai komponen terpisah satu sama lain.

Sebenarnya, penemuan ini tidaklah benar-benar baru ditemukan. Pasalnya selama abad ke-20, mesenterium hanya dianggap sebagai rangkaian membran terfragmentasi dalam sistem pencernaan. Menariknya, dalam salah satu deskripsi awal, Leonardo da Vinci telah mengidentifikasi mesenterium sebagai struktur tunggal.

Calvin Coffey, profesor bedah di Graduate Entry Medical School University of Limerick di Irlandia, melihat studi dan literatur masa lalu tentang mesenterium tersebut. Ia mencatat bahwa sepanjang abad ke-20, buku-buku anatomi telah menjelaskan mesenterium sebagai rangkaian membran terfragmentasi. Artinya, mesenterium dikaitkan dengan berbagai bagian dari usus.

Dalam penelitian yang dilakukan Coffey, digambarkan jika mesenterium berbentuk seperti kipas. Salah satu ujungnya menempel pada dinding belakang perut, sedangkan ujung lainnya terlihat mengembang dan menempel di usus halus.

Baca Juga:  Studi: Ini Alasan Mengapa Makanan Tampak Lebih Lezat Ketika Kita Sedang Diet

Dalam laporan penelitiannya, Coffey meminta re-klasifikasi mesenterium, bukan sebagai organ yang terpisah namun satu kesatuan. Dengan demikian, jika awalnya manusia memiliki total 78 organ dalam tubuh maka setelah mesenterium masuk, total menjadi 79 organ.


Seperti diketahui organ terpenting dalam tubuh manusia ada empat, yakni jantung, otak, hati dan ginjal. Namun, 74 organ lainnya juga terbukti memiliki peran penting membuat manusia tetap sehat.

Coffey memimpin studi yang melihat mesenterium pada pasien yang menjalani operasi kolorektal dan mayat. Ia mengatakan bahwa klasifikasi ulang mesentarium sebagai organ sangat penting. Menurutnya, dengan mengenali anatomi dan struktur mesenterium, para ilmuwan dapat fokus mempelajari lebih banyak bagaimana organ tersebut berfungsi.

“Jika memahami fungsinya, maka Anda bisa mengidentifikasi fungsi abnormalnya,” tambah Coffey, seperti dilansir dari live science.

Temuan studi yang menyimpulkan bahwa membran itu adalah organ tersendiri, diterbitkan dalam jurnal The Lancet Gastroenterology and Hepatology edisi November 2016. Dalam hasil studi tersebut disebutkan, sifat kontinyu dari mesenterium misalnya, dapat berfungsi sebagai sarana penyebaran penyakit dari satu bagian perut ke yang lain.

Baca Juga:  Goal Setting pada Social Media Marketing

“Selain mempelajari penyakit, peneliti juga dapat melihat ke mesenterium untuk pendekatan baru operasi,” kata para penulis studi. Terlepas dari sifat kontinyu tersebut, para penulis studi mencatat bahwa masih banyak anatomi dan ciri lain dari mesenterium yang harus dideskripsikan.

“Misalnya, akan diklasifikasikan di manakah mesenterium? Apakah mesenterium harus dilihat sebagai bagian dari usus, pembuluh darah, endokrin, kardiovaskular, atau sistem imun, masih belum jelas, karena organ itu memiliki peran penting pada semua bagian itu,” tulis peneliti.

Sementara banyak organ memiliki fungsi yang berbeda dalam tubuh, fungsi yang berbeda dari mesenterium ini masih belum diketahui. “Reklasifikasi mesenterium sebagai organ relevan secara universal karena mempengaruhi kita semua,” kata Coffey.

Sebelumnya, para ilmuwan dari Mayo Clinic telah mengetahui tentang struktur yang menghubungkan usus kecil dan besar manusia ke dinding perut dan mengikat di tempatnya. Namun hingga kini, struktur itu dianggap sebagai membran tersendiri oleh kebanyakan ilmuwan.

Mengenai hal ini, laman mental floss menuliskan bahwa mesenterium bukanlah hal baru dalam tubuh manusia. Hanya saja, memang klasifikasinya harus diperbaharui kembali dalam anatomi manusia.

Baca Juga:  Stephen Hawking: 1000 Tahun Mendatang, Manusia Tidak Bisa Lagi Hidup di Bumi