Opinion

Ini 7 Dampak Negatif Jika Sering Menatap Layar Smartphone di Malam Hari

[Foto: health.harvard.edu]
Jujur saja, sebagian dari Anda tentu ada yang memiliki kebiasaan memainkan gadget di malam hari sebelum tidur. Entah itu untuk men-scroll media sosial, chatting atau lain sebagainya. Namun tahukah Anda jika kebiasaan itu bisa berdampak buruk bagi kesehatan?

Sebuah studi yang dilakukan Harvard Health Publications menemukan bahwa paparan cahaya layar smartphone dan tablet pada malam hari ternyata bisa berdampak buruk pada otak dan tubuh manusia. Menurut studi tersebut, tubuh manusia memiliki siklus natural untuk tetap terjaga pada siang hari dan terlelap pada malam hari.

Namun, saat dipapar cahaya layar smartphone di malam hari, siklus natural itu pelan-pelan akan rusak dan berdampak pada banyak hal. Pasalnya, paparan cahaya itu membuat otak kebingungan apakah ini waktunya tidur atau terbangun.

Ditambah lagi, paparan cahaya smartphone menarik perhatian pengguna untuk terus melihat konten-konten di dalamnya seperti media sosial, video, obrolan di aplikasi chatting, dan lain-lain.

Alhasil, otak akan berhenti memproduksi melatonin, yaitu hormon yang merangsang tubuh untuk tidur. Jika produksi melatonin terganggu, siklus tidur akan terganggu sama seperti ketika mengalami jet lag.

Nah, berikut ini adalah tujuh dampak negatif dari paparan cahaya layar smartphone pada malam hari bagi kesehatan.

Baca Juga:  4 Ide Usaha dengan Modal Media Sosial

1. Mengurangi tingkat kedipan mata

Paparan cahaya layar smartphone akan mengurangi tingkat kedipan mata yang berimplikasi pada ketegangan mata, iritasi mata, kekeringan, hingga mata kabur.

2. Ingatan perlahan-lahan menjadi payah


Berkurangnya hormon melatonin akan membuat Anda susah tidur, sehingga siklus istirahat otak pun terganggu. Jika sudah begitu, ingatan atau memori Anda bisa perlahan-lahan menjadi payah.

3. Terganggunya hormon pengontrol lapar

Siklus tidur yang terganggu akan mengacaukan kerja hormon-hormon lain dalam tubuh, salah satunya hormon pengontrol lapar. Alhasil, Anda bisa lapar terus-menerus dan berisiko pada obesitas.

4. Otak sulit berkembang

Untuk jangka panjangnya, kekurangan hormon melatonin akan mengarah ke sulitnya pengembangan neurotoxin sehingga otak sulit berkembang. Salah satu dampak paling buruknya adalah alzheimer.

5. Lebih sulit untuk belajar

Jika kurang tidur, Anda akan lebih sulit untuk belajar. Karena otak akan bekerja lambat untuk menangkap dan memahami hal-hal baru.

6. Gangguan psikologis

Kurangnya tingkat hormon melatonin di dalam tubuh berpotensi mendatangkan gangguan psikologis. Misalnya depresi, berikut penyakit lain semacam kanker payudara dan prostat.

Baca Juga:  Cara Menghentikan dan Memblokir Pesan Spam pada iMessage

7. Mereduksi kapasitas kognitif

Menurut penelitian, sebaiknya jauhkan diri Anda dari paparan layar smartphone jika sedang berkonsentrasi pada suatu hal. Sebab, smartphone bisa mereduksi kapasitas kognitif dan kemampuan untuk fokus.

Fitur Night Shift Mode dari Apple

Menyadari akan bahaya paparan layar smartphone, Apple merilis fitur Night Shift Mode pada 2016 silam. Fitur yang dihadirkan di iPhone tersebut berfungsi untuk menyesuaikan tone cahaya layar sesuai dengan waktunya.

Sebagai informasi, layar smartphone memancarkan cahaya biru yang membuat penggunanya bisa melihat layar meski di bawah terik matahari. Namun ketika malam, cahaya tersebut malah membuat otak bingung. Pasalnya, cahaya tersebut meniru sinar matahari. Akibatnya, otak tidak memproduksi melatonin.

Dengan hadirnya fitur Night Shift Mode ini, maka layar iPhone bisa mematikan cahaya biru tersebut pada malam hari, sehingga layar lebih hangat dan ramah untuk mata, otak, serta tubuh. Pengguna bisa dengan mudah mengatur kapan fitur ini bisa aktif di malam hari.

Meski fitur ini tidak secara langsung menghilangkan risikonya, namun setidaknya ini adalah upaya untuk mereduksi risiko paparan cahaya layar smartphone. Di samping itu, kita sebagai pengguna smartphone juga perlu membatasi diri dengan tidak ‘tergoda’ oleh smartphone saat ingin tidur di malam hari.

Baca Juga:  Mengapa Starbucks Tetap Digemari Meski Harganya Cukup Tinggi?