Tips & Guide

Kepribadian Anda Berdasarkan Gaya Selfie yang Sering Dilakukan

[Foto: Pexels.com]
[Foto: Pexels.com]
Kita semua tahu bahwa generasi milenial, yakni kita yang berada dalam rentang usia 18 hingga 34 tahun, adalah generasi yang nyaris mustahil dipisahkan dari smartphone. Selain untuk berkomunikasi, smartphone sangat penting untuk menunjang aktivitas sehari-hari, seperti mendapatkan transportasi untuk berangkat dan pulang kerja, membalas e-mail dan komentar di media sosial, menonton video, menulis blog, membaca berita, mendengar musik, dan masih banyak lagi.

Jika smartphone kehabisan baterai dan mati, kita pasti kalang kabut. Seperti yang saya alami hari ini, misalnya. Ponsel saya mati, dan saya “terjebak” di mall karena tak bisa memanggil Uber atau Grab untuk pulang! Namun ada hal lain yang bisa bikin Anda bete kalau smartphone mati, apalagi ketika sedang kumpul dengan teman atau jalan-jalan ke tempat eksotis. Tentu saja, Anda tak bisa mengambil selfie!

Fenomena selfie memang sedang “menyerang” generasi milenial, khususnya mereka yang berada di rentang usia mapan (antara 29 – 34 tahun), yang menurut survei ternyata merupakan kelompok yang paling sering berfoto selfie dibandingkan milenial yang berusia lebih muda. Menurut survei tersebut, 85 persen generasi milenial suka berfoto selfie, dan banyak dari mereka bahkan ber-selfie lebih dari lima kali sehari!

Menurut studi yang dilakukan di tahun 2014, mereka yang terlalu sering selfie berpotensi menunjukkan gejala penyakit mental, seperti gangguan dismorfik tubuh atau gangguan obsesif kompulsif (OCD). Peneliti lain menghubungkan selfie dengan psikologi, dan mengambil terlalu banyak selfie bisa mengindikasikan seseorang memiliki kecenderungan narsis, terisolir dan bahkan berpotensi bunuh diri.

Karena kebiasaan selfie yang begitu fenomenal ini, banyak ilmuwan dari seluruh dunia yang tergelitik untuk melakukan survei lain yang mengungkapkan hubungan antara kebiasaan selfie dengan kepribadian seseorang.

Penelitian yang dilakukan oleh sejumlah ilmuwan di Universitas Nanyang Singapura mempelajari 13 aspek selfie: apakah orang tersebut berpose “duckface,” tersenyum lebar dengan bibir terkatup rapat, melihat lurus ke kamera, memperlihatkan sisi emosional yang positif, memegang ponsel atau kamera dalam sudut yang tinggi atau rendang, menunjukkan seluruh bagian wajah, menunjukkan lokasi, dan apakah fotonya diedit atau dipercantik.  Berikut hasilnya:

Mereka yang sering selfie dengan pose “duckfacealias bibir monyong ditengarai memiliki emosi yang tak stabil dan kemungkinan menderita gangguan terkait stres dan depresi, menurut riset yang dilakukan Universitas Nanyang di Singapura.

Mereka yang tidak memberi informasi mengenai lokasi pada selfie-nya merupakan orang yang sangat hati-hati dan ketat dalam menjaga privasinya.

Mereka yang mengambil foto selfie dari sudut yang rendah mencerminkan sifat yang ramah dan positif.

Mereka yang sering tersenyum atau tertawa ketika selfie adalah orang-orang yang terbuka dengan pengalaman baru dan punya rasa ingin tahu yang bear.

Pria yang terlalu banyak selfie dan fotonya banyak diedit menunjukkan potensi gangguan kejiwaan alias psikopat.

Pria dan wanita yang mengunggah banyak foto selfie menunjukkan kepribadian ekstrovert dan gemar bersosialisasi. Mereka ingin membentuk citra dan memamerkan dirinya dalam lingkup sosialnya, menurut sebuah penelitian lain. Penelitian ini mengungkap bahwa menunggah selfie tak ada hubungannya dengan citra diri seseorang. Pria dan wanita yang memiliki ego besar atau citra diri lemah cenderung jarang mengunggah foto selfie.

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID