News

Kurangi Pencemaran Lingkungan, Startup Ini Ciptakan Tempat Minum yang Bisa Dikonsumsi

[Foto: reuters.com]
Air minum adalah salah satu kebutuhan pokok manusia. Air minum berfungsi sebagai hidrasi tubuh agar metabolisme berjalan lancar. Seiring kebutuhan manusia akan air kemasan, masalah lingkungan pun terus mewabah di berbagai kota di dunia.

Saat ini, air minum kemasan botol plastik atau kaca menciptakan masalah lingkungan berupa sampah dan limbah yang tidak bisa diolah dengan baik dan mencemari Bumi. Masalah inipun tidak serta merta mudah diatasi. Sebab, jumlah sampah botol plastik atau kaca seperti tidak ada habisnya.

Di London, Inggris, misalnya. Menurut laporan pemerintahan kota London, lebih dari 4.000 botol plastik sudah diangkat dalam satu bulan terakhir dari sungai Thames. Hal ini menunjukkan salah satu masalah yang dihasilkan botol plastik.

Namun kini, masalah tersebut tampaknya akan ada solusinya. Skipping Rocks Lab, sebuah perusahaan startup asal London, Inggris, baru saja membuat sebuah tempat minum berbentuk bola gelembung bernama Ooho Balls.

Tempat minum berbentuk bola gelembung ini memiliki lapisan seperti jeli yang terbuat dari ekstrak tanaman dan rumput laut. Sehingga nantinya, gelembung tersebut juga bisa kita konsumsi. Jika tidak dikonsumsi, lapisan ini pun akan membusuk secara sendirinya dalam waktu empat hingga enam minggu.

Baca Juga:  Robot Canggih Pembuat Pizza, Menggeser Pekerjaan Manusia?

“Kami pikir, Ooho bukan solusi bagi semua minuman berbotol plastik. Namun jika untuk konsumsi dalam jangka pendek, hal ini bisa menjadi solusi,” ujar Rodrigo Garcia Gonzalez, pendiri Skipping Rocks Lab, seperti dilansir dari Reuters.

Skipping Rocks Lab membutuhkan waktu tiga tahun untuk membuat Ooho. Mereka memproduksi lebih dari 2.000 bola per harinya. Namun, mereka berharap untuk meningkatkan hal tersebut.


Dalam sebuah uji coba yang dilakukan di Jembatan London pada Rabu, 12 April 2017 lalu, bola inovatif ini menarik perhatian orang-orang yang mencobanya, mulai dari yang terkejut hingga merasa senang.

Selain masyarakat umum, perusahaan ini juga menargetkan Ooho bagi para pelari maraton. Sehingga nantinya, para pelari tersebut bisa membuang Ooho ke manapun ketika sedang dalam perlombaan, tanpa menimbulkan dampak buruk apapun terhadap lingkungan.

Botol Minum Berbahan Alga

Sebelumnya, pada 2016 lalu, seorang mahasiswa bernama Ari Jónsson dari Iceland Academy of the Arts, Islandia, berhasil menciptakan botol minum berbahan alga. Botol tersebut diklaim ramah lingkungan, sebab bisa langsung terdegradasi jika dikosongkan.

Baca Juga:  Pengguna Twitch Kini Tidak Lagi Bisa Gunakan Ad-Blocker Pada Platformnya

Alga adalah tumbuhan berklorofil, memiliki ukuran beragam, dari beberapa mikron hingga bermeter-meter. Hidup alga bergantung pada gerakan air di dalam air tawar atau air laut.

Jónsson menjelaskan, proses pembuatan botol minum ini sangatlah mudah. Ia hanya mencampurkan alga merah yang sudah berbentuk bubuk. Lalu, ditambah air untuk membuat zat seperti gelatin. Setelah tercampur, campuran kemudian dipanaskan.

Setelah itu, bahan-bahan dituang ke dalam cetakan berbentuk botol yang terendam di dalam air es. Lalu, cetakan botol yang sudah dituang cairan dipindahkan ke dalam lemari es hingga mengeras.

“Jika gagal, atau jika bagian bawah terlalu tipis atau ada lubang di dalamnya, saya panaskan lagi dan menuangkannya kembali ke dalam cetakan,” kata Jónsson, seperti dilansir dari Tech Times.

Jónsson menambahkan, botol akan terus terbentuk jika air masih ada di dalamnya. “Ketika botol air alga dikosongkan, maka akan kehilangan bentuk dan mulai membusuk,” ungkapnya.

Ia menyatakan, air dalam botol alga aman untuk dikonsumsi. Meski memang setelah lama tersimpan dalam botol, ekstrak alga akan mempengaruhi rasa air. “Jika konsumen menyukai rasa alga, mereka bisa dengan segala cara, memakan botol itu setelah mengonsumsi air,” tambahnya.

Baca Juga:  Berapa Persen Kemungkinan Orang Bertahan Hidup Setelah Ditembak di Kepala?

Terobosan botol minum dari alga ini sudah ditampilkan pada pameran Drifting Cycles Student di Reykjavik, Islandia, pada Maret 2016.