News

Instagram Jadi Media Sosial Terburuk Bagi Kesehatan Mental, Kok Bisa?

[Foto pexels.com]
Bersiap-siaplah untuk menerima warta buruk sekaligus info yang mungkin agak kurang menyenangkan bagi Anda-Anda para penggemar selfie atau groufie yang suka mengunggah hasil jepretan tersebut ke Instagram. Karena ternyata, media sosial yang lagi populer ini punya predikat yang tak terlalu bagus, terutama jika parameternya adalah kesehatan mental para penggunanya.

Pada tagar #StatusofMind yang sempat menjadi viral beberapa waktu yang lalu, ditemukan salah satu premis penting. Ternyata, aktivitas berbagi foto melalui Instagram dapat memberikan efek takut kehilangan. Kehilangan di sini diasumsikan sebagai perhatian dari netizen serta double tap alias like dari para followers. Hal ini otomatis langsung mempertegas beberapa asumsi yang belakangan sering terdengar, yaitu mengenai buruknya Instagram terhadap kesehatan mental akibat posting-an yang seringkali dianggap haus akan pengakuan.

Mengutip BBC, di bahasan tagar yang sama, juga dikemukakan jika media sosial yang punya rating positif di peringkat pertama adalah YouTube. Di bawahnya, membuntuti Twitter, serta Facebook dan Snapchat pada peringkat ketiga dan keempat. Baru di tempat terakhir ada Instagram. Sementara itu, tidak ada nama Path, Linkedin, Google+, Plurk, Tagged maupun platform lainnya yang disinggung, hanya lima itu saja.

Baca Juga:  Instagram Kini Punya Mode Offline untuk Pengguna Android

Walau begitu di sisi lain, ada fakta yang agaknya bertolak belakang dengan temuan di atas. Seperti dikutip dari The Telegraph, mereka menemukan sebuah survei yang menyatakan bahwa mengambil satu momen dan foto setelah itu di posting di Instagram ternyata menghasilkan dampak positif. Dampak positif ini utamanya dalam hal mengekspresikan diri dan memperkenalkan identitas diri kepada publik lewat dunia maya. Temuan ini cukup kredibel, karena telah melibatkan banyak pengguna medsos muda, tepatnya sebanyak 1479 orang dengan rentang usia antara 14 hingga 24 tahun.

Shirley Cramer CBE, Chief Executive The Royal Society for Public Health (RSPH), mengatakan bahwa sosial media telah sukses menjadi hal yang lebih adiktif daripada dua faktor yang sering dianggap berbahaya bagi manusia: rokok dan alkohol. Makin menjadi-jadi karena dewasa ini memposting foto di media sosial – utamanya Instagram dan Snapchat yang dianggap sebagai dua jejaring sosial terburuk – sudah amat sangat mengakar dalam kehidupan para pemuda-pemudi, sehingga agak susah menghindarkan para netizen muda ini dari kebiasaan memposting foto mereka di media sosial tersebut pun menghindarkan mereka dari dampak negatifnya.

Baca Juga:  Twitter Hentikan Layanan Berbagi Video "Vine"

Shirley juga sekaligus berujar bahwa keberadaan Instagram dan Snapchat sebagai dua media sosial terburuk untuk kesehatan mental dan kesejahteraan pikiran, pada umumnya disebabkan karena kedua platform tersebut terlalu fokus pada gambar yang diunggah oleh penggunanya. Nyaris sulit untuk menemukan konten dengan kutipan yang berkesan atau berisi kalimat menggugah. Tentu saja hal ini sangat dipengaruhi sifat dari Instagram dan Snapchat itu sendiri, yaitu untuk mengunggah konten gambar dan video, bukan fokus pada kalimat. Namun, sifat asli dari dua medsos itu yang justru memancing perasaan ketidakpuasan dan rasa cemas, terutama pada warganet yang berada di usia remaja atau mendekati usia dewasa, apalagi jika mereka merasa ada kekurangan pada kondisi fisik dandanan maupun konteks kegiatan apa yang sedang mereka dokumentasikan.

Selain mengkritik Instagram dan Snapchat, pihak RSPH juga melayangkan protes pada dua platform populer lain. Mereka adalah Twitter dan Facebook. Sedikit berbeda dengan Instagram dan Snapchat, tujuh dari 10 ilmuwan RSPH mendukung agar Twitter dan Facebook ke depannya bersedia memberikan semacam notifikasi bila pemakainya sudah berlebihan saat menggunakan platform mereka.

Baca Juga:  Studi: Media Sosial Bisa Memperkuat Stigma dan Stereotip