Opinion

Kecerdasan Buatan Bakal Ganti Pekerjaan Manusia: Haruskah Kita Takut?

[Foto: gcn.com]
Seiring perkembangan teknologi yang begitu pesat, kecerdasan buatan pun diciptakan semakin mirip dengan manusia. Hal ini tak ayal membuat banyak orang merasa ketakutan. Pasalnya, sudah banyak kabar yang mengatakan bahwa kecerdasan buatan kelak bisa menggantikan peran manusia di bidang pekerjaan. Lalu, perlukah kita takut akan hal tersebut?

Arend Hintze, Asisten Profesor Biologi Integratif dan Ilmu Komputer dan Teknik di Michigan State University mengatakan, dalam banyak sistem yang kompleks di kecerdasan buatan, terjadi kerja sama sistem yang kompleks dan tidak akan pernah bisa dipahami sepenuhnya. Contohnya, wahana luar angkasa milik NASA dan pembangkit listrik Chernobyl.

Karena itu, kegagalan dengan cara yang tidak terduga, seperti tenggelamnya kapal di samudera dan meledaknya dua pesawat terbang yang menyebarkan kontaminiasi radioaktif ke seluruh Eropa dan Asia, masih mungkin untuk terjadi.

“Saya bisa melihat bagaimana kita bisa jatuh ke dalam perangkap yang sama dalam penelitian kecerdasan buatan,” kata Hintze, seperti dilansir dari The Conversation.

Ia melanjutkan, kita melihat penelitian terbaru dari ilmu kognitif, menerjemahkannya ke dalam algoritma, dan menambahkannya ke sistem yang ada. Kita mencoba menciptakan kecerdasan buatan tanpa memahami kecerdasan atau kognisi terlebih dahulu.

Baca Juga:  Inilah 6 Speaker dengan Kecerdasan Buatan yang Siap Meramaikan Pasar

Semakin rumit desain kecerdasan manusia, semakin besar pula risikonya

Watson dari IBM dan Alpha dari Google, yang merupakan sistem kecerdasan buatan, sudah berhasil membuktikan kemampuannya. Watson menang terhadap dua manusia dalam kuis populer AS, Jeopardy!, sedangkan AlphaGo mengalahkan pemain legendaris Go pada pertengahan 2016 lalu.


Namun, seandainya kedua sistem itu melakukan kesalahan dan kalah dari manusia sekalipun, Hintze menilai tidak akan ada konsekuensi yang berarti. Karena nyatanya, desain kecerdasan buatan semakin rumit dan prosesor komputer menjadi semakin cepat. Lantas, manusia memberi mereka tangung jawab lebih, meski risikonya juga meningkat.

“Melakukan kesalahan adalah bagian dari menjadi manusia. Jadi, bisa dibilang mustahil bagi kita untuk menciptakan sistem yang benar-benar aman,” ujar Hintze.

Untuk itu, Hintze menyarankan untuk menggunakan pendekatan neuroevolution, yaitu menciptakan lingkungan virtual, di mana otak dan etika makhluk digital bisa dikembangkan untuk menyelesaikan tugas yang semakin kompleks. Dengan demikian, para peneliti kecerdasan buatan bisa menangkap konsekuensi yang tidak diinginkan sebelum meluncurkannya ke dunia nyata.

Baca Juga:  Berani Tinggal di Mars? Ini 4 Alasan Mengapa Manusia Harus Bisa Menghuninya

Otomatisasi industri gantikan peran manusia dengan robot

Yang selama ini ditakutkan banyak orang adalah dampak kecerdasan buatan yang menggantikan peran manusia di lapangan pekerjaan. Otomatisasi industri menggantikan peran manusia dengan robot. Alih-alih menggunakan manusia yang berpotensi kelelahan, robot lebih bisa diandalkan.

Jika saat ini robot hanya berfungsi melakukan pekerjaan fisik, tidak menutup kemungkinan jika di masa depan mereka akan mengambil alih pekerjaan kognitif dan kreatif. “Ini bukan masalah ilmiah. Ini adalah masalah politik dan sosioekonomi yang harus diselesaikan oleh masyarakat,” ujar Hintze.

Lalu, akankan manusia pada akhinya tidak lagi diperlukan? Ketika kecerdasan buatan sudah melampaui manusia, baik dari segi fisik dan emosi, di manakah posisi manusia? Bukan tidak mungkin jika kecerdasan buatan merasa tidak lagi membutuhkan tuannya.

Namun untungnya, kita belum perlu mencari pembenaran mengenai keberadaan kita. Hintze mengatakan, kita masih punya waktu sekitar 50 hingga 250 tahun hingga saat itu tiba. Nah selagi menunggu, mungkin ini adalah saat yang baik untuk mencari jawaban mengapa kecerdasan buatan tidak boleh menghapus manusia.

Baca Juga:  Google Kembangkan AI yang Bisa Cegah Kebutaan Pada Penderita Diabetes