News

Inilah Reaksi Keras Raksasa-Raksasa Teknologi AS Memprotes Kebijakan Trump

Sebagai imigran, CEO Microsoft Satya Nadella mengatakan imigrasi mendatangkan manfaat besar bagi negara AS [Foto: Flickr.com/Heisenberg Media]
Mungkin tak berlebihan jika hari Jumat, 27 Januari 2017 lalu dianggap sebagai hari paling kelabu di awal tahun bagi rakyat Amerika Serikat (AS) dan dunia. Pasalnya, Presiden Donald Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang meresmikan kebijakan pelarangan imigrasi.

Peraturan baru itu diantaranya menghentikan sementara penerimaan imigran, melarang masuknya pengungsi dari Suriah tanpa batas yang ditetapkan, serta melarang siapapun (walaupun mereka telah memiliki green card atau visa) masuk ke AS dari beberapa negara mayoritas Muslim, termasuk Iran, Irak, Suriah, Sudan, Libya, Yaman dan Somalia, selama 90 hari ke depan.

Perintah ini telah mengundang reaksi keras dari berbagai pihak. American Civil Liberties Union (ACLU), organisasi non-profit yang bergerak di bidang hukum, telah mengajukan gugatan hukum terkait perintah tersebut. Selain itu, beberapa pimpinan perusahaan teknologi juga secara terang-terangan mengecam apa yang dilakukan Presiden Trump.

Selain CEO Uber Travis Kalanick yang menyatakan akan memberi bantuan finansial bagi keluarga karyawan yang terkena dampak perintah eksekutif, CEO Twitter Jack Dorsey juga menyatakan sikapnya terkait kebijakan imigrasi tersebut.

Baca Juga:  4 Alasan iPhone X Tak Layak Beli

“Dampak kemanusiaan dan ekonomi dari perintah eksekutif sangat nyata dan mencemaskan. Kami telah merasakan manfaat dari apa yang dibawa para pengungsi dan imigran ke AS,” tulis Dorsey seraya menghubungkan dengan pernyataan yang sama oleh Internet Association di Twitter.

Google diketahui telah menarik para karyawan yang berada di luar Amerika, walaupun kemungkinan sudah terlambat bagi mereka yang berada di tujuh negara yang dilarang untuk kembali ke AS tepat waktu. Menurut pernyataan Google, dengan adanya larangan tersebut, pemerintah telah menciptakan hambatan bagi perusahaan AS untuk mendapatkan orang dengan bakat-bakat luar biasa dari luar Amerika.

CEO Google Sundar Pichai juga telah menyatakan kekecewaannya mengenai dampak yang mungkin timbul dari perintah imigrasi Trump yang dinilai tidak manusiawi dan picik tersebut.


Sementara itu, CEO Facebook Mark Zuckerberg telah menulis di laman Facebook-nya bahwa dia “prihatin dengan dampak yang mungkin terjadi dengan adanya perintah yang ditandatangani Presiden Trump,” walaupun dia menyatakan senang bahwa “Trump bersedia ‘melakukan sesuatu’ bagi Dreamers” dan bahwa Presiden “percaya bahwa negara bisa diuntungkan dengan kedatangan ‘orang-orang berbakat’ (dari luar AS).”

Baca Juga:  Mengenal "Clips," Aplikasi Editing Video Terbaru dari Apple

Microsoft mengatakan kepada TechChrunch bahwa mereka telah memberikan bantuan hukum kepada karyawannya yang terdampak oleh peraturan ini. Mereka menyatakan, “Kami prihatin dengan dampak dari perintah eksekutif tersebut terhadap karyawan yang berasal dari negara-negara dalam daftar, yang sudah tinggal di AS segara legal, dan kami bekerja secara aktif dengan mereka untuk menyediakan bantuan dan penasihat hukum.”

“Sebagai seorang imigran sekaligus CEO, saya telag mengalami dan melihat dampak positif dari imigrasi terhadap perusahaan kami, terhadap negara, dan terhadap dunia. Kami akan terus mendampingi topik penting ini,” kata CEO Microsoft Satya Nadella.

Sementara itu, chief legal officer Microsoft Brad Smith mengatakan, setidaknya ada 76 karyawan perusahaan tersebut yang terkena dampak kebijakan Trump. Namun menurut Smith, kemungkinan masih banyak karyawan lain di negara-negara dalam daftar yang telah memiliki green card atau visa, yang otomatis kena dampaknya.

CEO LinkedIn Jeff Weiner mengatakan bahwa banyak perusahaan Fortune 500 yang dibangun oleh para imigran, atau anak-anak mereka. “Semua etnis sesungguhnya memiliki akses kepada semua kesempatan—(ini adalah) prinsip negara AS sejak berdirinya,” tulisnya.

Baca Juga:  Hacker Temukan Bug yang Mungkinkan Pengguna Menumpang Uber Gratis

Tak ketinggalan, CEO Apple Tim Cook juga menulis dalam sebuah memo bahwa perusahaannya telah menghubungi semua karyawan yang terdampak oleh perintah tersebut.

“Dalam percakapan saya dengan para pejabat di Washington minggu ini, saya menegaskan bahwa Apple sungguh percaya akan pentingnya imigrasi, baik bagi perusahaan maupun bagi masa depan negara ini,” tulis Cook. “Apple tak akan ada tanpa imigrasi, apalagi melakukan inovasi dan segala hal yang telah kami capai sekarang.”

Sementara itu, CEO Netflix Reed Hastings juga mengecam keras kebijakan yang dijalankan Trump tersebut. Menurut pernyataan di laman Facebook-nya, alih-alih membuat Amerika lebih aman, kebijakan “yang menyakiti karyawan Netflix di seluruh dunia” itu hanya akan membuat negaranya dimusuhi dan kehilangan sekutu-sekutunya.