Opinion

Kewajiban Digital Marketer adalah Mengikuti Tren

[Foto: pixabay.com]
[Foto: pixabay.com]
Menjadi seorang digital marketer merupakan sebuah profesi yang menuntut seseorang untuk senantiasa akrab dengan perubahan. Pertanyaan-pertanyaan seperti “apa yang baru?” atau “apa yang sedang naik daun belakangan ini?” menjadi dua hal yang setiap saat mereka amati. Maka, mengikuti tren barangkali menjadi salah satu solusi yang dapat memberikan para digital marketer jawaban-jawaban dari selera customer yang sedang berkembang.

Jika menilik ke belakang, setiap tahun selalu ada perubahan dari segi gaya maupun selera. Hal ini tentu saja dipengaruhi oleh banyaknya perubahan, terutama di era teknologi yang semakin maju. Jika dulu orang terbiasa berbelanja kebutuhan pada apa yang ditawarkan oleh para penjual di sekitarnya, maka di era e-commerce ini semua batas menjadi kabur. Seorang di ujung pulau Sumatera barangkali bisa membeli produk yang diproduksi di Jakarta. Lebih jauh bahkan internet memungkinkan kita untuk menjadi konsumen dari produk-produk yang dihasilkan di luar negeri.

Tahun 2015 menjadi semacam momentum, khususnya bagi dunia marketing di Indonesia. Pasalnya pada tahun tersebut, bisnis berbasis digital mulai banyak bermunculan menawarkan berbagai kemudahan bagi konsumen. Di satu sisi, mungkin kita boleh bangga, sebab kita bisa melihat perubahan selera dan gaya hidup konsumen menjadi semakin akrab dengan dunia digital. Namun, di sisi lain, munculnya banyak persaingan menuntut kita untuk selalu berpikir keras dalam rangka memenangkan hati konsumen.

Perubahan perilaku konsumen di era digital

Membludaknya jumlah pengguna smartphone pada tahun 2015 memunculkan banyak perubahan di segi bisnis. Jika dulunya konsumen aktif adalah mereka yang akrab dengan layar komputer, kini setiap orang memiliki akses internet di genggamannya. Sebuah riset menunjukkan bahwa lebih dari 50% pengguna internet di dunia melakukan pencarian melalui mobile device. Sementara, khusus untuk Facebook sendiri, lebih dari 90% usernya adalah pengguna mobile. Data lain menunjukkan 80% revenue di Facebook Ads diperoleh dari mobile device.

Tren lain yang tak kalah menarik adalah populernya Artificial Intelligence (AI) sebagai sarana untuk menggaet customer. Pengembangan AI menjadi satu hal yang menjanjikan di tengah selera konsumen yang terus-menerus berubah. Hadirnya chatbot di berbagai produk seperti Apple dengan Siri-nya atau Microsoft dengan Cortana merupakan salah satu contoh dari penggunaan AI untuk memaksimalkan customer service.

Teknologi yang semakin berkembang

Tak hanya dari segi konsumen, perubahan paling besar yang dirasakan oleh para digital marketer adalah dari segi teknologi. Platform otomatisasi menjadi tren yang akan sangat dirasakan perubahannya oleh para digital marketer. Sebagai contoh, iklan digital yang dulunya dikelola secara manual oleh account manager kini dapat dijalankan lebih mudah melalui berbagai platform otomatis. Tak hanya berkembang di luar negeri, di Indonesia tren ini mulai muncul dengan hadirnya startup yang menjadi pelopor otomatisasi di dunia digital marketing.

Otomatisasi di berbagai bidang memungkinkan kita sebagai digital marketer untuk mengelola berbagai jenis channel pemasaran dengan cara yang lebih praktis. Di satu sisi, cara ini terlihat menyenangkan karena akan mengurangi kerja-kerja yang selama ini dilakukan secara manual. Namun, di sisi lain, hadirnya tren ini menuntut kita sebagai digital marketer untuk selalu upgrade ilmu pengetahuan dan skill terutama di bidang teknologi.

Jelas ketika sebuah tren berubah, diiringi dengan perilaku konsumen yang juga berubah, maka sebagai orang yang menjalankan bisnis, seorang digital marketer harus siap dengan semua perubahan itu. Oleh karenanya, belajar dan upgrading skill menjadi kunci yang tidak bisa dilewatkan.

Jangan lupa ikuti kami di Twitter untuk mendapatkan update terbaru dari @LabanaID