News

Ilmuwan Temukan Metode Pengobatan Terbaru untuk Skizofrenia

[Foto: huffingtonpost.ca]
Sekelompok ilmuwan dari Inggris dan Australia berhasil menemukan cara paling efektif untuk mengurangi gejala penyakit skizofrenia. Mereka menemukan pengobatan gangguan mental kronis yang menyebabkan penderitanya mengalami delusi, halusinasi, dan pikiran kacau ini dengan cara menggunakan vitamin B dosis tinggi.

Penelitian ini dipimpin oleh Joseph Firth, pakar psikologi dan kesehatan mental University of Manchester, Inggris. Tim peneliti meninjau semua laporan uji klinis tentang efek vitamin atau suplemen mineral terhadap pasien skizofrenia. Mereka pun berhasil mengidentifikasi 18 studi pengobatan antipsikotik dengan total pasien 832 orang.

Dalam jurnal Psychological Medicine edisi 16 Februari 2017, para ilmuwan menjelaskan tentang penggunaan vitamin B dengan dosis tinggi secara konsisten ternyata efektif mengurangi gejala kejiwaan pada pasien skizofrenia. Artikel mereka berjudul “The Effects of Vitamin and Mineral Supplementation on Symptoms of Schizophrenia: A Systematic Review and Meta-analysis”.

Dari populasi dunia, skizofrenia menjangkiti sekitar 1 persennya, atau setara dengan 70 juta jiwa. Pengobatan skizofrenia selama ini hanya berdasarkan suntikan antipsikotik. Namun, efeknya tidak bertahan lama. Sekitar 80 persen pasien kembali kambuh dalam waktu lima tahun. Itulah yang menjadikan pengobatan penyakit kejiwaan ini menjadi mahal.

Baca Juga:  Di Jepang, Ada 'Hotel' Khusus Untuk Menikmati Konten Porno Dengan VR

Meski sudah banyak studi yang menyatakan pentingnya vitamin B untuk sistem neurologi, para ilmuwan belum mengetahui cara vitamin tersebut dapat mengurangi gangguan mental.

“Untuk mengetahuinya, perlu studi lebih lanjut. Ini penting untuk mengukur efek dan perawatan berbasis nutrisi terhadap otak serta metabolisme tubuh,” kata Jerome Sarris, anggota studi dari Western Sydney University, seperti dilansir dari Eureka Alert. Hipotesis awal mereka karena vitamin B membantu koneksi antarsaraf di otak.


Kekurangan Vitamin B12 Menyebabkan Penyakit Saraf

Sebelumnya, ilmuwan mengungkapkan kekurangan vitamin B12 bisa menyebabkan penyakit saraf, seperti demensia, autisme, dan skizofrenia. Temuan yang terbit dalam jurnal Plos One ini menjelaskan, sejak bayi hingga tua, otak butuh asupan vitamin B12 untuk mengontrol eksresi gen dan memacu pembangunan sistem neurologi.

Vitamin B12 (disebut cobalamin) memainkan peran penting di tubuh dalam pembentukan darah dan fungsi normal dari sistem saraf. Vitamin ini bisa ditemukan pada makanan hewani.

Studi yang dipimpin Richard Deth, pakar farmakologi dari Nova Southeastern University di Florida, Amerika Serikat, tersebut memindai 60 otak orang yang telah meninggal, dari janin (tahap akhir kehamilan) hingga yang telah berumur 80 tahun. Dalam studi itu, juga terdapat 12 otak jenazah yang pernah menderita autisme dan sembilan skizofrenia.

Baca Juga:  Dalam Beberapa Tahun, Pengguna Facebook Akan Bisa Mengetik dengan Pikiran

Pada orang lanjut usia, tingkat kebutuhan vitamin B12 dalam otak lebih rendah 10 kali lipat ketimbang usia muda. Penurunan terjadi secara konsisten selama bertahun-tahun. Studi tersebut juga menjelaskan, kurangnya B12 pada masa kanak-kanak hingga remaja bisa menghambat pertumbuhan otak yang masih berkembang.

Dengan studi ini, para ilmuwan setidaknya mengetahui bahwa vitamin B adalah anak tangga awal untuk naik ke anak tangga berikutnya. Bagi mereka, yang terpenting adalah menemukan metode pengobatan yang efektif terlebih dulu.

Usia Berapa yang Rentan Terkena Skizofrenia?

Biasanya skizofrenia berlangsung lama, karena penderitanya sulit membedakan antara kenyataan dengan pikiran sendiri. Dilansir dari Alodokter, penyakit ini bisa diidap siapa saja, baik laki-laki ataupun perempuan. Usia yang paling rentan terkena kondisi ini adalah 15-35 tahun.

Menurut data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang dipublikasikan tahun 2014, jumlah penderita skizofrenia di Indonesia diperkirakan mencapai 400 ribu orang. Sedangkan untuk penyebab penyakit ini, para ahli belum mengetahui secara pasti. Diduga, kondisi ini berisiko terbentuk oleh kombinasi dari faktor psikologis, fisik, genetik, dan lingkungan.

Baca Juga:  Misteri Cincin Hitam Muncul di Langit Inggris: Apakah Itu Portal Alien?