Opinion

Kerja yang Nyaman Bukan di Startup

[Foto: pexels.com]
[Foto: pexels.com]
Perdebatan mengenai pilihan bekerja di startup atau korporasi nampaknya tidak ada habisnya untuk diulas. Meski pada akhirnya semua berujung pada pilihan “terserah pilih mana”, tetapi hal ini masih juga menjadi perbincangan. Terlebih ketika akhir-akhir ini startup, khususnya di Indonesia, berhasil mencapai puncak popularitasnya, tapi sekaligus banyak diterjang badai.

Seperti diberitakan di banyak media, lebih dari 100 orang baru saja diberhentikan dari startup yang konon menjadi icon fashion e-commerce di Indonesia, SaleStock. Namun, di sisi lain kita boleh saja bernapas lega mendengar berita masih ada investor yang menggelontorkan dana untuk salah satu startup lokal Gadjian yang tampil dengan produk SaaS (Software as a Service). Perbincangan dan kabar-kabar mengenai startup kini tak kalah menarik dari gosip artis di televisi. Setidaknya begitu yang dirasakan pecinta teknologi ataupun praktisi bisnis.

Disadari atau tidak, perkembangan startup di Indonesia pelan-pelan menunjukkan gairahnya. Seiring dengan semakin banyaknya orang yang berminat untuk menjadi salah satu bagian dari startup yang kini sedang naik daun. Tingginya peminat pekerja di startup ini barangkali didasari oleh beberapa alasan yang tidak didapat jika kita bekerja di korporasi. Misalnya saja seperti iklim yang santai, jam kerja fleksibel, dan ruang kerja yang lebih mirip ruang bermain. Seperti dilansir dalam situs Jobplanet, setidaknya rata-rata orang memberikan nilai empat dari rentang satu sampai lima mengenai tingkat kepuasan karyawan yang bekerja di startup.

Perasaan senang versus ketidakpastian

Tidak dipungkiri bahwa untuk beberapa orang, terutama yang memiliki watak “sulit diatur” dan cenderung bebas, bekerja di startup adalah pilihan ideal. Bagaimana tidak, di startup seseorang memiliki kebebasan untuk berpendapat. Bahkan tak jarang ide yang dikemukakan karyawan “receh” bisa langsung dieksekusi. Tidak ada senioritas dalam iklim startup, karena perusahaan masih berada dalam posisi “mencoba” mana strategi yang paling sesuai untuk dikembangkan. Hal ini tentu bertolak belakang, apabila kita membandingkan dengan sebuah korporasi yang telah stabil. Hierarki, birokrasi dan senioritas menjadi hal yang tidak bisa dihindari.

Namun, kendati demikian, rasa senang bekerja di startup tidak selamanya dipandang sebagai sisi yang positif. Kadang kala, dengan kebebasan yang karyawan miliki, tak jarang kita justru dihadapkan pada iklim yang serba tidak pasti.

Startup bukan tempat kerja yang nyaman

Jika yang kita cari adalah kenyamanan, jangan pernah bekerja di startup. Startup adalah tempat yang paling tidak nyaman untuk bekerja. Dalam artian, kita sebagai karyawan harus selalu siap untuk segala kemungkinan, bahkan yang paling tidak kita inginkan. Salah satunya yang barangkali menimpa ratusan karyawan di SaleStock. Yup, layoff.

Layoff menjadi hal yang lumrah ketika kita bekerja di startup. Siapapun yang bekerja di sana, pada apapun posisinya, bersiap-siaplah untuk kena PHK. Model bisnis startup yang belum stabil ditambah keuangan yang sebagian besar hanya bergantung pada investor setidaknya menjadi dua hal yang membuat karyawan di startup bisa dipecat sewaktu-waktu.

Itulah kenapa banyak yang beranggapan skill adalah kebutuhan utama untuk bekerja di startup. Simpelnya seperti ini, untuk bekerja di startup, kita butuh skill. Selama bekerja di startup, skill tersebut harus terus dikembangkan. Akhirnya, kalaupun pahit-pahitnya kita kena layoff, skill tersebut masih ada di diri kita. Dan ini yang mungkin akan menyelamatkan kita dari pahitnya PHK.

Bekerja sebagai proses belajar

Pada dasarnya bekerja di startup bukanlah sebuah tujuan akhir. Startup bukan cita-cita, yang mana ketika sudah sampai di sana maka semuanya selesai. Justru tantangan terberatnya adalah bagaimana kita bisa terus mengimprovisasi kemampuan diri ketika sudah berada di dalam sana.

Jika orang berpikir bahwa bekerja hanya untuk menyambung hidup, mengumpulkan uang, dan memperoleh prestise, sepertinya jangan bekerja di startup. Ya, meski kenyataannya gaji di startup juga tidak sedikit, tetapi jangan pernah menjadikan itu sebagai alasan satu-satunya. Sebab di tengah iklim ketidakpastian startup, banyak hal yang lebih berarti ketimbang sekadar memikirkan berapa rupiah yang akan didapat. Salah satunya adalah bagaimana kita menggunakan pekerjaan itu sebagai tempat untuk belajar dan berproses. Sebab, sebuah pekerjaan ideal pada akhirnya adalah pekerjaan yang membuat kita lebih pintar dan lebih berkualitas.

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID