Home  »  Opinion   »  
Opinion

Kapan Seorang Founder Harus Mundur dari Bisnisnya?

[Foto: pixabay.com]
Membangun sebuah bisnis tentunya memiliki berbagai tantangannya tersendiri. Tak hanya bagi mereka yang baru memulai bisnis tanpa sedikit pun pengalaman kerja, tantangan dalam sebuah bisnis juga dirasakan oleh mereka yang telah berpengalaman.

Meningkatkan popularitas startup atau bisnis rintisan berbasis digital menimbulkan satu buah tren baru di kalangan employee di Indonesia dan di seluruh dunia. Tren tersebut berupa munculnya keinginan setiap orang untuk menjadi founder dan memulai bisnisnya sendiri. Founder muncul dari berbagai kalangan. Mereka yang drop out, yang baru lulus, yang telah bekerja bertahun-tahun, memiliki kesempatan yang sama. Terlebih saat ini banyak sekali program inkubasi dan pendanaan dari investor yang sangat terbuka untuk siapa saja yang memiliki ide-ide brilian dalam berbisnis.

Sayangnya, kemauan untuk membuat sebuah bisnis ini tak serta-merta diikuti oleh berbagai kemampuan penunjang, khususnya bagi seorang founder. Maka, tak jarang jika bisnis yang kemudian dirintisnya tidak menunjukkan hasil yang memuaskan, bahkan tutup karena tidak mampu mengatasi gejolak di dalamnya.

Tahun 2016 kemarin menjadi tahun di mana tren startup benar-benar bersinar dan naik daun, sekaligus diuji. Di satu sisi banyak sekali berbagai inovasi bisnis di berbagai bidang yang bermunculan. Namun, di sisi lain, tak sedikit pula dari mereka yang pada akhirnya gulung tikar atau minimal mengurangi beban keuangan dengan memecat sejumlah karyawannya.

Lantas, apakah mundur dari ‘perang’ menjadi founder adalah sebuah kesalahan?

Jawabannya tidak selalu. Pada beberapa kasus, justru malah seseorang harus benar-benar mundur sebagai founder. Ada beberapa kondisi yang membuat seseorang harus berhenti atas bisnisnya. Kondisi-kondisi tersebut bukan berarti memaksa founder menyerah, tetapi memang tidak boleh memaksakan sesuatu yang tidak seharusnya.


1. Terlalu banyak yang harus diatur

Sebagai seorang founder, seseorang memang dituntut untuk melakukan banyak hal. Namun, akan ada saatnya hal ini harus dihentikan. Sebab, terlalu banyak menghandle segala sesuatu seorang diri merupakan sedikit dari berbagai tanda mundurnya sebuah bisnis atau startup.

Sebuah bisnis atau startup yang mulai berkembang menuntut adanya tim yang lebih besar. Harus ada orang yang membuat plan untuk marketing, finansial, hingga mengatur project harian atau proses promosi untuk bisnis itu sendiri. Ketika seorang founder memaksa untuk melakukan hal tersebut seorang diri, bisa dipastikan semua tidak berjalan efektifnya. Opsinya adalah mencari orang lain yang bisa melakukan, atau justru mundur sekalian dan menyudahi bisnisnya yang sebenarnya tidak akan bertahan lama.

Pasalnya, jika tanda-tanda tersebut mulai terjadi pada sebuah bisnis, bisa diprediksi, bisnis tersebut mengalami permasalahan dari segi manajemen. Mungkin seseorang masih bisa bertahan dengan kondisi demikian, namun tentu saja hasilnya tidak akan maksimal.

2. Founder tidak bisa lagi mengenali idenya sendiri

Kondisi ini kebanyakan muncul pada founder yang masih baru-baru saja merintis bisnis atau bahkan sama sekali belum memiliki pengalaman dengan dunia kerja. Ketika merintis sebuah usaha, kebanyakan founder memiliki ide-ide fantastis, yang sayangnya tidak selalu sesuai dengan kenyataan.

Seiring dengan berjalannya waktu, banyak dari mereka yang akhirnya menyadari bahwa pasar tidak menginginkan demikian, kenyataan tidak berkata demikian. Lalu, sebagian memilih untuk mengubah haluan. Hal itu terjadi berkali-kali dan founder terus saja berubah pendirian, alih-alih menekuni apa yang mereka yakini. Hingga di satu titik founder ini akan kebingungan dengan idenya sendiri dan bahkan tidak paham lagi apa yang sedang mereka lakukan. Jika menemui kondisi demikian, sama sekali tidak ada pilihan lain, founder harus mundur.

3. Sensasi bekerja dan membangun startup telah hilang

Bagaimanapun passion akan menjadi komponen paling penting untuk bertahan menghadapi gempuran dalam membangun bisnis. Jika seorang founder telah kehilangan hal ini, rasanya akan sulit sekali untuk bertahan apalagi harus bergerak maju.

Menjadi seorang founder tidak hanya sekadar gaya-gayaan titel di kartu nama. Lebih dari itu, menjadi founder berarti harus bertanggung jawab untuk seluruh pekerjaan yang dilakukan. Baik oleh dirinya maupun orang-orang yang bekerja untuknya.